Monday, November 28, 2005

"Terpaksa" Shalat Malam

Ada satu kebiasaan yang mengganggunya. Setiap malam dia akan terbangun (nglilir- Jawa) 2 atau 3 kali untuk buang air kecil. Lumayan mengganggu, karena setiap malam tidak bisa menikmati tidur panjang, tidur yang tanpa terganggu dengan urusan ke belakang. Berbagai upaya telah dilakukan. Antara lain, tidak minum beberapa sejam sebelum tidur, men-set suhu AC di kamar tidak terlalu dingin dan berselimut tebal saat tidur. Namun, semuanya itu tak membuahkan hasil. Tetap saja terbangun di tengah malam beberapa kali. Dia memang belum mendatangi dokter untuk berkonsultasi. "Kebiasaan" ini sudah berjalan sekitar 2 tahun.

Suatu ketika, seperti biasanya dia terbangun di tengah malam. Masih dengan kantuk yang berat, dia keluar kamar menuju kamar mandi untuk buang air. Sepersekian detik, melintas dalam benaknya sebuah ayat yang artinya "Tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu itu dengan sia-sia". Saat itu juga, dia tersadar bahwa dibalik "kebangunan"-nya di tengah malam, terselip sebuah hikmah ibadah. Alangkah sia-sianya apabila dia diberi "nikmat" bisa bangun di tengah malam, tetapi tidak dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal positif. Hal positif dan utama yang bisa dilakukan di tengah malam adalah shalat malam.

Wednesday, November 16, 2005

Sandal Di Toko Sebelah

Dia pergi Metropolitan Mall Bekasi untuk membeli sandal. Di lantai dasar, terdapat toko sepatu dan sandal. Masuklah ia ke toko itu. Setelah mencoba beberapa model, ia memutuskan membeli sepasang sandal yang cocok. Namun, untuk model yang dipilihnya ukurannya tidak tersedia di toko tersebut. Pramuniaga bilang kepadanya agar menunggu sebentar, karena akan mengambil di tempat lain. Karena si pramuniaga mengatakan tidak akan lama, maka dia bersedia menunggu. Tidak lebih dari lima menit, pramuniaga sudah kembali dan membawa sandal dengan ukuran yang diminta. Harga sandal Rp. 99.900.

Dari toko tersebut, dia tidak langsung pulang, tetapi ke Matahari Departemen Store yang ada di lantai 2. Dia pergi ke bagian sandal. Alangkah terkejutnya dia. Di Matahari, sandal yang sama persis dijual dengan discount sebesar 50%, yang artinya hanya seharga lima puluh ribu rupiah.

Dia hanya bisa mengumpat tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun, kesadarannya mengingatkan bahwa itulah makna bahwa Allah akan memerikan rezeki kepada siapapun yang dia kehendaki tanpa satu pun atau siapapun yang bisa menghalangiNya. Kita tidak bisa mengatakan 'mengapa tadi saya tidak ke Matahari dulu, sehingga bisa menghemat lima puluh ribu rupiah'.

Karcis Tol Yang Berserakan

Di pintu masuk Pondok Gede Timur, Tol Cikampek-Jakarta. Di sebelah gardu tol, disediakan tong sampah bagi pengemudi yang ingin membuang tiket/resi tol. Ada antre 5 mobil membayar tol. Tiga mobil paling depan memperlakukan tiket tol dengan cara yang sama, yaitu langsung membuangnya ke dalam tong sampah. Karena tiket berupa selembar kertas kecil, maka tiket tersebut tidak masuk ke tong sampah, melainkan terbang diterpa angin. Cara ini yang dilakukan oleh banyak pengendara, sehingga banyak tiket tol yang berserakan di sekitar gardu tol. Memang, ada petugas yang selalu menyapu tiket-tiket yang berserakan tersebut.

Pengendara mobil ketiga memperlakukan tiket tol dengan cara yang sedikit berbeda. Dia meremas-remas tikel tol sehingga menjadi 'buntalan' kertas kecil. Ketika dia melemparkannya ke dalam tong sampah, maka buntalan tersebut bisa masuk ke dalamnya.

