Hari Jumat Pukul 2 siang menjelang pintu tol Tebet, Jakarta Selatan.
Siang itu Kang Bejo menuju kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Dia sudah janji menerima tamu pukul 3 siang. Dengan asumsi bahwa hari ini dan waktu itu lalu lintasnya tidak padat, maka perhitungan Kang Bejo adalah sejam sampai di kantornya.
Seratus meter menjelang pintu tol, Kang Bejo sudah mulai mengambil jalur kanan, jalur kendaraan untuk masuk tol. Kang Bejo mengambil uang yg ada disamping kiri jok, hanya 4000 ribu rupiah, kurang seribu lima ratus.
Dia ingat di dompet ada selembar sepuluh ribu. Tetapi, ternyata tidak ada, padahal beberapa meter lagi sudah pintu tol. Kang Bejo mulai panik. Karena kalau tidak masuk tol, waktu tempuh bisa bertambah setengah jam, artinya akan terlambat setengah jam juga.
Apa boleh buat. Akhirnya, Kang Bejo urung masuk jalan tol dan terpaksa lewat jalan arteri. Sambil mengemudi dia mengingat-ingat kemana lembaran sepuluh ribu tadi. Dia ingat betul, ketika Jumatan di dompetnya ada selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu rupiah. Lembar lima ribu dimasukkan ke kotak amal Jumatan.
Kang Bejo bermaksud mampir ke ATM agar bisa memasuki jalan tol melalui pintu tol berikutnya yaitu setelah perempatan kuningan.
Menjelang lampu lalu lintas Pancoran, Kang Bejo barulah teringat kalau dia tadi telah membeli minuman dingin seharga dua ribu. Dan teringat pula uang kembaliannya dimasukkan ke dalam kantong celananya. Benar juga, ketika Kang Bejo merogoh kantong celananya menemukan uang delapan ribu. Dengan uang diketemukannya uang itu, Kang Bejo membatalkan mampir ke ATM, toh kalau hanya untuk bayar tol cukup.
Dia sangat menyesali kelupaanya itu. Lupa yg berakibat fatal. Lupa yang bisa mempengaruhi jalan hidupnya. Tamu yang akan diterimanya termasuk penting dan berpotensi menjadi mitra bisnis yg besar. Sang tamu bisa membatalkan rencana pertemuannya, dan berarti batal juga atau paling tidak dapat menunda rencana kemitraannnya.
Dari mobilnya, Kang Bejo melihat ke arah jalan tol, lalu lintas sangat lancar. Kendaraan dapat melaju dengan kecepatan 60 km per jam.
Sementara di jalur arteri, antrean menjelang lampu merah Pancoran sudah mencapai panjang lebih kurang 200 meter. Kang Bejo mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Setengah jam kemudian, Kang Bejo melewati perempatan Pancoran. Berbekal uang delapan ribu, Kang Bejo masuk jalan tol.
Sial, seratus meter selepas pintu tol, lalu lintas di jalan tol seolah tidak bergerak, macet. Sementara, lalu lintas di jalan arteri justru sebaliknya, lebih lancar.
Kang Bejo makin gelisah. Dengan kondisi lalu lintas seperti ini, sampai kantor bisa pukul 4, artinya terlambat satu jam dari jadwal.
Di dalam mobil yang beringsut meter demi meter, Kang Bejo hanya bisa termenung. Betapa manusia sekali lagi tidak punya daya upaya apapun untuk memastikan apa yang bakal terjadi sedetik di depannya. Betapa manusia sangat rentan dikalahkan oleh kelupaan yang sangat sepele. Betapa manusia akan limbung ketika daya ingatnya diambil beberapa saat. Manusia yang merasa serba tahu ternyata tidak berdaya ketika sebagian kecil ingatannya dibungkam.
Hanya Allah-lah yang tidak pernah lupa sama sekali
Sunday, August 16, 2009
Monday, August 10, 2009
Invite In Blackberry
Suatu malam di beranda samping.
Kang Bejo sedang sendirian. Dia sedang mengecek email-email yang masuk melalui perangkat Personal Data Assistance (PDA) jenis Blackberry.
Perangkat ini dilengkapi dengan fitur untuk melakukan chatting antar sesama pengguna Blackberry melalui jalur Internet. Agar dapat saling chatting, seseorang harus mengundang orang lain dan orang lain itu harus menyetujui undangan tersebut.
Ketika sedang berkutat dengan Blackberrynya, tiba-tiba indikator chattingnya menyala. Ini pertanda ada panggilan masuk. Kang Bejo mengecek panggilan tersebut.
Ternyata panggilan itu adalah permintaan atau undangan dari seseorang yang ditujukan kepada Kang Bejo agar menjadi teman chattingannya. Tetapi, Kang Bejo tidak serta memenuhi permintaannya. Persoalannya adalah yang mengundang menggunakan nama wanita yang tidak dikenalnya.
Pertimbangan Kang Bejo untuk tidak langsung memenuhi permintaan tersebut adalah tidak ingin memulai sesuatu yang berpotensi meracuni hatinya.
Racun yang ditakutinya adalah kalau benar yang mengundang itu seorang wanita dan tidak dikenalnya, maka itu membuka kotak pandora perselingkuhan.
Skenario imajiner bisa seperti berikut ini. Awalnya hanya sekedar bertegur sapa. Berlanjut ke kisah masing-masing kehidupan. Kisah-kisah inipun bisa sampai ke yang sifatnya pribadi. Dilanjutkan dengan saling curhat. Selanjutnya, pertemuan secara fisik pun tinggal selangkah.
Kang Bejo sangat takut akan skenario imajiner yang menari-nari dalam benak Kang Bejo.
Namun, ada sisi lain di hati Kang Bejo menyanggah kekhawatiran bahwa memenuhi undangan itu akan berujung pada perselingkuhan. Bisa jadi ini bisa menjadi titik awal dari suatu bisnis. Apa salahnya sih mengobrol dengan wanita. Apa salahnya berkomunikasi dengan wanita, selama komitmen dengan pasangan tidak luntur.
Satu jam berlalu sejak undangan itu muncul di Blackberry Kang Bejo. Satu jam itu pula Kang Bejo menghentikan kegiatan mengecek emailnya. Kang Bejo memikirkan undangan tersebut dan belum memutuskan apakah menerima atau menolaknya.
Ada satu argumen yang berpihak pada penolakan undangan itu, yaitu bahwa apabila sekali memulai akan sulit menghentikannya.
Argumen lain yang muncul adalah bahwa permintaan itu berasal dari seseorang yang tidak dikenal. Sebuah jebakan psikilogis yang memerangkap dialektika perselingkuhan dan komitmen.
Ada satu hal yang nyata-nyata terasa sudah merasuki pikiran Kang Bejo. Undangan seseorang itu telah menyita waktu, pikiran dan hati Kang Bejo selama satu jam penuh. Ini baru memikirkan apakah akan memenuhi atau menolaknya.
Baru berupa undangan saja sudah menguras sumberdaya ruhani Kang Bejo. Apalagi kalau nantinya jadi berinteraksi. Apakah tidak akan menggerus sumberdaya batiniahnya.
Kang Bejo sedang sendirian. Dia sedang mengecek email-email yang masuk melalui perangkat Personal Data Assistance (PDA) jenis Blackberry.
Perangkat ini dilengkapi dengan fitur untuk melakukan chatting antar sesama pengguna Blackberry melalui jalur Internet. Agar dapat saling chatting, seseorang harus mengundang orang lain dan orang lain itu harus menyetujui undangan tersebut.
Ketika sedang berkutat dengan Blackberrynya, tiba-tiba indikator chattingnya menyala. Ini pertanda ada panggilan masuk. Kang Bejo mengecek panggilan tersebut.
