Pagi itu, Yu Bejo sedang berkutat di dapur. Sesaat kemudian, Yu Bejo minta Kang Bejo mengawasi dapur karena Yu Bejo akan ke tukang sayur yang ada di depan rumah. Dapur perlu ditunggu untuk mencegah kucing-kucing makan tempe goreng tepung yang ada di meja dapur.
Sambil berlalu melewatinya, Yu Bejo berkata kepada Kang Bejo dengan nada bercanda "Jangan ambil tempenya ya" . Candaan ini terucap karena Kang Bejo punya kebiasaan kalau Yu Bejo sedang masak di dapur, Kang Bejo bolak-balik ke dapur nyomot masakan yang ada. Larangan Yu Bejo itu pastilah tidak serius.
Saat itu, anaknya Kang Bejo yang masih kecil juga sedang bersamanya di ruang keluarga, dan mendengarkan "larangan" Yu Bejo. Bahkan, Yu Bejo memperkuat "larangan" tersebut dengan "menginstruksikan" anaknya menjadi pengawas agar Kang Bejo tidak iseng mencomot tempe goreng tersebut. "Instruksi" itupun pastilah tidak serius.
Kang Bejo tidak tahan terhadap godaan aroma tempe goreng tepung yang samar-samar menyelinap dan tertangkap sensor penciuman di hidung. Kang Bejo beranjak dari kursinya menuju ke dapur, bermaksud mencomotnya.
Anaknya Kang Bejo merasa mendapat "amanah" untuk mengawasi ayahnya mengingatkannya agar mematuhi "larangan" ibunya.
Kang Bejo tetap melangkah ke dapur, mencomot dua potong tempe goreng dan kembali ke ruang keluarga. Sepotong disodorkan kepada anaknya. Anaknya menerima sepotong tempe tersebut.
Terjadilah "konspirasi" yang berimplikasi pada "pembangkagan dan penghianatan" terhadap "larangan dan amanah" yang diemban oleh bapak-anak. Telah terjadi tindak "pidana" penyuapan yaitu penyuapan dengan menggunakan sepotong tempe.
Saturday, January 24, 2015
Thursday, January 15, 2015
Seandainya
Kejadian ini sebelum diterapkan karcis terusan ke semua jurusan Kereta Api Commuter Line di Jabodetabek.
Kang Bejo di gerbong paling depan kereta tersebut dari Serpong, yang tiba di stasiun Tanahabang pk 20.05. Turun dari kereta menuju tangga naik berjarak sekitar 30 meter. Di jalur 3 sudah tersedia KRL jurusan Depok yang akan dinaiki oleh Kang Bejo. Sampai di depan loket sudah pk 20.10. Antrean 3 orang. Kang Bejo mendapatkan karcis tepat pk 20.11. Begitu turun tangga menuju jalur tiga, kereta berangkat. Hanya selisih beberapa detik.
Sebuah keterlambatan yang mungkin bisa dihindari. Seandainya menjelang kereta memasuki St. Tanahabang, Kang Bejo pindah ke gerbong nomor 4, sehingga ketika turun dari kereta jarak ke tangga peron sekitar 10 meter. Jarak yang lebih dekat ini mempersingkat waktu sekitar 15 detik. Cukup untuk mengejar kereta jurusan Depok.
Itu kan ”seandainya”. Padahal, kita berada di luar dimensi ”seandainya”. Dimensi ”seandainya” adalah sebuah dimensi yang hanya Allah yang mampu memasukinya, karena hanya Dia yang kuasa membalikkan putaran waktu.
”Seandainya” adalah sesuatu yang manusia gagal menggapainya. Sesuatu itu terjadi di masa lalu, dan waktu bagi manusia tidak pernah berjalan mundur. Tidak demikian bagi Allah. Jika Dia berkehendak memutar balik jarum jam, maka kun fayakun terjadi. Kang Bejo pun bisa tidak tertinggal kereta.
Beda antara ”seandainya” dengan kejadian bisa hanya nol koma nol sekian detik, atau bahkan kurang. Kang Bejo akhirnya terpaksa menunggu kereta berikutnya yang datang sejam kemudian.