Seandainya semua pengendara mau sedikit 'bersusah-payah' meremas-remas tikel tol sebelum dilempar ke tong sampah.

Monday, November 14, 2005

Apakah Memang Buat Dia Semua?

Pada tengah hari di jalur hijau di depan Kodam Jaya, Cawang Jakarta. Dua orang lelaki sedang memotong rumput dengan mesin pemotong rumput. Seorang menghadap ke barat, seorang lagi menghadap ke timur.

Kendaraan melaju dengan tersendat dari arah Cililitan ke arah Halim, atau dari arah selatan ke utara. Sebuah kendaraan minibus berhenti tepat di sebelah salah satu pemotong rumput karena jalanan macet. Pengemudi kendaraan tersebut menjulurkan tangannya yang memegang dua lembar uang lima ribu rupiah. Dan diberikan kepada pemotong rumput yang tepat berad di sebelahnya. Pemotong rumput tersebut menerima dan langsung memasukkan dua lembar lima ribuan tersebut kedalam saku celananya. Pemotong rumput yang satunya, ketika temannya menerima uang tersebut, kebetulan sedang membelakangi temannya sehingga tidak melihat kejadian itu.

Akankah pemotong rumput yang menerima uang tersebut akan membagi uangnya kepada temannya? Ataukah dua lembar uang lima ribuan itu oleh si pemberi memang hanya diperuntukkan bagi dia seorang? Entahlah.

Monday, September 05, 2005

Alas Koran Untuk Sholat Jumat

Dua orang pemuda memasuki halaman Masjid Al-Ijtihad Tebet Mas, Jakarta Selatan untuk sholat Jumat. Berhubung tidak membawa sajadah, dan mereka bermaksud untuk sholat di halaman parkir, maka mereka membeli koran bekas yang banyak dijajakan oleh anak-anak. Koran bekas digelas sebagai alas sholat

Selesai sholat, mereka langsung berdiri, sama sekali tidak memanjatkan doa. Salah satu diantara mereka, mengambil koran dan menyobeknya menjadi beberapa bagian, sambil mengatakan kepada temannya:”Enak aja, kalau nggak disobek, ntar di jual lagi”. Setelajh itu, dia langsung membuangnya di tempat itu juga.

Betapa orang itu telah membuat dua kemungkaran sekaligus. Pertama, tidak senang kalau orang lain mendapat kesenangan. Pemulung setiap selesai Sholat Jumat mengumpulkan koran-koran bekas alas sholat. Dengan dirobeknya koran itu, maka nilainya menjadi berkurang. Kedua, dia telah membuang sampah sembarangan.

Thursday, July 14, 2005

Amal Jumatan

Di saku bajunya terdapat dua lembar uang, dua puluh ribu dan lima puluh ribu. Dia sedang duduk mendengarkan khatib menyampaikan khotbah di mimbar shalat Jumat.

Ketika kotak amal lewat di depannya, tanpa melihat dia mencabut lembaran uang dari dalam saku bajunya. Alangkah kagetnya, yang tercabut lembaran lima puluh ribu. Padahal, dia bermaksud memasukkan lembaran dua puluh ribu. Sepersekian detik, terlintas pikirannya untuk memasukkan kembali lembaran lima puluh ribu yang sudah ada dalam genggamannya, dan menukarnya menjadi dua puluh ribu.

Kesadaran ilahiayahnya mencegah melakukan ‘pertukaran’ tersebut. Dia tetap memasukkan lembaran lima puluh ribu ke dalam kotak amal. Dia menerima kenyataan itu dengan pemikiran bahwa itu sudah ketentuan Allah bahwa dia harus beramal lima puluh ribu. Dan lagi dia berpikiran amal itu bukan untuk Allah, tapi untuk kepentingan manusia.