Ternyata panggilan itu adalah permintaan atau undangan dari seseorang yang ditujukan kepada Kang Bejo agar menjadi teman chattingannya. Tetapi, Kang Bejo tidak serta memenuhi permintaannya. Persoalannya adalah yang mengundang menggunakan nama wanita yang tidak dikenalnya.
Pertimbangan Kang Bejo untuk tidak langsung memenuhi permintaan tersebut adalah tidak ingin memulai sesuatu yang berpotensi meracuni hatinya.
Racun yang ditakutinya adalah kalau benar yang mengundang itu seorang wanita dan tidak dikenalnya, maka itu membuka kotak pandora perselingkuhan.
Skenario imajiner bisa seperti berikut ini. Awalnya hanya sekedar bertegur sapa. Berlanjut ke kisah masing-masing kehidupan. Kisah-kisah inipun bisa sampai ke yang sifatnya pribadi. Dilanjutkan dengan saling curhat. Selanjutnya, pertemuan secara fisik pun tinggal selangkah.
Kang Bejo sangat takut akan skenario imajiner yang menari-nari dalam benak Kang Bejo.
Namun, ada sisi lain di hati Kang Bejo menyanggah kekhawatiran bahwa memenuhi undangan itu akan berujung pada perselingkuhan. Bisa jadi ini bisa menjadi titik awal dari suatu bisnis. Apa salahnya sih mengobrol dengan wanita. Apa salahnya berkomunikasi dengan wanita, selama komitmen dengan pasangan tidak luntur.
Satu jam berlalu sejak undangan itu muncul di Blackberry Kang Bejo. Satu jam itu pula Kang Bejo menghentikan kegiatan mengecek emailnya. Kang Bejo memikirkan undangan tersebut dan belum memutuskan apakah menerima atau menolaknya.
Ada satu argumen yang berpihak pada penolakan undangan itu, yaitu bahwa apabila sekali memulai akan sulit menghentikannya.
Argumen lain yang muncul adalah bahwa permintaan itu berasal dari seseorang yang tidak dikenal. Sebuah jebakan psikilogis yang memerangkap dialektika perselingkuhan dan komitmen.
Ada satu hal yang nyata-nyata terasa sudah merasuki pikiran Kang Bejo. Undangan seseorang itu telah menyita waktu, pikiran dan hati Kang Bejo selama satu jam penuh. Ini baru memikirkan apakah akan memenuhi atau menolaknya.
Baru berupa undangan saja sudah menguras sumberdaya ruhani Kang Bejo. Apalagi kalau nantinya jadi berinteraksi. Apakah tidak akan menggerus sumberdaya batiniahnya.
Tuesday, August 04, 2009
Sales
Minggu pagi di rumah.
Pukul 9 pagi Kang Bejo masih berkebun di halaman samping di halaman samping rumah. Kegiatan ini dimulai pukul 6. Lumayan terasa melelahkan setelah 3 jam berkutat dengan aneka pemeliharaan tanaman hias.
Ketika mau bersiap-siap mengakhiri kegiatannya, Kang Bejo mendengar suara permisi dari pintu pagar.
Di depan pintu pagar berdiri dua orang pemuda usia sekitar 23 tahun. Yang satu mengenakan kemeja putih agak lusuh. Sepatunya terlihat tidak pernah disemir. Yang kedua mengenakan pakaian yang tidak lebih baik dari temannya.
Dengan apriori, Kang Bejo menanyakan maksud kedatangannya. Ternyata kedua pemuda itu adalah tenaga penjualan (sales) dari perusahaan peralatan mesin semprot bertekanan tinggi. Peralatan ini bisa digunakan untuk mencuci mobil, karpet, sofa, lantai garasi dan lain-lain.
Ini sudah kesekian kalinya sales datang ke rumah dan menawarkan peralatan sejenis. Dengan kelelahan yang dirasakan, melayani kedua sales ini akan menambah kelelahan, padahal Kang Bejo akan mandi dan segera rebahan di tempat tidur.
Kang Bejo sudah membayangkan betapa nikmatnya setelah mandi, minum teh manis, rebahan di tempat tidur sambil baca koran.
Kang Bejo menolak kedatangan sales tersebut. Kedua sales tidak menyerah begitu saja. Jurus ampuh yang digunakan adalah bahwa mereka hanya perlu kesediaan tuan rumah untuk demo pemakaian peralatan tersebut. Bahwa demo itu bagi mereka adalah plus poin dalam penilaian kinerja mereka di perusahaan.
Permohonan demo ini disampaikan dengan kata akhir bahwa ini kesempatan ini agar dia masih bisa terus bekerja di perusahaan itu.
Kang Bejo sudah hapal dengan jurus ini, karena sales-sales sebelumnya juga mengatakan demikian. Kang Bejo tetap menolak permintaan mereka. Dan berharap mereka segera berlalu.
Sejurus kemudian terlihat raut wajah mereka meredup menandakan kekecewaan yang mendalam. Sejurus itu pula raut wajah itu tertangkap oleh pandangan Kang Bejo.
Kang Bejo tersadar. Betapa beku hatinya apabila tidak meluluskan permintaan mereka yang hanya meminta kesediaannya menyaksikan demo peralatan. Betapa tidak bersyukurnya apabila dengan nikmat yang dianugerahkan menjadi tidak peka terhadap sesama. Betapa pelitnya apabila yang diminta hanyalah waktu yang hanya sekitar 30 menit. Apa susahnya menunda kenikmatan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Toh kenikmatan itupun sebenarnya karena kasih sayang Allah.
Mereka itu susah payah berkeliling komplek untuk menjajagan barang dagangan yang tidak mudah dijual. Langkah pertama mereka adalah memang meminta kesediaan sasaran untuk di-demo-i peralatannya.
Akhirnya, Kang Bejo mempersilahkan mereka melakukan demo peralatan dengan mencuci mobil.
Pukul 9 pagi Kang Bejo masih berkebun di halaman samping di halaman samping rumah. Kegiatan ini dimulai pukul 6. Lumayan terasa melelahkan setelah 3 jam berkutat dengan aneka pemeliharaan tanaman hias.
Ketika mau bersiap-siap mengakhiri kegiatannya, Kang Bejo mendengar suara permisi dari pintu pagar.
Di depan pintu pagar berdiri dua orang pemuda usia sekitar 23 tahun. Yang satu mengenakan kemeja putih agak lusuh. Sepatunya terlihat tidak pernah disemir. Yang kedua mengenakan pakaian yang tidak lebih baik dari temannya.
Dengan apriori, Kang Bejo menanyakan maksud kedatangannya. Ternyata kedua pemuda itu adalah tenaga penjualan (sales) dari perusahaan peralatan mesin semprot bertekanan tinggi. Peralatan ini bisa digunakan untuk mencuci mobil, karpet, sofa, lantai garasi dan lain-lain.
Ini sudah kesekian kalinya sales datang ke rumah dan menawarkan peralatan sejenis. Dengan kelelahan yang dirasakan, melayani kedua sales ini akan menambah kelelahan, padahal Kang Bejo akan mandi dan segera rebahan di tempat tidur.
Kang Bejo sudah membayangkan betapa nikmatnya setelah mandi, minum teh manis, rebahan di tempat tidur sambil baca koran.
Kang Bejo menolak kedatangan sales tersebut. Kedua sales tidak menyerah begitu saja. Jurus ampuh yang digunakan adalah bahwa mereka hanya perlu kesediaan tuan rumah untuk demo pemakaian peralatan tersebut. Bahwa demo itu bagi mereka adalah plus poin dalam penilaian kinerja mereka di perusahaan.
Permohonan demo ini disampaikan dengan kata akhir bahwa ini kesempatan ini agar dia masih bisa terus bekerja di perusahaan itu.
Kang Bejo sudah hapal dengan jurus ini, karena sales-sales sebelumnya juga mengatakan demikian. Kang Bejo tetap menolak permintaan mereka. Dan berharap mereka segera berlalu.
