Monday, March 02, 2009

Allah atau Kucing?

Adzan Isyak sudah berkumandang. Kang Bejo sudah ada di rumah dan bersiap-siap akan mengambil air wudlu. Namun, ketiga kucingnya, Obi, Uyip dan Ucrit 'meong-meong' dengan ributnya minta makan. Hari itu, Kang Bejo memang agak malas memberi makanan kesukaan mereka, yaitu nasi diaduk dengan ikan. Kang Bejo hanya memberi makan mereka dengan makanan instan dalam kaleng yang dibeli di supermarket.

Ketiga kucingnya selama ini tetap minta makanan kesukaannya walaupun sudah diberi makan dengan makanan instan tersebut. Ketiga kuncingnya memang kurang bersemangat makan apabila diberi makanan kaleng. Mereka terlihat masih kelaparan.

Mana yang duluan dikerjakan, shalat terlebih dahulu atau memberi makan kucing? Niat Kang Bejo saat itu untuk shalat tepat waktu sedang menggebu-gebu. Kalau kemudian niat itu terlantar hanya karena memberi makan kucing alangkah ruginya, pikir Kang Bejo. Namun, mengerjakan shalat terlebih dulu baru memberi makan kucing, mencuatkan problem tersendiri. Pastilah ketiga kucingnya akan 'berisik' minta makan. Ini sangat berpotensi mengganggu kekhusukan shalatnya.

Apabila memberi makan kucing terlebih dahulu baru mengerjakan shalat, masak sih Allah kalah sama makhluknya, masak sih kucing lebih penting dari Allah. Allah pasti senang melihat Kang Bejo mendahulukan kepentinganNya daripada kepentingan tiga ekor kucing. Apalagi Kang Bejo bukannya belum memberi makan mereka. Kang Bejo sudah memberi makan. Hanya saja, mereka masih belum begitu kenyang.

Apabila memberi makan kucing terlebih dahulu baru mengerjakan shalat, ketepatan waktu shalat akan berkurang beberapa menit. Itu akan mengusik Kang Bejo. Kang Bejo sedang berusaha mati-matian untuk selalu tepat waktu dalam mengerjakan shalat. Apalagi sedang sudah berada di rumah. Memang ketika adzan berkumandang, Kang Bejo sedang menyelesaikan penyusunan proposal bisnisnya yang cukup penting. Kang Bejo menghentikan pekerjaan itu dan beranjak untuk mengambil air wudlu. Alangkah ruginya apabila dia menghentikan pekerjaan pentingya demi memenuhi ketepatan waktu shalat, tapi kemudian malah memberi makan kucing dan ketepatan waktu shalat menjadi batal.

Kang Bejo mencoba berempati dengan Allah. Seandainya dia ditempat Allah, mana yang lebih disenangi melihat Kang Bejo shalat tepat waktu dan menunda memberi makan kucing barang sesaat, atau memberi makan kucing dulu paling lama 10 menit baru shalat. Kang Bejo merasa lebih senang kepada pilihan pertama, shalat dulu baru memberi makan kucing. Sesaat Kang Bejo sadar, 'kesenangan' itu kan karena nafsu yang berbicara. Nafsu yang senang akan kehormatan, nafsu penghambaan dari pihak lain dan nafsu berkuasa.

Kang Bejo akhirnya memutuskan untuk memberi makan kucing dulu sebelum mengerjakan shalat. Ini berdasarkan pertimbangan pemahaman 'jalanan pikiran' Allah ketika Dia melihat dilema Kang Bejo. Allah pastilah senang melihat hambanya yang sedang belajar menerjemahkan sifat rahman dan rahim dalam konteks kemakhlukan.

Menurut Kang Bejo, rahman dan rahim Allah itu meliputi segenap alam semesta secara adil dan terintegrasi. Sifat rahman dan rahim Allah tidak dipenggal-penggal dalam potongan-potongan yang dikemudian dibagi-bagi kepada makhluk-makhluknya. Jadi, apabila Kang Bejo memberi makan kucing dulu Allah tidak akan marah karena merasa 'dinomorduakan'. Sebenarnya istilah 'merasa' tidak tepat, karena Allah pastilah tidak punya hati karena Dia bukan makhluk.