Pertolongan Allah Tak Terduga (2)

Jumat siang itu, dia terduduk lesu di sofa di ruang keluarga. Dia sendirian di rumah. Anak-anaknya belum pulang dari sekolah. Istrinya ada keperluan ke rumah kakaknya. Hari itu, dia memerlukan sejumlah uang untuk membayar beberapa kewajibannya yang tidak bisa ditunda. Dia sedang tidak mempunyai dana tunai. Dia juga tidak mempunyai aset yang bisa dikonversi menjadi dana tunai hari itu.

Yang terpikirkan olehnya adalah menghubungi teman dekatnya untuk meminjam uang. Dia yakin temannya bisa membantunya, karena termasuk kaya. Namun, ternyata temannya sedang mengunjungi orang tuanya yang tinggal di desa di Yogyakarta. Desa itu belum terjangkau sarana telepon (kabel dan seluler). Dia pergi sampai hari Senin. Wah, gawat. Dua hari kedepan (Sabtu dan Minggu) adalah hari libur, sulit sekali bisa mendapatkan pinjaman. Padahal, hari itu atau paling lambat besuk dia mempunyai kewajiban finansial yang tidak bisa ditunda.

Sambil terduduk lemas di sofa, dia menenangkan diri sambil bertawakal kepada Allah. Dia melafazkan dzikir hasbunallahu wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi penolongku) berkali-kali. Tak terasa air matanya menetes.

Beberapa saat kemudian, dia mengambil telepon genggamnya dan mulai menuliskan SMS ke teman dekatnya tersebut. Dia sangat pesimis SMS-nya akan terbaca oleh temannya. Bismillahirahmanir rahim, dia memencet tombol send. Kebetulan, telepon selulernya tidak punya fasilitas untuk mengetahui apakah SMS-nya sudah sampai atau belum. Tiga puluh menit berlalu tanpa ada respon dari temannya. Makin lemaslah dia.

Allahu Akbar! lima menit kemudian, telepon genggamnya berbunyi menandakan ada SMS yang masuk. Ternyata balasan dari SMS yang dikirim tadi. Pesannya sangat singkat: “hubungi sekretarisku”. Alhamdulillah, Allah mengulurkan tangannya memberikan pertolongan

Friday, July 08, 2005

Jumat Gerimis

Pagi itu cuaca sudah mulai mendung, meskipun tipis. Pukul 11.30, dia bersiap-siap untuk pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Jarak masjid hanya sekitar 300 meter. Pukul 11.45, dia sudah melangkah ke halaman rumah. Rintik-rintik hujan menyambutnya. Dia ragu-ragu meneruskan langkahnya. Terjadi perang batin, antara berangkat dan tidak. Bisikan untuk tidak berangkat didasari pikiran bahwa ada halangan hujan. Manfaatkan saja dispensasi Allah bahwa kalau ada halangan diperbolehkan tidak ke masjid untuk shalat Jumat. Di sudut lain dalam hatinya, dia berharap hujan makin deras, sehingga ketidakberangkatannya mendapatkan pembenaran. Hingga pukul 11.50 dia masih duduk di kursi ruang tamu. Ragu-ragu.

Alhamdulilillah, Allah senantiasa menebarkan hidayah kepada hamba-hambaNya. Di kala keraguan itu mengusik dan menghimpit, Allah meniupkan semangat kepadanya agar berangkat ke masjid. Berangkatlah dia.

Sepulang dari masjid, syukur yang tidak terhingga dia panjatkan kepada Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Hanya dengan kuasa Allah-lah dia mampu mengalahkan godaan untuk tidak berangkat ke masjid.