Sejurus kemudian terlihat raut wajah mereka meredup menandakan kekecewaan yang mendalam. Sejurus itu pula raut wajah itu tertangkap oleh pandangan Kang Bejo.
Kang Bejo tersadar. Betapa beku hatinya apabila tidak meluluskan permintaan mereka yang hanya meminta kesediaannya menyaksikan demo peralatan. Betapa tidak bersyukurnya apabila dengan nikmat yang dianugerahkan menjadi tidak peka terhadap sesama. Betapa pelitnya apabila yang diminta hanyalah waktu yang hanya sekitar 30 menit. Apa susahnya menunda kenikmatan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Toh kenikmatan itupun sebenarnya karena kasih sayang Allah.
Mereka itu susah payah berkeliling komplek untuk menjajagan barang dagangan yang tidak mudah dijual. Langkah pertama mereka adalah memang meminta kesediaan sasaran untuk di-demo-i peralatannya.
Akhirnya, Kang Bejo mempersilahkan mereka melakukan demo peralatan dengan mencuci mobil.
Sunday, August 02, 2009
Teh Botol
Hari Minggu pukul 1 siang di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.
Hari itu Kang Bejo mengantar Yu Bejo ke Pasar Jatinegara membeli peralatan dapur.
Pasar Jatinegara adalah pasar tergolong besar yang menyediakan hampir semua kebutuhan hidup manusia. Hampir semua ada.
Kang Bejo tidak mau mengikuti Yu Bejo keliling pasar, gerah dan hiruk pikuk lalu lalang orang. Kang Bejo menunggu di dekat penjual aneka piring dan mangkok.
Setengah jam Kang Bejo menunggu, tenggorokan terasa kering, haus menyerangnya. Sialnya, Kang Bejo tidak mengantongi uang. Sudah menjadi kebiasaan mereka, apabila pergi berduan dompet Kang Bejo dititipkan di tasnya Yu Bejo. Biar aman alasannya.
Kang Bejo memesan teh botol dingin sembari meminta penundaan bayaran sampai Yu Bejo. Karena Kang Bejo memang tidak beranjak dari tempat semula, pedagang minuman dingin tidak khawatir Kang Bejo akan 'melarikan diri'
Tiba-tiba telepon genggam Kang Bejo berdering. Yu Bejo minta Kang Bejo datang ke tempatnya untuk ditunjukki sesuatu. Yu Bejo memang punya kebiasaan apabila pergi berdua dengan Kang Bejo dan ingin membeli sesuatu sering minta pendapat Kang Bejo.
Tanpa sadar Kang Bejo beranjak dari tempatnya dan pergi ke tempat yang dimaksud oleh Yu Bejo.
Selesai urusan belanja, mereka berdua menuju tempat parkir mobil. Beberapa meter menjelang sampai, Kang Bejo baru teringat kalau minumannya belum dibayar.
Kalau kembali ke tempat pedagang minuman, lumayan jauh, panas dan berdesak-desakan.
Namun Kang Bejo tidak berlama-lama berpikir. Dia langsung balik badan kembali ke pedagang minuman untuk membayar.
Selesai membayar, ada rasa lega yang mengalir dalam hati, ada rasa gembira yang merasuk dan ada syukur yang terucap dalam hati.
Hari itu Kang Bejo mengantar Yu Bejo ke Pasar Jatinegara membeli peralatan dapur.
Pasar Jatinegara adalah pasar tergolong besar yang menyediakan hampir semua kebutuhan hidup manusia. Hampir semua ada.
Kang Bejo tidak mau mengikuti Yu Bejo keliling pasar, gerah dan hiruk pikuk lalu lalang orang. Kang Bejo menunggu di dekat penjual aneka piring dan mangkok.
Setengah jam Kang Bejo menunggu, tenggorokan terasa kering, haus menyerangnya. Sialnya, Kang Bejo tidak mengantongi uang. Sudah menjadi kebiasaan mereka, apabila pergi berduan dompet Kang Bejo dititipkan di tasnya Yu Bejo. Biar aman alasannya.
Kang Bejo memesan teh botol dingin sembari meminta penundaan bayaran sampai Yu Bejo. Karena Kang Bejo memang tidak beranjak dari tempat semula, pedagang minuman dingin tidak khawatir Kang Bejo akan 'melarikan diri'
Tiba-tiba telepon genggam Kang Bejo berdering. Yu Bejo minta Kang Bejo datang ke tempatnya untuk ditunjukki sesuatu. Yu Bejo memang punya kebiasaan apabila pergi berdua dengan Kang Bejo dan ingin membeli sesuatu sering minta pendapat Kang Bejo.
Tanpa sadar Kang Bejo beranjak dari tempatnya dan pergi ke tempat yang dimaksud oleh Yu Bejo.
Selesai urusan belanja, mereka berdua menuju tempat parkir mobil. Beberapa meter menjelang sampai, Kang Bejo baru teringat kalau minumannya belum dibayar.
Kalau kembali ke tempat pedagang minuman, lumayan jauh, panas dan berdesak-desakan.
Namun Kang Bejo tidak berlama-lama berpikir. Dia langsung balik badan kembali ke pedagang minuman untuk membayar.
Selesai membayar, ada rasa lega yang mengalir dalam hati, ada rasa gembira yang merasuk dan ada syukur yang terucap dalam hati.
Ganti Pesawat
Restoran Nur Pacific Surabaya, pukul 2 siang.
Hari itu Kang Bejo pergi ke Surabaya untuk urusan bisnis. Berdasarkan perkiraan lamanya urusan, Kang Bejo tidak menginap di Surabaya. Bisa pulang hari itu juga.
Pertemuan bisnis dimulai pukul 10 pagi sampai sekitar pukul 6 sore. Berdasarkan jadwal itu, jadwal penerbangan adalah berangkat pukul 8 pulang pukul 8 malam.
Ternyata urusan selesai lebih cepat yaitu pukul 3 sore. Jangka waktu sampai ke jadwal penerbangan terlalu lama yaitu 5 jam. Sementara, Kang Bejo malas kalau harus jalan-jalan di Surabaya.
Kang Bejo memutuskan untuk ke bandara Juanda dan akan mencari penerbangan yang lebih awal. Kang Bejo berharap tiketnya bisa ditukar.
Sesampainya di bandara Kang Bejo menemui seorang calo tiket untuk menukar penerbangan. Berhasil. Kang Bejo mendapatkan pesawat dari perusahaan penerbangan lain yang akan terbang pada pukul 6 sore. Lumayan mendapatkan keuntungan dua jam lebih cepat dari jadwal semula. Untuk penukaran penerbangan ini Kang Bejo harus merogoh kantong dua ratus lima puluh ribu rupiah.
Ternyata, penerbangan pengganti ini mengalami penundaan selama satu jam. Pukul 7 penumpang boarding. Setelah proses boarding tuntas, ada pengumuman bahwa penerbangan ditunda lagi selama 45 menit. Sehingga, pesawat akan terbang pukul 7.45.
Penundaan masih berlanjut karena selepas pukul 7.30 ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan 3 orang anaknya membatalkan keberangkatannya dan meminta turun dari pesawat. Akibatnya, barang bawaan keluarga tersebut yang sudah terlanjur dimuat di bagasi pesawat harus diturunkan. Ini bukan bukan pekerjaan sebentar karena harus membongkar kargo pesawat.
Alhasil, pesawat mulai menuju landas pacu pada pukul 7.55, hanya selisih lima menit dengan jadwal penerbangan Kang Bejo semula.
Di dalam pesawat, Kang Bejo hanya bisa tersenyum kecut dalam hati. Ah, betapa lemahnya manusia ketika harus berkalkulasi soal kepastian. Tidak usah bicara dalam ukuran tahun, bulan atau hari, bicara dalam ukuran jam pun manusia sama sekali tidak berkutik.
