Suatu sore disertai hujan, di rumah Kang Bejoi itu ada arisan keluarga. Pukul lima, sang nyonya rumah menawarkan cendol yang lewat di depan rumah kepada tetamu. Ternyata ada yang mau. Kepada suaminya, dia meminta memanggilkan tukang cendol itu.
Dengan berjalan cepat, Kang Bejo menuju halaman rumah dan memanggil tukang cendol. Betapa terkejutnya dia, tukang cendol itu sedang berjalan dari arah kanan menuju ke arah rumahnya. Bukan sedang menjauhi rumahnya. Tidak mungkin si istri mendengar teriakan tukang cendol yang masih jauh dari rumahnya. Dihitung dari selang waktu si istri menawarkan cendol dengan si suami sampai ke gerbang rumah, kira-kira 3 menit. Itu cukup jauh. Dan lagi suara obrolan di dalam rumah ditingkahi gemericiknya hujan membuat suara teriakan tukang cendol hanya terdengar apabila sedang melintas di depan rumah.
Ternyata, teriakan "cendol" yang didengar oleh si istri berasal dari tukang cendol yang berjalan di depan tukang cendol yang dipanggil oleh Kang Bejoi. Para tukang cendol secara bersama-sama tinggal di satu rumah kontrakan. Sore itu, mereka beriringan pulang ke rumah kontrakannya.
Kang Bejo pada mulanya menggugat kejadian tersebut. Mengapa tukang cendol yang sudah berikhtiar (berteriak 'cendol!') tidak mendapatkan hasil dari ikhtiar itu. Sedangkan, tukang cendol yang hanya diam yang mendapatkan hasilnya. Mana kaidah, 'siapa berikhitiar akan memetik hasilnya'. Atau sebaliknya, siapa yang tidak berikhtiar, tidak akan mendapat apa-apa.
Jawabanya, adalah Allah akan memberikan rejeki kepada siapapun yang dikehendakiNya, tanpa ada yang bisa menghalangi ketentuanNya. Allah Maha Besar.
Monday, October 06, 2008
Thursday, October 02, 2008
Lubang Tikus
Hari itu Kang Bejo bersih-bersih halaman samping rumahnya. Halaman sampingnya cukup luas. Di sudut halaman ada gudang seluas kurang lebih 4 m2. Di depan gudang ada dua pohon mangga besar. Berdampingan dengan rumah utama, dan itu berada di seberang gudang, ada tempat nyuci dan setrika pakaian (laudry - bahasa kerennya).
Di sudut laundry, terdapat lubang tikus. Arah lubang tikus mengarah ke bawah bangunan laundry. Kang Bejo masuk ke dalam tempat laundry, dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai yang kira-kira terdapat lubang tikus di bawahnya. Bunyi yang dihasilkannya mengindikasikasikan apabila ada ruang kosong di bawahnya, terdengar bunyi yang bukan keluar dari benda masif.
Bang Bejo memutuskan untuk membongkar lantai tersebut. Ternyata memang benar, terdapat sarang tikus yang cukup untuk didiami 4 ekor tikus besar. Ketika Kang Bejo membongkar lantai tersebut, ada beberapa tikus yang kabur keluar. Setelah merasa cukup membongkar sarang tikus, Kang Bejo menguruknya dengan puing-puing dan menyemen kembali, sehingga lantai kembali seperti sediakala. Legalah Kang Bejo.
Esok harinya, Kang Bejo men-cek tempat yang dulunya menjadi mulut lubang tikus. Ternyata ada bekas-bekas galian di tanah yang belum selesai, tapi arahnya ke lubang semula. Sepertinya tikus-tikus berusaha menggali lubang di tempat semula. Kang Bejo menutup dan meratakan calon lubang dengan tanah kembali. Esok harinya, Kang Bejo mencek kembali. Ajaib. Tikus-tikus berusaha lagi menggali lubang di tempat yang sama. Kang Bejo menutup dan meratakan kembali. Kejadian ini terjadi berulang-ulang hingga seminggu lamanya.