Sore itu, dia ada janji akan ketemu orang untuk urusan bisnis. Untuk menemui orang itu, dia harus naik kendaraan umum dan berganti sebanyak empat kali (becak-mikrolet-koasi-bis). Waktu tempuhnya 2 jam lebih. Dia waktu itu sedang dalam masa-masa sulit. Kendaraan pribadinya terpaksa dijual untuk membiayai usahanya. Sehingga, naik kendaraan umum itu bukan hal yang biasa. Namun, kondisi memaksa dia untuk mengalami ketidaknyamanan. Sesuatu yang selama ini dia nikmati. Betapapun susahnya, dia akan menepati janjinya untuk menemui orang itu. Hujan dan harus naik kendaraaan umum akan dia jalani. Karena, ini menyangkut kelangsungan dan keberhasilan usaha yang sedang dirintisnya. Apabila hari itu dia batal menemui orang itu, akan sulit sekali mengatur pertemuan pengganti. Orang itu teramat sibuk. Janji hari ini sudah diatur dua minggu yang lalu.

Betapa menyesalnya dia apabila dia tidak berangkat ke masjid. Mengapa? Untuk menemui manusia dia rela berjuang keras, naik kendaraan umum dalam kondisi hujan. Sementara, untuk menemui Allah dia malas. Padahal, hanya berjalan kaki selama lima menit. Seandaianya hal itu terjadi, dia telah menomorduakan Allah. Syirik.

Thursday, July 07, 2005

Kucing (2)

Ada dua ekor kucing yang dipelihara di rumahnya, Obi dan Iput. Iput adalah kucing yang dibawa dari rumah lama ke rumah yang sekarang. Iput berumur sekitar 7 tahun. Untuk ukuran kucing, umur 7 tahun sudah termasuk tua. Dia kucing yang suka mengembara sampai jauh keluar rumah. Tidak jarang main-main di tempat sampah. Sehingga, dari segi penampilan dia terlihat kumuh. Di badannya terdapat beberapa bekas luka akibat berkelahi dengan kucing-kucing.

Si Iput punya ‘kelakuan’ yang sering menjengkelkan. Kalau rumah sedang kosong dan dia terkunci di dalam rumah, Iput akan buang air di kasur atau di sofa. Kadang-kadang, dia mencuri makanan di atas meja, padahal sudah ditutup dengan penutup makanan (‘tudung saji’ –Jawa).

Karena sering berulah seperti itulah, sang istri berkali-kali berniat membuang jauh-jauh Si Iput. Karena sang suami tidak setuju, selamatlah dia. Pertimbangan si suami adalah Si Iput dianggap amanat Allah yang harus dijaga. Kalau diberi amanah seringan itu (hanya memelihara seekor kucing) saja tidak sanggup, bagaimana mungkin akan diberi amanah yang lebih besar. Rejeki adalah amanah, sehingga rejeki bisa tidak diberikan Allah karena tidak mampu memegang amanah.

Kucing (1)

Sehabis sholat Isya’, dia mendengar sayup-sayup suara anak-anak kucing. Dia membuka pintu samping untuk mengetahui sebenarnya suara apa. Ternyata, memang suara tiga ekor anak kucing, kira-kira baru berumur satu bulan. Sepertinya, kucing-kucing kecil itu di buang oleh pemiliknya, dan dimasukkan ke halaman rumahnya. Suaranya terdengar seperti menangis. Tanpa induk yang melindungi dan menyusuinya, mereka tidak punya daya sama sekali menghadapi dunia ini. Mereka belum saatnya untuk disapih (mandiri).

Terlintas dalam benaknya untuk membuang kembali anak-anak kucing itu. Pertimbangannya, dia sudah punya dua ekor kucing yang harus diberi makan setiap hari. Kedua, akan sangat merepotkan sekali memelihara anak kucing yang masih menyusu, belum bisa makan sendiri. Dan lagi, sudah ada kesepakatan dengan sang istri untuk tidak menambah lagi kucing di rumahnya.

Tapi Allah Maha Rahman dan Maha Rahim. Laki-laki itu tidak dibiarkanNya untuk melaksanakan niatnya untuk membuang kucing-kucing kecil itu. Dengan membulatkan niat, dia mencari kardus bekas dan memasukkan beberapa kain bekas sebagai alas di dalamnya. Diangkatnya kucing-kucing kecil itu dan ditaruh ke dalam kardus. Dia lalu ke dapur membuatkan susu, dan mencoba “menyusuinya” dengan cara mencelupkan cotton bud ke dalam susu dan mengangsongkannya ke mulut kucing.

