Tuesday, May 19, 2009
Ulat (2)
Ajaib!. Pohon kamboja yang dua bulan lalu gundul, habis daunnya karena dimakan ulat, kini mulai bertunas. Walaupun masih masih sangat kecil tunasnya, namun tanda-tanda kehidupan mulai menyeruak.
Kang Bejo memandangi pohon itu dengan seksama. Dua bulan lalu, ulat telah menghabiskan daun pohon kamboja hingga tinggal batangnya. Ternyata, selama dua bulan ini pohon tersebut memproses elemen kehidupannya sehingga mampu meregerasi dan melanjutkan proses kehidupannya. Selama dua bulan ini, pohon tersebut mampu merespon tabiat alam semesta secara arif, yaitu rela memberikan yang terbaik untuk keberlangsungan hidup makhluk lain.
Kang Bejo makin takjub ketika memandang ke pohon di sebelahnya dimana dulu dia meletakkan ulat yang semula akan dibuangnya ke tempat sampah. Tidak ada satupun daun yang dimakan oleh ulat. Dan ulatpun sudah tidak ada, pastilah sudah menjadi kupu-kupu dan terbang entah kemana.
Apa yang membuat Kang Bejo takjub adalah bahwa alam semesta punya takaran dengan presisi tinggi agar keseimbangannya berjalan dalam harmoni. Ketika ulat sudah cukup makan, maka di akan segera bermetamorfosa menjadi kupu, tidak pernah kemudian berlama-lama menjadi ulat yang akan memakan dedauan. Dengan takaran tersebut, maka pohon kamboja terjaga dari kepunahan, ulat dapat melanjutkan etape kehidupannya, dan kupu-kupu 'tercipta' untuk menyerbuk bunga-bunga.
Begitulah harmoni orkestra alam semesta di bawah dirijen Sang Maha Pengatur.
Monday, May 18, 2009
Ulat (1)
Ada belasan tanaman bunga kamboja yang ditanam Kang Bejo di pot-pot. Hampir semuanya ada bunganya, ada yang merah, ada yang putih ada yang pink.
Ada satu tanaman yang tidak ada daunnya, apalagi bunganya. Tinggal batang yang tegak di atas pot. Kang Bejo menghampiri pot tersebut. Ternyata, di batang pohon kamboja, ada dua ekor ulat bulu yang bertengger.
Kang Bejo mencari barang untuk mengambil ulat-ulat tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Ditemukannya sepotong ranting pohon sawo di tanah. Kang Bejo berusaha melepaskan pegangan ulat pada pohon kamboja dengan ranting tersebut.Berhasil.
Ketika Kang Bejo membuka tutup tempat sampah untuk membuang ulat tersebut, terlihat aneka macam sampah didalamnya. Ada sampah dapur berupa makanan basi, ada sampah kantong-kontong plastik, ada bekas kelupasan cat tembok dan beraneka macam sampah lainnya.
Kang Bejo ragu-ragu membuang ulat tersebut ke dalam tempat sampah karena Kang Bejo yakin bahwa ulat tersebut akan mati pelan-pelan di lingkungnya yang baginya sangat ganas. Ulat adalah binatang yang hanya hidup dengan memakan dedaunan. Itupun tidak semua daun pohon cocok untuk makanannnya. Hanya daun tertentu yang cocok.
"Ah, kenapa aku memikirkan kelangsungan kehidupan ulat. Toh dia sudah menghabiskan daun pohon kambojaku", pikir Kang Bejo."Itu kan hanyalah seekor ulat yang menjijikannya", sambung Kang Bejo. Yang lebih provokatif lagi adalah lintasan pikiran dalam benak Kang Bejo sebagai berikut:"Sok tahu kamu memastikan bahwa ulat tersebut akan mati di tempat sampah". Dan, "Kamu kan tidak membunuhnya, hanya membuangnya, jadi tidak apa-apa".
Beberapa saat Kang Bejo ragu. Namun,akhirnya Kang Bejo membawa ulat tersebut ke salah satu pot tanaman Kamboja. Di letakknya ulat itu di atas daun.
Biarlah ulat melanjutkan kehidupannya dengan nyaman. Toh dia pasti sudah kenyang karena telah menghabiskan daun satu pohon. Sebentar lagi ulat akan bermetamorfosa menjadi kempompong yang selanjutnya akan menjadi seekor kupu-kupu.
Thursday, May 14, 2009
Menawar Shalat
Pukul 10 malam, proposal selesai dikerjakan. Hari itu, badan terasa letih sekali. Kang Bejo hari itu berangkat ke Yogya dengan pesawat pukul 7 pagi. Dari rumahnya ke bandara memerlukan waktu 2 hingga 2.5 jam, sehingga Kang Bejo sudah harus bangun pukul 4 dini hari .
Saat di Yogyakarta, Kang Bejo sudah ditunggu oleh rapat yang cukup melelahkan fisik dan mental. Karena padatnya acara, makan siang sampai terlewatkan. Pukul 3 sore Kang Bejo sudah meluncur ke Bandara Adi Sucipto untuk pulang ke Jakarta. Alhasil, dia tidak sempat istirahat barang sejenak pun.
Dari kantornya, usai menyelesaikan proposal Kang Bejo pulang ke rumah. Tiba di rumah pukul 12.00 karena lalu lintas ternyata padat.