Bahkan dalam ukuran detik pun, manusia tidak punya kuasa sama sekali untuk memastikan apa yang bakal terjadi sedetik kemudian. Sama sekali tidak.
Sambil merapal doa saat pesawat sedang melaju di landas pacu untuk take off, Kang Bejo hanya berucap hanya Engkau Maha Pasti, Engkau tidak akan pernah meleset sepersekian trilyun detik pun. La haula wala kuata illahil'adzim.
Hari itu Kang Bejo pergi ke Surabaya untuk urusan bisnis. Berdasarkan perkiraan lamanya urusan, Kang Bejo tidak menginap di Surabaya. Bisa pulang hari itu juga.
Pertemuan bisnis dimulai pukul 10 pagi sampai sekitar pukul 6 sore. Berdasarkan jadwal itu, jadwal penerbangan adalah berangkat pukul 8 pulang pukul 8 malam.
Ternyata urusan selesai lebih cepat yaitu pukul 3 sore. Jangka waktu sampai ke jadwal penerbangan terlalu lama yaitu 5 jam. Sementara, Kang Bejo malas kalau harus jalan-jalan di Surabaya.
Kang Bejo memutuskan untuk ke bandara Juanda dan akan mencari penerbangan yang lebih awal. Kang Bejo berharap tiketnya bisa ditukar.
Sesampainya di bandara Kang Bejo menemui seorang calo tiket untuk menukar penerbangan. Berhasil. Kang Bejo mendapatkan pesawat dari perusahaan penerbangan lain yang akan terbang pada pukul 6 sore. Lumayan mendapatkan keuntungan dua jam lebih cepat dari jadwal semula. Untuk penukaran penerbangan ini Kang Bejo harus merogoh kantong dua ratus lima puluh ribu rupiah.
Ternyata, penerbangan pengganti ini mengalami penundaan selama satu jam. Pukul 7 penumpang boarding. Setelah proses boarding tuntas, ada pengumuman bahwa penerbangan ditunda lagi selama 45 menit. Sehingga, pesawat akan terbang pukul 7.45.
Penundaan masih berlanjut karena selepas pukul 7.30 ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan 3 orang anaknya membatalkan keberangkatannya dan meminta turun dari pesawat. Akibatnya, barang bawaan keluarga tersebut yang sudah terlanjur dimuat di bagasi pesawat harus diturunkan. Ini bukan bukan pekerjaan sebentar karena harus membongkar kargo pesawat.
Alhasil, pesawat mulai menuju landas pacu pada pukul 7.55, hanya selisih lima menit dengan jadwal penerbangan Kang Bejo semula.
Di dalam pesawat, Kang Bejo hanya bisa tersenyum kecut dalam hati. Ah, betapa lemahnya manusia ketika harus berkalkulasi soal kepastian. Tidak usah bicara dalam ukuran tahun, bulan atau hari, bicara dalam ukuran jam pun manusia sama sekali tidak berkutik.
Bahkan dalam ukuran detik pun, manusia tidak punya kuasa sama sekali untuk memastikan apa yang bakal terjadi sedetik kemudian. Sama sekali tidak.
Sambil merapal doa saat pesawat sedang melaju di landas pacu untuk take off, Kang Bejo hanya berucap hanya Engkau Maha Pasti, Engkau tidak akan pernah meleset sepersekian trilyun detik pun. La haula wala kuata illahil'adzim.
Dhuha
Hotel Melia Purosani, Yogyakarta pukul 8 pagi.
Urusan Kang Bejo di Yogyakarta sudah selesai. Pagi itu dia akan kembali ke Jakarta dengan pesawat yang dijadwalkan berangkat pukul 9.35.
Rencananya, pukul 8 Kang Bejo akan berangkat ke Bandara Adi Sucipto. Pukul 7 semua barang-barang bawaan sudah rapi dimasukkan ke dalam tas. Kang Bejo sudah berpakaian lengkap termasuk sudah mengenakan sepatu, siap setiap saat untuk berangkat.
Masih ada cukup waktu bagi Kang Bejo untuk sarapan di restoran hotel. Sayang kalau dilewatkan. Apalagi sarapan sudah termasuk tarif hotel.
Karena keasyikan ngobrol dengan rekan bisnisnya ketika sarapan, waktu sudah pukul 8.25. Kang Bejo buru-buru pamit dan kembali ke kamar untuk mengambil tas.
Sesampainya di kamar, reflek Kang Bejo memicu alarm yang membangunkan prosesor rohaninya. Prosesor ini mengingatkan Kang Bejo untuk melakukan sholat Dhuha. Kang Bejo memang berusaha menjaga sekuat tenaga untuk tidak meninggalkan sholat dhuha.
Tapi otak Bejo memicu alarm jenis lain yang berhubungan prosesor berdimensi rasionalitas, keeksakan dan bersifat matematis. Sebut saja ini prosesor jasmaniah.
Kedua prosesor itu tidak bisa berkompromi dan saling mematahkan. Ketika prosesor ruhani mendorong agar Kang Bejo melaksanakan sholat Dhuha, prosesor jasmaniah mengingatkan bahwa sudah tidak waktu untuk sholat Dhuha karena bisa ketinggalan pesawat.
Ketika prosesor rohani beragumentasi "Toh paling lama cuma 5 menit", prosesor jasmaniah menukasnya dengan "Lima menit bisa berakibat fatal, ketinggalan pesawat, ya kalau mudah mencari jadwal lain, kalau tidak, bisa-bisa harus diundur esok harinya. Kalau sampai mundur esok harinya, agenda bisa berantakan".
Prosesor ruhani mempertajam argumantasinya dengan "Masa urusan dunia lebih penting dari urusan dengan Allah".
Prosesor jasmaniah hampir menyerah, tapi tidak. Argumentasinya adalah "Allah sendiri yang menganugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir rasional dan eksak. Hitungan matematisnya jelas, Berangkat dari hotel 8. 45, normalnya lama perjalanan sekitar 45 menit, sampai bandara 9.30. Nah, kalau lalu lintas macet bagaimana?"
Jurus prosesor jasmaniah ini ruhani hampir meruntuhkan pertahanan prosesor ruhaniah . Satu-satunya cara untuk membungkam prosesor jasmaniah adalah dengan mematikannya.
Kang Bejo melepas sepatu, melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Dhuha.
Urusan Kang Bejo di Yogyakarta sudah selesai. Pagi itu dia akan kembali ke Jakarta dengan pesawat yang dijadwalkan berangkat pukul 9.35.
Rencananya, pukul 8 Kang Bejo akan berangkat ke Bandara Adi Sucipto. Pukul 7 semua barang-barang bawaan sudah rapi dimasukkan ke dalam tas. Kang Bejo sudah berpakaian lengkap termasuk sudah mengenakan sepatu, siap setiap saat untuk berangkat.
Masih ada cukup waktu bagi Kang Bejo untuk sarapan di restoran hotel. Sayang kalau dilewatkan. Apalagi sarapan sudah termasuk tarif hotel.
Karena keasyikan ngobrol dengan rekan bisnisnya ketika sarapan, waktu sudah pukul 8.25. Kang Bejo buru-buru pamit dan kembali ke kamar untuk mengambil tas.
Sesampainya di kamar, reflek Kang Bejo memicu alarm yang membangunkan prosesor rohaninya. Prosesor ini mengingatkan Kang Bejo untuk melakukan sholat Dhuha. Kang Bejo memang berusaha menjaga sekuat tenaga untuk tidak meninggalkan sholat dhuha.
Tapi otak Bejo memicu alarm jenis lain yang berhubungan prosesor berdimensi rasionalitas, keeksakan dan bersifat matematis. Sebut saja ini prosesor jasmaniah.