Wednesday, July 06, 2005

Kecoa

Tengah malam dia terbangun ingin buang air kecil. Masih dengan setengah melek, dia menuju kamar mandi. Begitu mau buang air di kloset, terlihat seekor kecoa sedang berjuang untuk naik, tapi selalu gagal, karena licin. Setiap berusaha merayap ke dinding kloset, pasti jatuh lagi ke air yang ada di dalamnya. Entah sudah berapa lama kecoa itu berjuang menyelamatkan diri.

Entah bagaimana, dalam keadaan kantuk yang masih menggelayut, dia masih berpikir untuk tidak buang air di kloset. Ada rasa kasihan terhadap kecoa. Dia membayangkan, apabila nanti selesai buang air dan dia menekan tombol penyiraman, pastilah kecoa itu tenggelam masuk ke dalam septic tank, dan bisa mati.

Dia mengambil sikat yang ada pegangannya – yang biasanya digunakan untuk menyikat kloset – untuk mengambil kecoa itu dan membiarkannya pergi.

Ada rasa bahagia setelah dia berhasil menyelamatkan kecoa itu. Saat itu, dia merasakan sekali kehadiran Allah. Di tengah malam, dihinggapi rasa kantuk yang tinggi, tidak ada orang yang melihatnya, dia mendapatkan kesadasaran yang dia yakini itu adalah hidayah Allah.

Semut (2)

Semenjak menempati rumah barunya beberapa hari yang lalu, baru pagi itulah dia hendak menyapu halaman sampingnya. Banyak dedaunan bertebaran di tanah, yang berasal dari dua pohon mangga, satu pohon sawo dan satu pohon lengkeng.

Pagi itu masih agak gelap, maklum baru pukul lima seperempat. Dedaunan itu di sapu ke satu titik di pinggir halaman, yang kemudian akan dibakar. Selesai menyapu, dia mengambil korek api. Sambil berjongkok, dia menyalakan korek api untuk mulai membakar tumpukan sampah itu. Sebelum api menyetuh koran bekas yang dijadikan bahan penyulut, dia melihat banyak sekali semut di antara tumpukan dedaunan itu. Dia membatalkan niatnya untuk membakar sampah itu. Ada semacam bisikan hati, betapa kejamnya kalau dia membakar sampah itu. Semut itu pasti akan terpanggang oleh api.

Alhamdulillah, hidayah Allah telah menghampiri laki-laki itu, sehingga dia tidak menjadi pembunuh makhluk-makhlukNya, walaupun hanya semut. Dia mengucap syukur telah diselamatkan oleh Allah dari perbuatan keji.

Akhirnya, dia memindahkan dedaunan itu ke dalam bak sampah yang memang ada di pojok halaman rumahnya. Alhamdulillah.

Semut (1)

Setiap pagi, dia memberi makan 2 ekor kucingnya. Makanannya adalah nasi yang dicampur dengan ikan. Tempat pengadonannya adalah mangkok melamik. Makanan akan ditaruh di bawah pohon di halaman samping rumahnya. Mangkok itu akan tetap berada disitu hingga waktu makan keesokan harinya. Tidak setiap hari mangkok itu dicuci, karena biasanya tidak ada sisa makanan, paling-paling yang masih lengket di mangkok. Itupun, sudah dalam keadaan kering.

Pagi itu, dia mengambil mangkok untuk mengaduk makanan kucing. Tanpa disadarinya, di dalam mangkok ada banyak semut dari jenis yang kecil. Sepersekian detik sebelum dia menuangkan nasi ke dalam mangkok, dia baru melihat semut-semut tersebut. Tapi sudah terlambat. Nasi sudah terlanjur dituangkan ke dalam mangkok. Tertimbunlah semut-semut itu dengan nasi.