Terbersit pertanyaaan dalam benak Kang Bejo. Ada apa gerangan yang terjadi? Mengapa tikus-tikus itu ngotot menggali lubang menuju sarang yang sekarang sudah dicor. Apakah itu insting tikus untuk menggali lubang di tempat yang sama? Tapi, mengapa sampai seminggu berulang? Pasti ada apa-apa dengan mereka. Ada satu kemungkinan mengerikan yang terlintas dalam benak Kang Bejo. Yaitu, masih ada tikus yang tertinggal di sarang lubang yang pernah dicor beberapa hari lalu. Jangan-jangan menutup sarangnya tidak sempurna, sehingga masih ada ruangan yang bisa buat sembunyi tikus. Tetapi lubang untuk keluarnya sudah tertutup rapat dengan cor-coran. Akhirnya, tikus terjebak di bawah lantai laundry dan tidak bisa keluar. Teman-temannya selama berhari-hari berusaha menyelamatkannya dengan membuat lubang di tanah untuk menembus dan mengeluarkan temannya. Tetapi, Kang Bejo merusaha menggagalkan usaha penyelamatannya tersebut. Kang Bejo gelisah memikirkan kemungkinan tersebut. Dia membayangkan kengerian yang dialami oleh tikus yang terjebak di bawah lantai dan tidak berdaya, hanya menunggu kematiannya secara pelan-pelan dan sangat menyakitkan. Gelap, tanpa makan dan minum dan tanpa harapan hidup.
Kang Bejo benar-benar dihantui oleh pemikiran tersebut, walaupun teori itu belum tentu benar. Tapi kalau benar? Akhirnya, di hari ke-8, Kang Bejo membiarkan tikus membuat lubang yang akan menembus ke bawah lantai laundry. Hari ke-9, lubang tersebut sudah terlihat mengarah ke bawah lantai. Hari ke-10, Kang Bejo berteori, tikus yang selama diduga terjebak di bawah lantai sudah berhasil keluar. Berdasarkan teori tersebut, Kang Bejo menutup kembali mulut lubang dengan tanah dan disiram dengan air agar nantinya benar-benar tertutup. Hari ke-11, Kang Bejo mencek tempat itu. Ajaib! lubang sudang tidak ada lagi.
Di sudut laundry, terdapat lubang tikus. Arah lubang tikus mengarah ke bawah bangunan laundry. Kang Bejo masuk ke dalam tempat laundry, dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai yang kira-kira terdapat lubang tikus di bawahnya. Bunyi yang dihasilkannya mengindikasikasikan apabila ada ruang kosong di bawahnya, terdengar bunyi yang bukan keluar dari benda masif.
Bang Bejo memutuskan untuk membongkar lantai tersebut. Ternyata memang benar, terdapat sarang tikus yang cukup untuk didiami 4 ekor tikus besar. Ketika Kang Bejo membongkar lantai tersebut, ada beberapa tikus yang kabur keluar. Setelah merasa cukup membongkar sarang tikus, Kang Bejo menguruknya dengan puing-puing dan menyemen kembali, sehingga lantai kembali seperti sediakala. Legalah Kang Bejo.
Esok harinya, Kang Bejo men-cek tempat yang dulunya menjadi mulut lubang tikus. Ternyata ada bekas-bekas galian di tanah yang belum selesai, tapi arahnya ke lubang semula. Sepertinya tikus-tikus berusaha menggali lubang di tempat semula. Kang Bejo menutup dan meratakan calon lubang dengan tanah kembali. Esok harinya, Kang Bejo mencek kembali. Ajaib. Tikus-tikus berusaha lagi menggali lubang di tempat yang sama. Kang Bejo menutup dan meratakan kembali. Kejadian ini terjadi berulang-ulang hingga seminggu lamanya.