Kedua prosesor itu tidak bisa berkompromi dan saling mematahkan. Ketika prosesor ruhani mendorong agar Kang Bejo melaksanakan sholat Dhuha, prosesor jasmaniah mengingatkan bahwa sudah tidak waktu untuk sholat Dhuha karena bisa ketinggalan pesawat.
Ketika prosesor rohani beragumentasi "Toh paling lama cuma 5 menit", prosesor jasmaniah menukasnya dengan "Lima menit bisa berakibat fatal, ketinggalan pesawat, ya kalau mudah mencari jadwal lain, kalau tidak, bisa-bisa harus diundur esok harinya. Kalau sampai mundur esok harinya, agenda bisa berantakan".
Prosesor ruhani mempertajam argumantasinya dengan "Masa urusan dunia lebih penting dari urusan dengan Allah".
Prosesor jasmaniah hampir menyerah, tapi tidak. Argumentasinya adalah "Allah sendiri yang menganugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir rasional dan eksak. Hitungan matematisnya jelas, Berangkat dari hotel 8. 45, normalnya lama perjalanan sekitar 45 menit, sampai bandara 9.30. Nah, kalau lalu lintas macet bagaimana?"
Jurus prosesor jasmaniah ini ruhani hampir meruntuhkan pertahanan prosesor ruhaniah . Satu-satunya cara untuk membungkam prosesor jasmaniah adalah dengan mematikannya.
Kang Bejo melepas sepatu, melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Dhuha.
Untuk Siapa?
Hari Jumat pukul 10 pagi di Jalan MT. Haryono, Jakarta Selatan.
Mobil Kang Bejo beriringan dengan mobil-mobil lain menuju Pancoran. Di depan Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) kemacetan sudah terjadi. Kendaraan bergerak bak siput, lambat. Kendaraan hanya bisa bergerak semeter demi semeter.
Di seberang Gedung BNN ada jalur hijau yang ditumbuhi pepohonan peneduh. Di bawah salah satu pohon, duduk seorang pengemis yang kedua matanya cacat (agak buta).
Pengemis itu mengharapkan belas kasihan para pengemudi kendaraan yang melintas di depannya. Makin macet makin senang pengemis itu, karena peluang pengendara memberikan sumbangan makin besar.
Kang Bejo berada sekitar lima meter menjelang lokasi pengemis tersebut. Di depan Kang Bejo, ada sebuah sedan dan berada di depan pengemis itu. Pengendara sedan itu membuka dan menjulurkan tangannya yang memegang selembar lima ribuan. Sang pengendara melempar lembaran itu ke arah pengemis. Sialnya, lembaran itu tidak jatuh di dekat pengemis, malah diterpa angin dan menjauhinya. Sialnya lagi pengemis tidak melihat pengendara itu melempar uang untuk dia. Terbanglah uang lima ribu darinya.
Di dekat pengemis, ada seorang pedagang melihat lembaran lima ribuan terbang. Dia berusaha meraihnya.
Kendaraan Kang Bejo beranjak dari kemacetan dan melewati pengemis yang tidak tahu apa-apa. Kang Bejo melalui kaca spion masih melihat pedagang asongan itu berhasil menangkap lembaran lima ribuan itu.
Tertutupi oleh kendaraan yang berada di belakangnya, Kang Bejo tidak melihat kejadian selanjutnya.
Yang pasti pengemis itu tidak tahu sama sekali kalau ada yang orang bermaksud memberikan uang kepadanya.
Mungkin juga pedagang asongan itu tadi tidak melihat pengendara sedan itu melempar uang itu untuk pengemis, sehingga dia berasumsi uang yang ditemukan itu 'tidak bertuan' dan dengan demikian berhak dia memilikinya.
Atau, pedangan asongan itu sebenarnya melihat kejadian 'uang terbang' tetapi tetap mengantonginya untuk dirinya sendiri.
Mudah-mudahan kemungkinan ini yang terjadi, yaitu pedagang asongan menyerahkan uang lima ribu itu kepada pengemis.
Ternyata, rejeki seseorang juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Seandainya, pedagang asongan itu tidak melihat proses terjadinya 'uang terbang' maka uang itu memang menjadi 'tidak bertuan' dan pedagang asongan berhak memilikinya.
Namun, apabila melihatnya maka ada dua kemungkinan. Kalau pedagan asongan jujur, uang itu akan diterima oleh pengemis. Apabila tidak jujur, sirnalah potensi uang lima ribu dari pengemis.
Yang jelas, kejadian itu terjadi atas pengetahuan dan ijinNya. Jadi?
Mobil Kang Bejo beriringan dengan mobil-mobil lain menuju Pancoran. Di depan Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) kemacetan sudah terjadi. Kendaraan bergerak bak siput, lambat. Kendaraan hanya bisa bergerak semeter demi semeter.
Di seberang Gedung BNN ada jalur hijau yang ditumbuhi pepohonan peneduh. Di bawah salah satu pohon, duduk seorang pengemis yang kedua matanya cacat (agak buta).
Pengemis itu mengharapkan belas kasihan para pengemudi kendaraan yang melintas di depannya. Makin macet makin senang pengemis itu, karena peluang pengendara memberikan sumbangan makin besar.
Kang Bejo berada sekitar lima meter menjelang lokasi pengemis tersebut. Di depan Kang Bejo, ada sebuah sedan dan berada di depan pengemis itu. Pengendara sedan itu membuka dan menjulurkan tangannya yang memegang selembar lima ribuan. Sang pengendara melempar lembaran itu ke arah pengemis. Sialnya, lembaran itu tidak jatuh di dekat pengemis, malah diterpa angin dan menjauhinya. Sialnya lagi pengemis tidak melihat pengendara itu melempar uang untuk dia. Terbanglah uang lima ribu darinya.
Di dekat pengemis, ada seorang pedagang melihat lembaran lima ribuan terbang. Dia berusaha meraihnya.
Kendaraan Kang Bejo beranjak dari kemacetan dan melewati pengemis yang tidak tahu apa-apa. Kang Bejo melalui kaca spion masih melihat pedagang asongan itu berhasil menangkap lembaran lima ribuan itu.
Tertutupi oleh kendaraan yang berada di belakangnya, Kang Bejo tidak melihat kejadian selanjutnya.
Yang pasti pengemis itu tidak tahu sama sekali kalau ada yang orang bermaksud memberikan uang kepadanya.
Mungkin juga pedagang asongan itu tadi tidak melihat pengendara sedan itu melempar uang itu untuk pengemis, sehingga dia berasumsi uang yang ditemukan itu 'tidak bertuan' dan dengan demikian berhak dia memilikinya.
Atau, pedangan asongan itu sebenarnya melihat kejadian 'uang terbang' tetapi tetap mengantonginya untuk dirinya sendiri.
Mudah-mudahan kemungkinan ini yang terjadi, yaitu pedagang asongan menyerahkan uang lima ribu itu kepada pengemis.
Ternyata, rejeki seseorang juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Seandainya, pedagang asongan itu tidak melihat proses terjadinya 'uang terbang' maka uang itu memang menjadi 'tidak bertuan' dan pedagang asongan berhak memilikinya.
Namun, apabila melihatnya maka ada dua kemungkinan. Kalau pedagan asongan jujur, uang itu akan diterima oleh pengemis. Apabila tidak jujur, sirnalah potensi uang lima ribu dari pengemis.
Yang jelas, kejadian itu terjadi atas pengetahuan dan ijinNya. Jadi?
Saturday, August 01, 2009
Haramkah?
Selasa malam di Yogyakarta. Empat hari ke depan Kang Bejo akan menghadiri acara Musyawarah Nasional organisasi yang diikutinya. Acara akan dilangsungkan di Hotel Melia Purosani dan dimulai esok harinya.
Kang Bejo bermalam di hotel itu juga. Malam itu, dia tidak punya acara dan tidak bermaksud kemana-mana. Kang Bejo ingin istirahat saja di hotel.