Alhandulillah, dia tidak melanjutkan pengadonan nasi itu. Terlintas dalam pikirannya, betapa sadisnya kalau semut-semut tadi ikut diaduk dengan nasi dan ikan. Kemungkinan hidupnya kecil. Sejurus kemudian, dia membuang nasi itu ke bak sampah dengan harapan semut-semut tadi tetap hidup. Setelah pasti mangkok itu bebas dari semut , dia mengambil lagi nasi untuk diaduk dengan ikan.

Monday, July 04, 2005

Pertolongan Allah Tak Terduga (1)

Ini cerita tentang kejadian 20 tahun yang lalu. Tapi masih memberikan kesan yang sangat dalam. Betapa Allah itu kalau memberikan pertolongan dari arah yang sama sekali terduga.

Waktu itu dia baru lulus dari sebuah perguruan tinggi. Bersama-sama dengan 2 orang temannya, dia mengontrak rumah di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Rumah itu sekalian dijadikan kantor untuk usaha jasa di bidang konsultasi teknologi informasi. Praktis, tanpa modal sama sekali, hanya berbekal semangat atau mungkin disebut 'nekad'. Kondisi hidupnya tidak jarang sangat pas-pasan. Paling-paling hanya bertahan asal bisa makan untuk hari itu saja.

Suatu siang di bulan Puasa, dalam kondisi yang sangat terbatas alias tidak punya uang untuk hari esuk, dia dan seorang temannya pergi cari angin. Hari itu memang sedang tidak ada order. Sampailah mereka di Taman Suropati di daerah Menteng. Setelah kira-kira sejam duduk di taman, mereka berniat pulang ke rumah kontrakannya. Mereka berdiri di halte menunggu bis. Ketika sedang berdiri, melintaslah sebuah mobil. Di jok belakang duduk seorang wanita.

Wanita itu adalah kakak kandungnya yang tinggal di Bogor dan bekerja di Balai Penelitian Ternak Ciawai - Bogor. Meskipun mereka tidak berjauhan (hanya Jakarta - Bogor), namun mereka termasuk jarang bertemu. Wanita itu melihat adiknya yang sedang berdiri di pinggir jalan. Dan diapun melihat kakaknya. Berhentilah mobil itu. Siang itu, kakaknya sedang mencari berbagai peralatan laboratorium kantornya. Karena awam tentang Jakarta, kakaknya gagal mendapatkan barang-barang yang diperlukan.

Terjadilah kesepakatan, pembelian akan dilakukan oleh adiknya sebagai supliernya. Bertiga mereka pergi ke rumah Sang Adik. Sang Kakak menunggu disitu dan Sang Adik pergi ke daerah Harmoni dengan mobil dan sopirnya. Hanya perlu waktu 2 jam untuk mendapatkan barang-barang yang diperlukan. Dari transaksi tersebut, Sang Adik mendapatkan keuntungan seratus lima puluh ribu rupiah. Untuk ukuran waktu itu dan dalam kondisi 'miskin', uang sejumla itu sudah lebih dari cukup untuk menyambung hidup.

Kalau kita hanya berpijak pada perhitungan akal, maka kejadian di atas hanya dimasukkan kedalam kategori 'kebetulan', meskipun dengan tingkat probabilitas yang amat sangat kecil. Namun, sebenarnya hal itu adalah 'turun tangannya' Allah untuk membantu hambanya yang sedang kesusahan. Allah akan memberikan pertolongan dari arah yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.