Pastilah Allah senang melihat Kang Bejo menjadi wakilNya di bumi ketika menghadapi makhluk lainnya yang sedang mengharapkan bantuan. Pastilah Allah tersenyum melihat Kang Bejo menghadapi dilema yang pilihan-pilihan adalah semuanya baik, mengerjakan shalat atau memberi makan kucing. Bukan dilema antara pilihan baik dan pilihan maksiat.

Sunday, March 01, 2009

Al-Quran Yang Tercabik

Di bagian samping rumah Kang Bejo ada satu pendopo yang sekaligus digunakan sebagai musholla keluarga. Di sudut depan kiri ada sebuah perangkat kayu yang berfungsi sebagai penyangga Al-Quran. Dengan perangkat tersebut, apabila orang akan membaca Al-Quran tidak perlu memegangnya, cukup ditaruh di atasnya. Ada Al-Quran ditaruh diatasnya dengan halaman terbuka.

Suatu Subuh, Kang Bejo sholat di ruangan itu. Ketika rakaat pertama, Uyip - kucing kecil milik keluarga Kang Bejo - berkeliaran di sekitarnya. Umur Uyip sekitar 6 bulan, umur yang kalau dalam dunia manusia termasuk 'sedang lucu-lucunya'. Sesekali berlari kencang dari belakang ke depan. Sesekali Uyip berguling-guling di lantai. Karena sudah terbiasa, Kang Bejo merasa tidak terganggu shalatnya dengan kehadiran Uyip di sekitarnya.

Namun, konsentrasi Kang Bejo mulai terusik ketika Uyip mendekati Al-Quran di sudut ruangan itu. Uyip mulai menunjukkan indikasi kalau dia mau membuat ulah terhadap Al-Quran itu. Kaki Uyip mulai menyentuh Al-Quran. Kekhusukan shalat Kang Bejo makin tergerus. Kang Bejo berusaha keras tetap khusuk. Bagaimanapun, selama dalam alam sadar manusia mustahil mampu menghentikan lontaran-lontaran pikiran dalam otaknya. Meskipun berusaha mati-matian untuk mengabaikan Uyip yang bertingkah di depannya, namun tetap saja ada pikiran yang bocor keluar dari konteks shalat.

Akhirnya, yang dikhawatirkan Kang Bejo terjadi. Uyip mulai memainkan Al-Quran tersebut. Beberapa detik tidak menimbulkan masalah. Uyip terus saja bermain-main dengan Al-Quran. Kali ini berakibat fatal. Kuku kaki Uyip mulai menyabik-nyabik Al-Quran. Ada satu halaman yang robek.

Kebimbangan merasuki pikiran Kang Bejo, mau meneruskan shalat atau membatalkannya untuk mengamankan Al-Quran dari 'penjarahan' Si Uyip. Kang Bejo tetap meneruskan shalatnya.

Selesai berdoa usai shalat, Kang Bejo penasaran, Surat apa yang tadi dicabik-cabik oleh Uyip. Jangan-jangan ada isyarat khusus dari Allah. Suratnya adalah Al-Hajj. Ayat demi ayat ditelusurinya. Tidak mudah menemukan kaitannya.

Sampailah Kang Bejo pada ayat ke 16. "Dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki". Yang jadi masalah petunjuk apa yang harus dipahami Kang Bejo. Apakah Allah hanya sekedar ingin mengingatkan jangan sekali-kali menelantarkan Si Uyip. Kalau itu, sepertinya bukan. Karena Si Uyip bagi Kang Bejo dan keluarga sudah dianggap anak bungsunya. Malah kalau boleh, akan dicantumkan dalam Kartu Keluarga. Pasti bukan itu. Atau Kang Bejo sedang diuji kualitas kekhusukannya ketika shalat. Ini mugkin saja.

Bolak-bolak pikiran Kang Bejo mencoba memaknai peristiwa itu. Kang Bejo tersentak luar biasa ketika sadar bahwa selama ini Al-Quran itu hanya teronggok di sudut kiri depan musholla dengan halaman terbuka. Jangankan dibaca, disentuh pun jarang. Al-Quran hanya berfungsi sebagai hiasan semata, hanya sekedar menambah atribut 'kesalehan' keluarga secara semu. Seolah-olah dengan menaruh Al-Quran kesalehan menjadi bertambah.

Maha Suci Allah yang Maha Pemberi Petunjuk.