Pukul 11-an telepon genggam Kang Bejo berdering. Teman seorgansasinya, yang menjadi peserta Munas dan bermalam di hotel itu juga, menelpon. Agak sedikit malas, Kang Bejo menjawab panggilan telepon tersebut. Ternyata sang teman mengajak nyari makanan di sekitar hotel.
Sambil jalan kaki berdua, mereka memutuskan untuk mencari bakmi godhog atau bakmi rebus. Beberapa saat berjalan di Jalan Sugiyono sekitar 100 meter dari hotel ditemukanlah warung bakmi Pak Teja. Mereka sepakat untuk makan disitu.
Pelayan warung menanyakan apakah ayam atau daging. Kang Bejo memilih ayam. Temannya memilih daging. Namun, samar-samar Kang Bejo mendengar temannya sepertinya mengucapkan kata 'pake babi'. Kang Bejo tidak menelisik lebih jauh ucapan itu. Kang Bejo tidak menganggapnya serius.
Warung itu berupa warung tenda yang menempel di toko yang sudah tutup. Lokasi warung di pinggir jalan besar yang bising dan hiruk pikuk oleh kendaraan. Sehingga tidak jarang, percakapan terganggu oleh suara yang memekakkan telinga. Yaitu manakala ada kendaraan, terutama motor, yang knalpotnya "dibobok".
Sambil menunggu masakan diproses, Kang Bejo sempat bertanya-tanya dalam hati ucapan temannya tadi kepada pelayan warung. Pakai babi? Ah masak sih. Sambil makan pun Kang Bejo masih belum menemukan jawaban akan arti ucapan temannya yang samar-samar terdengar seperi ucapan 'pake babi'.
Selesai makan, Kang Bejo memutar wajahkan ke belakang ke arah tembok toko. Disitulah rupanya jawaban keraguan akan arti ucapan temannya tadi tertulis dengan gamblang. Dalam spanduk sepanjang 3 meter berlatar belakang warna hitam tertulis dengan huruf besar jawaban tersebut.
Disitu terpampang di baris pertama dengan tulisan putih 'Bakmi Pak Teja, Goreng dan Rebus'. Tulisan di baris kedua inilah yang membuat Kang Bejo kaget setengah mati. Disitu tertulis 'Ayam, Babi'
Kang Bejo tidak tahu harus bagaimana. Sebagai seorang muslim, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memakan makanan yang diharamkan.
Malam itu, Kang Bejo benar-benar masgul dengan kejadian tersebut. Dia hanya bisa merenung dan menyesali mengapa tidak menangkap isyarat yang terselip dalam ucapan temannya tadi. Mengapa dia acuh terhadap isyarat yang apabila ditelisik lebih jauh akan dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah.
'Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosa dan kelalaian ini. Amin.' Doa Kang Bejo dalam hati.
Kang Bejo bermalam di hotel itu juga. Malam itu, dia tidak punya acara dan tidak bermaksud kemana-mana. Kang Bejo ingin istirahat saja di hotel.
Pukul 11-an telepon genggam Kang Bejo berdering. Teman seorgansasinya, yang menjadi peserta Munas dan bermalam di hotel itu juga, menelpon. Agak sedikit malas, Kang Bejo menjawab panggilan telepon tersebut. Ternyata sang teman mengajak nyari makanan di sekitar hotel.
Sambil jalan kaki berdua, mereka memutuskan untuk mencari bakmi godhog atau bakmi rebus. Beberapa saat berjalan di Jalan Sugiyono sekitar 100 meter dari hotel ditemukanlah warung bakmi Pak Teja. Mereka sepakat untuk makan disitu.
Pelayan warung menanyakan apakah ayam atau daging. Kang Bejo memilih ayam. Temannya memilih daging. Namun, samar-samar Kang Bejo mendengar temannya sepertinya mengucapkan kata 'pake babi'. Kang Bejo tidak menelisik lebih jauh ucapan itu. Kang Bejo tidak menganggapnya serius.
Warung itu berupa warung tenda yang menempel di toko yang sudah tutup. Lokasi warung di pinggir jalan besar yang bising dan hiruk pikuk oleh kendaraan. Sehingga tidak jarang, percakapan terganggu oleh suara yang memekakkan telinga. Yaitu manakala ada kendaraan, terutama motor, yang knalpotnya "dibobok".
Sambil menunggu masakan diproses, Kang Bejo sempat bertanya-tanya dalam hati ucapan temannya tadi kepada pelayan warung. Pakai babi? Ah masak sih. Sambil makan pun Kang Bejo masih belum menemukan jawaban akan arti ucapan temannya yang samar-samar terdengar seperi ucapan 'pake babi'.
Selesai makan, Kang Bejo memutar wajahkan ke belakang ke arah tembok toko. Disitulah rupanya jawaban keraguan akan arti ucapan temannya tadi tertulis dengan gamblang. Dalam spanduk sepanjang 3 meter berlatar belakang warna hitam tertulis dengan huruf besar jawaban tersebut.
Disitu terpampang di baris pertama dengan tulisan putih 'Bakmi Pak Teja, Goreng dan Rebus'. Tulisan di baris kedua inilah yang membuat Kang Bejo kaget setengah mati. Disitu tertulis 'Ayam, Babi'
Kang Bejo tidak tahu harus bagaimana. Sebagai seorang muslim, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memakan makanan yang diharamkan.
Malam itu, Kang Bejo benar-benar masgul dengan kejadian tersebut. Dia hanya bisa merenung dan menyesali mengapa tidak menangkap isyarat yang terselip dalam ucapan temannya tadi. Mengapa dia acuh terhadap isyarat yang apabila ditelisik lebih jauh akan dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah.
'Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosa dan kelalaian ini. Amin.' Doa Kang Bejo dalam hati.
Lebih Saleh?
Hari Minggu pukul empat dini hari di rumah. Sudah hampir sebulan ini Kang Bejo punya kegiatan rutin, yaitu berjamaah sholat subuh di masjid yang berjarak sekitar 100 meter. Karena dekat, Kang Bejo berjalan kaki.
Jalur Kang Bejo melewati sebuah rumah kontrakan berukuran sekitar 20 m2 yang dihuni oleh 5 orang tukang becak yang berasal dari kampung di Jawa.
Rumah kontrakan menjorok ke dalam selebar empat meteran. Ruang depan kontrakan itulah yang dipakai untuk tidur ramai-ramai dengan hanya beralaskan tikar. Ini terlihat karena bagian depan berkaca dan tidak ada kordennya. Di dinding, banyak pakaian dicantelan. Di depan rumah kontrakan ada halaman tempat becak-becak diparkir.
Setiap subuh ketika Kang Bejo lewat di depannya, para tukang becak itu sudah bangun dan melakukan aktivitas. Kang Bejo tidak tahu persis aktivitas apa itu. Kang Bejo hanya menduga aktivitas itu tentunya adalah persiapan untuk menarik becak. Kang Bejo merasa tidak enak untuk memeloti aktivitas mereka. Toh buat Kang Bejo tidak penting dan tidak ada gunanya untuk mengetahui lebih jauh. Setiap kali lewat, Kang Bejo tidak pernah memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah merek. Kang Bejo biasanya berlalu dengan agak cepat, karena dia ingin sampai di masjid 15 menit sebelum adzan berkumandang. Kebiasaan itu membuat Kang Bejo tidak tahu sama sekali para tukang becak itu beraktivitas apa di pagi yang masih gelap.
Setiap kali Kang Bejo lewat setiap kali itu pula menyayangkan tukang becak kenapa mereka tidak ke masjid saja, seperti halnya dia. Toh sudah bangun dan terlihat sudah beraktivitas dengan intens.
Kang Bejo merasa bersyukur diberi nikmat dalam bentuk niat, kesempatan, kemampuan dan realisasi melaksanakan sholat subuh berjamaan di masjid. Rasa syukur ini bertambah karena Kang Bejo secara ekonomi lebih baik dari tetangga di lingkungannya.