Terbersit pertanyaaan dalam benak Kang Bejo. Ada apa gerangan yang terjadi? Mengapa tikus-tikus itu ngotot menggali lubang menuju sarang yang sekarang sudah dicor. Apakah itu insting tikus untuk menggali lubang di tempat yang sama? Tapi, mengapa sampai seminggu berulang? Pasti ada apa-apa dengan mereka. Ada satu kemungkinan mengerikan yang terlintas dalam benak Kang Bejo. Yaitu, masih ada tikus yang tertinggal di sarang lubang yang pernah dicor beberapa hari lalu. Jangan-jangan menutup sarangnya tidak sempurna, sehingga masih ada ruangan yang bisa buat sembunyi tikus. Tetapi lubang untuk keluarnya sudah tertutup rapat dengan cor-coran. Akhirnya, tikus terjebak di bawah lantai laundry dan tidak bisa keluar. Teman-temannya selama berhari-hari berusaha menyelamatkannya dengan membuat lubang di tanah untuk menembus dan mengeluarkan temannya. Tetapi, Kang Bejo merusaha menggagalkan usaha penyelamatannya tersebut. Kang Bejo gelisah memikirkan kemungkinan tersebut. Dia membayangkan kengerian yang dialami oleh tikus yang terjebak di bawah lantai dan tidak berdaya, hanya menunggu kematiannya secara pelan-pelan dan sangat menyakitkan. Gelap, tanpa makan dan minum dan tanpa harapan hidup.
Kang Bejo benar-benar dihantui oleh pemikiran tersebut, walaupun teori itu belum tentu benar. Tapi kalau benar? Akhirnya, di hari ke-8, Kang Bejo membiarkan tikus membuat lubang yang akan menembus ke bawah lantai laundry. Hari ke-9, lubang tersebut sudah terlihat mengarah ke bawah lantai. Hari ke-10, Kang Bejo berteori, tikus yang selama diduga terjebak di bawah lantai sudah berhasil keluar. Berdasarkan teori tersebut, Kang Bejo menutup kembali mulut lubang dengan tanah dan disiram dengan air agar nantinya benar-benar tertutup. Hari ke-11, Kang Bejo mencek tempat itu. Ajaib! lubang sudang tidak ada lagi.
Tuesday, July 15, 2008
Gerobak Sampah Di Depan Rumah
Di depan rumah Kang Bejo ada sebidang tanah yang cukup luas. Di dalamnya terdapat pohon mangga yang besar. Hampir setiap hari beberapa gerobak pemulung parkir di bawah pohon tersebut. Para pemulung kemudian meninggalkan gerobak-gerobak tersebut. Mereka memulung barang bekas dengan menggunakan kantong plastik besar yang panggulnya. Sore hari pemulung kembali ke gerobaknya dan memuat hasil pulunganya kedalamnya. Begitu setiap harinya.
Setiap Kang Bejo keluar rumah, gerobak-gerobak kumal tersebut terlihat nyata. Lingkungan jadi terkesan kumuh. Rumah Kang Bejo relatif megah di antara rumah-rumah di sekitarnya. Dengan halaman yang luas, di garasinya parkir sedan tahun 2000. Merasa termasuk golongan menengah ke atas, pemandangan gerobak-gerobak pemulung kadang-kadang mengusik pikirannya. Tidak bisa dibiarkan berlanjut.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Lapor ke RT untuk memindahkan tempat parkir gerobaknya dengan alasan keamanan dan keindahan lingkungan. Cara kedua, menyemen area di bawah pohon mangga agar para pemulung sungkan memarkirkan gerobaknya. Atau, sedikit bersusah payah yaitu setiap hari sebelum para pemulung datang, Kang Bejo akan memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga.
Berhari-hari Kang Bejo memikirkan cara yang akan ditempuhnya. Ada cara lain yang dianggap lebih elegan, yaitu selain menyemen area 'parkir gerobak' ditambah lagi dengan menempatkan ayunan sehingga terkesan Kang Bejo berjiwa sosial. Cara ini digagalkan sendiri karena niatnya bukan sosial, tapi ingin mengusir para pemulung.