Badan Kang Bejo benar-benar letih, dengan usia yang mendekati kepala lima, stamina Kang Bejo mudah merosot. Mata juga terasa mengantuk sekali. Kang Bejo melepas lelah sejenak di sofa ruang tengah. Dia belum mengerjakan shalat Isya'. Rasanya berat sekai untuk mengerjakannya.
Hatinya berbisik, 'Ya Allah boleh tidak aku tidak mengerjakan shalat Isya'. 'Bukan karena aku membangkang perintahMu Ya Allah, ini semata-mata karena badanku benar-benar tidak berdaya' bisiknya dalam hati. 'Toh, Engkau juga sudah pasti tahu persis bagaimana kondisi badanku' Kang Bejo melanjutkan rajukan kepadaNya.'Masak sih nggak boleh, Ya Allah'. Kang Bejo mencoba terus beragumentasi.
Kang Bejo membiarkan pikirannya menjalar kemana-mana dulu. Kang Bejo banyak menemukan 'pembenaran' terhadap kemalasan mengerjakan shalat. Mulai dari "sesekali kan boleh", "masak sih Allah tidak mengerti kondisi badanya yang amat sangat letih", sampai "Allah kan Maha Penyayang, pasti membolehkan".
Akhirnya, Kang Bejo merasa 'menemukan' jawaban dari Allah. Kang Bejo disadarkan oleh kesadaran bahwa dia sekarang dalam keadaan sehat wal'afiat, hanya saja saat ini badannya benar-benar letih. Letih bukanlah sakit. Masak hanya karena letih terus memalingkannya dari ibadah kepadaNya. Bagaimana nanti kalau tubuhnya sakit. Bagaimana nanti kalau kesehatannya mulai diambil olehNya. Akan makin malas menghadap Dia dengan alasan sakit. Baru segini saja sudah mengajukan keringanan dalam beribadah, yang seberarnya tidak berat-berat amat.
Kang Bejo akhirnya bangkit dari sofa menuju kamar mandi dan mandi air hangat. Betapa siraman air dari shower mampu menyegarkan badan dan kalbu pun mulai tercerahkan.
Tepat lonceng jam berbunyi sekali yang menandakan hari sudah pukul 1 dini hari, Kang Bejo mengucapkan takbirotul ikhram rakaat pertama shalat Isya'.
Saturday, May 02, 2009
Tukang Minuman Di Kuburan
Siang itu Kang Bejo melayat ke kuburan di Jalan Casablanka Jakarta Selatan. Ada kerabatnya yang meninggal akibat sakit gula.
Siang yang terik membuat para pelayat tersengat haus. Di jalan antara dua blok pemakaman ada seorang laki tua yang mendorong gerobak minuman dalam kemasan. Ada air dalam kemasan, teh botol, minuman berelektrolit, minuman bersoda dan minuman energi.
Kang Bejo membeli sebotol minuman dan dengan cepat menengguknya hingga habis.
Setelah membayar, Kang Bejo merasakan ada pikiran yang mengusiknya yaitu ihwal rejeki.
Ini kan di kuburan, salah satu tempat yang paling dihindari manusia. Tempat dimana manusia merasakan kengerian akan ketidakpastian 'masa depan', tempat dimana manusia mengganggap disinilah segala-galanya berakhir. Tempat dimana manusia menganggap sebagai serba kelam. Pokoknya,kuburan adalah tempat dimana segala kehidupan di dunia berakhir.
Kang Bejo semula menganggap hal itu hanyalah sebuah mekanisme supply and demand sederhana. Ada permintaan (dari pengunjung kuburan), maka ada penawaran (dari penjual minuman).
Namun, di balik penggalan kehidupan lelaki tua penjual minuman itu, Kang Bejo memahaminya sebagai sebuah kesadaran ruhani yang dalam akan esensi dan ihwal rejeki.
Jangankan di tempat yang masih 'hidup', di tempat kematianpun Allah tidak segan-segan menebarkan rejekinya. Kasih sayang Allah meliputi setiap jengkal alam di jagat semesta ini.
Sambil beranjak menuju pintu keluar tempat pemakaman, Kang Bejo melihat beberapa orang sedang membersihkan rumput liar dan semak yang mengelilingi sebuah pusara. Dari penampilannya, Kang Bejo bisa memastikan bahwa mereka bukanlah kerabat orang yang dikubur di pusara itu. Mereka pastilah sekumpulan 'profesional' yang mendapatkan upah dari kerja mereka membersihkan pusara tersebut. Lagi-lagi, pemandangan ini makin membuat Kang Bejo makin yakin bahwa Allah mennebarkan rejeki bagi umatNya di setiap sudut dunia. Tinggal bagaimana manusia menggapainya.
Tidak sampai disitu saja, Kang Bejo teringat pada orang-orang yang tadi berdoa di samping makam kerabatnya beberapa saat setelah jenazah selesai dimakamkan. Orang-orang itu juga merupakan sekumpulan 'profesional' yang mendapatkan penghasilan dari 'seremoni doa'.
Kang Bejo membayangkan Allah tersenyum melihat para pendoa 'menjual' hak CiptaNya berupa doa tanpa membayar royalty sedikitpun kepada pemilik doa yaitu Allah. Kang Bejo membayangkan Allah bertitah kepada malaikat agar apabila di dalam hati para pendoa itu ada sebersit nawaitu (niat) beramal, maka berilah bonus pahala.