Namun, disinilah bencana mulai mengintip. Rasa syukur tersebut berpotensi menimbulkan kesombongan akan kesalehan beribadah. Bisikan bahwa dia merasa lebih saleh dibandingkan dengan para tukang becak adalah ancaman terhadap kemurnian ibadahnya. Bisikan bahwa dia mampu menjalankan syariat agama lebih baik dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menodai keikhlasan beribadah Kang Bejo. Rasa bahwa dia lebih mampu bersyukur dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menggerogoti ketaqwaannya pada Allah.
"Coba kalau mereka sholat subuh" begitu lontaran pikiran Kang Bejo setiap kali melewati rumah kontrakan pada waktu berjalan menuju masjid untuk berjamaah sholat subuh.
Namun pagi itu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Entah mengapa Kang Bejo melambatkan langkah kakinya dan memalingkan wajahnya untuk mengamati lebih seksama apa yang sedang mereka lalukan.
Kang Bejo tertegun sejenak melihat apa yang dilakukan oleh 3 orang tukang becak di ruangan yang diterangi oleh lampu bohlam 25 watt. Ketiga orang itu ternyata sedang berjamaah sholat subuh. Mereka sudah pada penghujung sholat yaitu sudah pada posisi duduk takhiyat akhir.
Pemandangan itu hanya sekilas, hanya beberapa detik saja. Namun, momen sekejap itu mampu menyentak dan menggoncangkan ruang batin Kang Bejo. Pemandangan tersebut mampu memporakporandakan kesadaran Kang Bejo akan arti kesalehan. Pemandangan itu serta merta menjungkirbalikkan perasaan bahwa lebih saleh dari tukang becak tetanggatnya itu.
"Ah jangan-jangan aku kalah jauh ketaqwaannya dibandingkan dengan mereka yang tidakl pernah berjamaan sholat subuh" Kang Bejo mulai menggugat diri sendiri.
Kang Bejo mulai merasa malu pada diri sendiri mengingat dia pernah punya perasaan menyayangkan aktivitas tukang becak tetangganya yang tidak ke masjid.
Kang Bejo beristigfar dalam hati.
Jalur Kang Bejo melewati sebuah rumah kontrakan berukuran sekitar 20 m2 yang dihuni oleh 5 orang tukang becak yang berasal dari kampung di Jawa.
Rumah kontrakan menjorok ke dalam selebar empat meteran. Ruang depan kontrakan itulah yang dipakai untuk tidur ramai-ramai dengan hanya beralaskan tikar. Ini terlihat karena bagian depan berkaca dan tidak ada kordennya. Di dinding, banyak pakaian dicantelan. Di depan rumah kontrakan ada halaman tempat becak-becak diparkir.
Setiap subuh ketika Kang Bejo lewat di depannya, para tukang becak itu sudah bangun dan melakukan aktivitas. Kang Bejo tidak tahu persis aktivitas apa itu. Kang Bejo hanya menduga aktivitas itu tentunya adalah persiapan untuk menarik becak. Kang Bejo merasa tidak enak untuk memeloti aktivitas mereka. Toh buat Kang Bejo tidak penting dan tidak ada gunanya untuk mengetahui lebih jauh. Setiap kali lewat, Kang Bejo tidak pernah memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah merek. Kang Bejo biasanya berlalu dengan agak cepat, karena dia ingin sampai di masjid 15 menit sebelum adzan berkumandang. Kebiasaan itu membuat Kang Bejo tidak tahu sama sekali para tukang becak itu beraktivitas apa di pagi yang masih gelap.
Setiap kali Kang Bejo lewat setiap kali itu pula menyayangkan tukang becak kenapa mereka tidak ke masjid saja, seperti halnya dia. Toh sudah bangun dan terlihat sudah beraktivitas dengan intens.
Kang Bejo merasa bersyukur diberi nikmat dalam bentuk niat, kesempatan, kemampuan dan realisasi melaksanakan sholat subuh berjamaan di masjid. Rasa syukur ini bertambah karena Kang Bejo secara ekonomi lebih baik dari tetangga di lingkungannya.
Namun, disinilah bencana mulai mengintip. Rasa syukur tersebut berpotensi menimbulkan kesombongan akan kesalehan beribadah. Bisikan bahwa dia merasa lebih saleh dibandingkan dengan para tukang becak adalah ancaman terhadap kemurnian ibadahnya. Bisikan bahwa dia mampu menjalankan syariat agama lebih baik dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menodai keikhlasan beribadah Kang Bejo. Rasa bahwa dia lebih mampu bersyukur dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menggerogoti ketaqwaannya pada Allah.
"Coba kalau mereka sholat subuh" begitu lontaran pikiran Kang Bejo setiap kali melewati rumah kontrakan pada waktu berjalan menuju masjid untuk berjamaah sholat subuh.
Namun pagi itu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Entah mengapa Kang Bejo melambatkan langkah kakinya dan memalingkan wajahnya untuk mengamati lebih seksama apa yang sedang mereka lalukan.
Kang Bejo tertegun sejenak melihat apa yang dilakukan oleh 3 orang tukang becak di ruangan yang diterangi oleh lampu bohlam 25 watt. Ketiga orang itu ternyata sedang berjamaah sholat subuh. Mereka sudah pada penghujung sholat yaitu sudah pada posisi duduk takhiyat akhir.
Pemandangan itu hanya sekilas, hanya beberapa detik saja. Namun, momen sekejap itu mampu menyentak dan menggoncangkan ruang batin Kang Bejo. Pemandangan tersebut mampu memporakporandakan kesadaran Kang Bejo akan arti kesalehan. Pemandangan itu serta merta menjungkirbalikkan perasaan bahwa lebih saleh dari tukang becak tetanggatnya itu.
"Ah jangan-jangan aku kalah jauh ketaqwaannya dibandingkan dengan mereka yang tidakl pernah berjamaan sholat subuh" Kang Bejo mulai menggugat diri sendiri.
Kang Bejo mulai merasa malu pada diri sendiri mengingat dia pernah punya perasaan menyayangkan aktivitas tukang becak tetangganya yang tidak ke masjid.
Kang Bejo beristigfar dalam hati.
Bukan Rejekinya
Pukul empat sore di perempatan Pejompongan Jakarta Pusat. Lampu lalu lintas dalam kondisi merah. Mobil Kang Bejo berada di antara antrian kendaraan di perempatan jalan tersebut.
Yu Bejo yang duduk di samping Bejo menyiapkan selembar uang ribuah untuk diberikan kepada seorang pengemis. Pengemis itu berjalan dari depan mobil Kang Bejo dan mengarah kesitu.
Yu Bejo menunggu pengemis itu berhenti di samping mobil. Yu Bejo memang belum membuka kaca jendela. Dia akan membuka kaca jendela manakala pengemis sudah berhenti di samping mobil.
Jari Yu Bejo sudah menyentuh tombol power window dan bersiap-siap membuka kaca jendela. Pengemis itu tinggal selangkah lagi sampai di samping jendela kiri depan mobil Kang Bejo.
Ketika pengemis tepat di samping kiri pintu kiri depan, Yu Bejo menekan tombol power window untuk membuka kaca jendala. Saat jendela terbuka sekitar lima senti, pengemis tidak berhenti. Pengemis jalan terus melewati mobil Kang Bejo menuju mobil yang antre di belakang mobil Kang Bejo.
Sambil menaikkan kaca jendela yang sempat terbuka sedikit, Yu Bejo bergumam pendek "Bukan rejekinya". Kang Bejo mengiyakan gumaman sang istri, sambil menatap melalui kaca spion pengemis itu berjalan ke belakang.
Kang Bejo hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Penumpang mobil di belakang Kang Bejo ternyata memberi pengemis itu selembar lima ribuan.