Berangkat dari gugatan terhadap niat mengusir para pemulung. Pikiran Kang Bejo justru dihadapkan pada gugatan terhadap hak Kang Bejo untuk mencegah para pemulung memarkir gerobak di depan rumahnya.Apa hak Kang Bejo terhadap sebidang tanah di depannya? Tanah itu bukan miliknya. Apa Kang Bejo punya privellege untuk mengusir mereka? Apakah keindahan lingkungan terganggu dengan kehadiran mereka?. Ada satu yang paling mengusik Kang Bejo. Ini kan bumi Allah, rumah yang dia diami sekarang ini hanya numpang di tanahnya Allah.
Ah, biarkan sajalah para pemulung itu mencari nafkah di bumi Allah. Bukannya membantu mereka keluar dari kemiskinan, malah akan menzalimi mereka. Alangkah berdosanya dia.
Setiap Kang Bejo keluar rumah, gerobak-gerobak kumal tersebut terlihat nyata. Lingkungan jadi terkesan kumuh. Rumah Kang Bejo relatif megah di antara rumah-rumah di sekitarnya. Dengan halaman yang luas, di garasinya parkir sedan tahun 2000. Merasa termasuk golongan menengah ke atas, pemandangan gerobak-gerobak pemulung kadang-kadang mengusik pikirannya. Tidak bisa dibiarkan berlanjut.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Lapor ke RT untuk memindahkan tempat parkir gerobaknya dengan alasan keamanan dan keindahan lingkungan. Cara kedua, menyemen area di bawah pohon mangga agar para pemulung sungkan memarkirkan gerobaknya. Atau, sedikit bersusah payah yaitu setiap hari sebelum para pemulung datang, Kang Bejo akan memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga.
Berhari-hari Kang Bejo memikirkan cara yang akan ditempuhnya. Ada cara lain yang dianggap lebih elegan, yaitu selain menyemen area 'parkir gerobak' ditambah lagi dengan menempatkan ayunan sehingga terkesan Kang Bejo berjiwa sosial. Cara ini digagalkan sendiri karena niatnya bukan sosial, tapi ingin mengusir para pemulung.
Berangkat dari gugatan terhadap niat mengusir para pemulung. Pikiran Kang Bejo justru dihadapkan pada gugatan terhadap hak Kang Bejo untuk mencegah para pemulung memarkir gerobak di depan rumahnya.Apa hak Kang Bejo terhadap sebidang tanah di depannya? Tanah itu bukan miliknya. Apa Kang Bejo punya privellege untuk mengusir mereka? Apakah keindahan lingkungan terganggu dengan kehadiran mereka?. Ada satu yang paling mengusik Kang Bejo. Ini kan bumi Allah, rumah yang dia diami sekarang ini hanya numpang di tanahnya Allah.
Ah, biarkan sajalah para pemulung itu mencari nafkah di bumi Allah. Bukannya membantu mereka keluar dari kemiskinan, malah akan menzalimi mereka. Alangkah berdosanya dia.
Wednesday, June 18, 2008
Nyamuk (2)
Tanggal 30 Mei adalah hari ulang tahun mertuanya Kang Bejo. Yu Bejo berkeinginan merayakannya dengan mengundang sanak saudara ke rumahnya untuk makan bersama. Selama 2 hari, Kang Bejo sibuk membenahi dan membersihkan rumah. Dia panggil tukang kebun untuk membersihkan halaman dari rumput liar. Dia panggil jasa sedot tinja untuk mengosongkan septic tank sebagai antisipasi jangan sampai ketika rumahnya didatangi sekitar 50 orang, septic tank-nya penuh. Dia ganti lampu yang selama ini dibiarkan mati untuk menghemat listrik. Dia bersihkan jendela/pintu dan kusennya dari debu yang lumayan tebal.
Untuk membersihkan kamar mandi, Kang Bejo menaruh perhatian khusus. Dia termakan prinsip 'yang lain boleh kotor, tapi kamar mandi haruslah bersih'. Dia kuras bak mandi. Noda di bak tidak bisa dibersihkan hanya dengan mengelapnya. Tapi harus diamplas dengan amplas air. Klosetpun dia amplas sehingga bercak-bercak noda bisa terkelupas.