Ikhlas
Kang Bejo punya kebiasaan Membaca koran di kamar mandi. Setelah membaca koran ditaruh di tempat menyimpan botol-botol sampo, conditioner dan botol-botol lain milik Yu Bejo.
Yu Bejo protes atas perilaku Kang Bejo tersebut. Menyulitkan jika ingin mengambil botol-botol tersebut, kata Yu Bejo. Mendengar protes tersebut, Kang Bejo tidak kalah sengitnya. Ini salah satu keasyikannya tersendiri. Kang Bejo memang punya "penyakit" sering lupa untuk mengembalikan barang-barang ketempatnya.
Situasi yang sangat sederhana. Menurut Yu Bejo, apa susahnya sih membawa koran keluar dari kamar mandi. Sebaliknya, Menurut Kang Bejo sesusah apa sih mengambil botol-botol, walaupun di raknya terselip koran. Menurut Yu Bejo, itu sudah sangat menjengkelkan. Menurut Kang Bejo, protes Yu Bejo sudah mengganggu kenikmatan dan keasyikan hidupnya.
Dari sudut pandang masing-masing, keduanya punya alasan yang kuat untuk saling memprotes. Masing-masing merasa benar dengan argumentasinya. Masing-masing merasa bahwa pihaklah lain harus memahami kondisinya. Masing-masing merasa tidak ada yang salah dengan alasannya.
Situasi tersebut menempatkan posisi masing-masing secara diametral. Pilihannya hanya dua, apakah Kang Bejo mengikhlaskan keasyikannya membaca koran di kamar mandi. Karena kalau dia tetap meneruskan kebiasaanya khawatir lupa mengeluarkan koran dari kamar mandi. Dan itu akan memicu omelan Yu Bejo. Atau Yu Bejo yang mengalah untuk tidak mengomel.
Sepatu
Pukul 12.30 di Area Pabrik Mah Sing Indonesia, Kawasan Industri Jababeka Cirakarang Jawabarat
Kang Bejo shalat Dhuhur di Mushola yang terletak di sudut di area pabrik tersebut. Cuaca mendung. Menjelang shalat usai, hujan turun lumayan deras. Kang Bejo tidak menaruh sepatunya di rak sepatu, tetapi di depan teras mushola. Konsentrasi Kang Bejo terusik, teringat akan sepatunya yang bisa dipastikan akan kehujanan. Kekhusyukan shalatnya tercederai.
Benar juga, saat usai salam karena kebetulan Kang Bejo ada persis di sebelah jendela nako mushola, dia bisa melihat sepatunya terkena air hujan.
Dilematis. Apakah mau langsung mengamankan sepatunya tanpa berdoa sehabis shalat atau meneruskan doa sesudah shalat dan membiarkan sepatunya basah kuyup?
Kang Bejo memilih buru-buru bangun, keluar mushola, mengamankan sepatunya tetapi segera kembali masuk mushola untuk menjalankan sunnah berdoa sehabis shalat.
Kang Bejo shalat Dhuhur di Mushola yang terletak di sudut di area pabrik tersebut. Cuaca mendung. Menjelang shalat usai, hujan turun lumayan deras. Kang Bejo tidak menaruh sepatunya di rak sepatu, tetapi di depan teras mushola. Konsentrasi Kang Bejo terusik, teringat akan sepatunya yang bisa dipastikan akan kehujanan. Kekhusyukan shalatnya tercederai.
Benar juga, saat usai salam karena kebetulan Kang Bejo ada persis di sebelah jendela nako mushola, dia bisa melihat sepatunya terkena air hujan.
Dilematis. Apakah mau langsung mengamankan sepatunya tanpa berdoa sehabis shalat atau meneruskan doa sesudah shalat dan membiarkan sepatunya basah kuyup?
Kang Bejo memilih buru-buru bangun, keluar mushola, mengamankan sepatunya tetapi segera kembali masuk mushola untuk menjalankan sunnah berdoa sehabis shalat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