Kang Bejo mereka-reka mengapa pengemis tadi melewatinya dan menuju ke mobil di belakangnya. Apakah penumpang di mobil itu membuka kaca jendela dan melambai-lambaikan selembar lima ribuan kepada pengemis. Rasanya tidak mungkin. Apakah pengemis menduga bahwa penumpang di mobil Kang Bejo tidak akan memberinya uang, sehingga mendingan dia melewatinya? Rasanya kemungkinan ini juga mustahil, karena mobil Kang Bejo tergolong mobil mewah. Atau, dia punya semacam standard operation procedur dalam memilih mobil mana yang akan dimintai sumbangan? Entahlah.
Yang pasti, sesaat setelah pengemis menerima sumbangan dari penumpang mobil di belakang mobil Kang Bejo, lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Itu berarti pengemis harus menyingkir ke pinggir atau ke pembatas jalan.
Lagi-lagi sebuah peristiwa yang sangat sederhana tetapi mengandung dimensi tarekat yang menukik. Sebuah peristiwa yang sama sekali sepele. Bukan peristiwa yang spektakuler dan dramatis. Sebuah peristiwa yang secara visual hanya merupakan satu di antara milyaran kejadian yang terjadi setiap detik di dunia.
Kang Bejo tertohok dengan kejadian tersebut karena terkait dengan sepatah gumaman Yu Bejo sebelumnya, yaitu "bukan rejekinya".
Manusia yang pengetahuannya sebatas detik ini sering merasa tahu tentang kehidupan. Manusia sering sok tahu dan sering memastikan sesuatu padahal sama sekali tidak mempunyai pengetahuan apapun.
Ketika Yu Bejo bergumam "bukan rejekinya", Kang Bejo berkeyakinan bahwa pengemis itu "kehilangan" seribu rupiah karena tidak mendapatkan sumbangan yang sudah disiapkan oleh Yu Bejo sebesar seribu rupiah. Kang Bejo meyakini bahwa rejeki yang sudah di depan mata, tinggal diambil bisa sirna.
Keyakinan Kang Bejo di atas berantakan sesaat setelah menyaksikan pengemis itu mendapatkan selembar lima ribuan. Ternyata pengemis tidak "kehilangan" tetapi mendapatkan lebih dari itu.
Seandainya pengemis tadi berhenti di sebelah mobil mobil Kang Bejo dia memang akan mendapatkan seribu rupiah tetapi kehilangan kesempatan mendapatkan lima ribu rupiah. Karena lampu lalu lintas keburu berubah hijau, dan berarti pengemis harus menyingkir.
Kang Bejo hanya mampu bertafakur. Ya Allah, Engkau memang Maha Pengatur dengan tingkat pengaturan yang berpresisi tinggi. Engkau memang berhak sepenuhnya terhadap rejeki yang Engkau tebarkan kepada manusia. Betapa manusia tidak akan pernah mampu memahami mekanismeMu dalam mendistribusikan rejekiMu.
Distribusi rejeki pastilah berdasarkan asas keadilan versi Allah. Versi yang dijamin seratus persen keakuratan dan kesahihannya.
Siapa atau apa yang menggerakkan hati pengemis agar melewati mobil Kang Bejo dan menuju mobil di belakangnya? Entahlah!
Yu Bejo yang duduk di samping Bejo menyiapkan selembar uang ribuah untuk diberikan kepada seorang pengemis. Pengemis itu berjalan dari depan mobil Kang Bejo dan mengarah kesitu.
Yu Bejo menunggu pengemis itu berhenti di samping mobil. Yu Bejo memang belum membuka kaca jendela. Dia akan membuka kaca jendela manakala pengemis sudah berhenti di samping mobil.
Jari Yu Bejo sudah menyentuh tombol power window dan bersiap-siap membuka kaca jendela. Pengemis itu tinggal selangkah lagi sampai di samping jendela kiri depan mobil Kang Bejo.
Ketika pengemis tepat di samping kiri pintu kiri depan, Yu Bejo menekan tombol power window untuk membuka kaca jendala. Saat jendela terbuka sekitar lima senti, pengemis tidak berhenti. Pengemis jalan terus melewati mobil Kang Bejo menuju mobil yang antre di belakang mobil Kang Bejo.
Sambil menaikkan kaca jendela yang sempat terbuka sedikit, Yu Bejo bergumam pendek "Bukan rejekinya". Kang Bejo mengiyakan gumaman sang istri, sambil menatap melalui kaca spion pengemis itu berjalan ke belakang.
Kang Bejo hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Penumpang mobil di belakang Kang Bejo ternyata memberi pengemis itu selembar lima ribuan.
Kang Bejo mereka-reka mengapa pengemis tadi melewatinya dan menuju ke mobil di belakangnya. Apakah penumpang di mobil itu membuka kaca jendela dan melambai-lambaikan selembar lima ribuan kepada pengemis. Rasanya tidak mungkin. Apakah pengemis menduga bahwa penumpang di mobil Kang Bejo tidak akan memberinya uang, sehingga mendingan dia melewatinya? Rasanya kemungkinan ini juga mustahil, karena mobil Kang Bejo tergolong mobil mewah. Atau, dia punya semacam standard operation procedur dalam memilih mobil mana yang akan dimintai sumbangan? Entahlah.
Yang pasti, sesaat setelah pengemis menerima sumbangan dari penumpang mobil di belakang mobil Kang Bejo, lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Itu berarti pengemis harus menyingkir ke pinggir atau ke pembatas jalan.
Lagi-lagi sebuah peristiwa yang sangat sederhana tetapi mengandung dimensi tarekat yang menukik. Sebuah peristiwa yang sama sekali sepele. Bukan peristiwa yang spektakuler dan dramatis. Sebuah peristiwa yang secara visual hanya merupakan satu di antara milyaran kejadian yang terjadi setiap detik di dunia.
Kang Bejo tertohok dengan kejadian tersebut karena terkait dengan sepatah gumaman Yu Bejo sebelumnya, yaitu "bukan rejekinya".
Manusia yang pengetahuannya sebatas detik ini sering merasa tahu tentang kehidupan. Manusia sering sok tahu dan sering memastikan sesuatu padahal sama sekali tidak mempunyai pengetahuan apapun.
Ketika Yu Bejo bergumam "bukan rejekinya", Kang Bejo berkeyakinan bahwa pengemis itu "kehilangan" seribu rupiah karena tidak mendapatkan sumbangan yang sudah disiapkan oleh Yu Bejo sebesar seribu rupiah. Kang Bejo meyakini bahwa rejeki yang sudah di depan mata, tinggal diambil bisa sirna.
Keyakinan Kang Bejo di atas berantakan sesaat setelah menyaksikan pengemis itu mendapatkan selembar lima ribuan. Ternyata pengemis tidak "kehilangan" tetapi mendapatkan lebih dari itu.
Seandainya pengemis tadi berhenti di sebelah mobil mobil Kang Bejo dia memang akan mendapatkan seribu rupiah tetapi kehilangan kesempatan mendapatkan lima ribu rupiah. Karena lampu lalu lintas keburu berubah hijau, dan berarti pengemis harus menyingkir.
Kang Bejo hanya mampu bertafakur. Ya Allah, Engkau memang Maha Pengatur dengan tingkat pengaturan yang berpresisi tinggi. Engkau memang berhak sepenuhnya terhadap rejeki yang Engkau tebarkan kepada manusia. Betapa manusia tidak akan pernah mampu memahami mekanismeMu dalam mendistribusikan rejekiMu.
Distribusi rejeki pastilah berdasarkan asas keadilan versi Allah. Versi yang dijamin seratus persen keakuratan dan kesahihannya.
Siapa atau apa yang menggerakkan hati pengemis agar melewati mobil Kang Bejo dan menuju mobil di belakangnya? Entahlah!
Subscribe to:
Posts (Atom)