Akhir-akhir ini, di tembok kamar mandinya hinggap beberapa ekor (seperti) nyamuk yang bersayap lebar (bukan nyamuk biasa pembawa malaria atau demam berdarah). Kang Bejo terusik dengan kehadiran nyamuk-nyamuk tersebut. Memalukan. Kang Bejo berpikir nyamuk ini harus dienyahkan dari kamar mandi. Yang dia lakukan adalah membuka pintu kamar mandi dan mengusirnya dengan mengibas-ngibaskan koran. Nyamuk beterbangan keluar kamar mandi. Kang Bejo merasa lega. Sore harinya, ketika mau mandi Kang Bejo melihat lagi 3 ekor nyamuk itu sudah hinggap di tembok kamar mandi. Ini tidak bisa dibiarkan. Nyamuk-nyamuk harus dienyahkan selamanya dengan semprotan serangga.
Namun, kesadaran ilahiah Kang Bejo menelusup dalam aliran pikirannya. Alangkah kejamnya membunuh nyamuk karena malu terhadap manusia. Betapa berdosanya karena tidak mengindahan Allah hanya karena ingin dipuji manusia bahwa kamar mandinya bersih. Betapa naifnya, mengabaikan kemurkaan Allah karena membunuh nyamuk yang tidak berbahaya hanya karena mengharapkan pujian (itupun belum tentu) dari manusia.
Akhirnya, nyamuk-nyamuk itu dibiarkan hinggap di tembok kamar mandinya. Masa bodo dengan saudara-saudaranya. Toh, belum tentunya juga mereka akan mencela atau protes (diam-diam atau terang-teranganya) kepada Kang Bejo.
Untuk membersihkan kamar mandi, Kang Bejo menaruh perhatian khusus. Dia termakan prinsip 'yang lain boleh kotor, tapi kamar mandi haruslah bersih'. Dia kuras bak mandi. Noda di bak tidak bisa dibersihkan hanya dengan mengelapnya. Tapi harus diamplas dengan amplas air. Klosetpun dia amplas sehingga bercak-bercak noda bisa terkelupas.
Akhir-akhir ini, di tembok kamar mandinya hinggap beberapa ekor (seperti) nyamuk yang bersayap lebar (bukan nyamuk biasa pembawa malaria atau demam berdarah). Kang Bejo terusik dengan kehadiran nyamuk-nyamuk tersebut. Memalukan. Kang Bejo berpikir nyamuk ini harus dienyahkan dari kamar mandi. Yang dia lakukan adalah membuka pintu kamar mandi dan mengusirnya dengan mengibas-ngibaskan koran. Nyamuk beterbangan keluar kamar mandi. Kang Bejo merasa lega. Sore harinya, ketika mau mandi Kang Bejo melihat lagi 3 ekor nyamuk itu sudah hinggap di tembok kamar mandi. Ini tidak bisa dibiarkan. Nyamuk-nyamuk harus dienyahkan selamanya dengan semprotan serangga.
Namun, kesadaran ilahiah Kang Bejo menelusup dalam aliran pikirannya. Alangkah kejamnya membunuh nyamuk karena malu terhadap manusia. Betapa berdosanya karena tidak mengindahan Allah hanya karena ingin dipuji manusia bahwa kamar mandinya bersih. Betapa naifnya, mengabaikan kemurkaan Allah karena membunuh nyamuk yang tidak berbahaya hanya karena mengharapkan pujian (itupun belum tentu) dari manusia.
Akhirnya, nyamuk-nyamuk itu dibiarkan hinggap di tembok kamar mandinya. Masa bodo dengan saudara-saudaranya. Toh, belum tentunya juga mereka akan mencela atau protes (diam-diam atau terang-teranganya) kepada Kang Bejo.
Subscribe to:
Posts (Atom)