Friday, July 01, 2005

Nyamuk

Pukul 1 siang di jalan tol Cikampek menuju Jakarta. Sendirian. Di dalam mobil, terbang kesana kemari seekor nyamuk. Betapa kesalnya dia dengan nyamuk itu. Mengganggu konsentrasi mengemudi. Sekejak dia melepas kedua tangannya dari kemudi dan dengan sigap dia berusaha menepuk nyamuk itu dengan kedua telapak tangannya. Meleset. Dia coba lagi, meleset lagi. Dicoba lagi sampai 5 kali, tetap tidak mengenai nyamuk. Sedetik kemudian, terlintas kesadarannya, bahwa tindakannya tadi sangat membahayakan dirinya dan orang lain. Karena lengah sepersekian detik ketika mengemudi di jalan tol dengan kecepatan 90 km per jam, bisa sangat fatal. Buat dirinya maupun orang lain.
Ah, keluarkan saja nyamuk itu dengan membuka jendeka kaca mobil. Sederhana dan aman. Tangannya sudah berada di atas tombol power window untuk membuka jendela. Sepersekian detik, terlintas bisikan hati untuk membatalkan niatnya. Betapa kasihannya nyamuk itu seandainya terbang ke luar dari mobil. Di udara yang sangat terik diantara seliweran mobil dengan kecepatan tinggi, nyamuk akan gagal terbang sampai di tempat aman. Dia akan diombang-ambingkan terpaan angin akibat lajunya kendaraan. Dia akan kelelahan untuk bertahan tetap terbang agar hidup, dan itu tidak akan terjadi.
Alhamdulillah, akhirnya sang nyamuk selamat tetap ikut dalam mobil sampai si pengemudi tiba di pelataran parkir yang teduh, dan mempersilahkan nyamuk untuk terbang. Allah Maha Pemelihara.
"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: " Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diiberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik" (Al Baqarah - 26

Rejeki Tak Akan Tertukar

Suatu siang, laki-laki itu pergi bersama anak yang berumur 12 tahun ke kerabatnya yang berjarak 1 km dengan jalan kaki. Pulangnya, bermaksud naik becak. Di ujung jalan ke arah kiri, sekitar 100 meter ada sebuah becak mangkal. Mereka berteriak memanggilnya, tidak ada jawaban, sepertinya pengemudinya sedang istirahat. Sejurus kemudian, dari arah kanan melintaslah becak. Laki-laki itu berkata kepada anaknya:"Lihat, Allah itu sudah memberi rejeki masing-masing. Kita sudah berteriak memanggil becak di ujung jalan, tapi karena memang bukan rejeki dia, ya nggak dapat". Laki-laki itu memanggil becak yang sekarang melintas di depannya. Ajaib!. Dia menolak penggilan itu, seraya berkata:"Yang diujungg itu aja Pak, saya nggak enak, ntar saya panggilin orangnya". Laki-laki itu tertegun mendengar kata-kata itu. Betapa dia mengira sudah menduga bahwa karena bukan rejekinya, maka tukang becak di ujung kehilangan kesempatan mendapatkan uang. Tenyata, pengetahuan manusia amat sangat terbatas. Allah akan memberikan rezekiNya kepada siapapun yang dikehendakiNya. Allah Maha Besar dan Maha Tahu.

Monday, June 27, 2005

Perbuatan Sepele

Kursi

Siang itu, seorang laki-laki menjemput anaknya di sekolah dasar. Dia duduk di salah satu kursi kayu yang berderet di depan aula, menunggu anaknya keluar dari kelasnya. Lalu-lalang anak-anak melintas di depannya. Satu meter di depannya, terdapat bekas muntahan, entah oleh siapa. Beberapa kali, muntahan itu terinjak oleh anak-anak yang lalu-lalang itu.

Setiap kali seorang anak akan menginjak muntahan itu, laki-laki itu mengingatkannya: “Awas Dik!” , dan si anak bisa menghindarinya. Tapi dia tidak bisa terus menerus mengawasi. Beberapa anak memang sempat melihat dan menghindarinya. Namun, dasar anak-anak, sering berjalan berombongan sambil asyik ngobrol sehingga tidak awas dengan jalan di depannya. Ah, kasihan kata laki-laki itu dalam hati, setiap ada anak menginjak muntahan tersebut.

Sejurus kemudian, dia mengangkat salah satu kursi kayu yang ada di sebelahnya dan meletakkannya di atas muntahan itu, sehingga terlindungi di antara keempat kakinya. Laki-laki itu merasa bahagia dengan perbuatannya. Perbuatan itu sangat sepele, tanpa beranjak dari duduknya, dia bisa melakukan sesuatu yang bisa menghidarkan orang lain dari sesuatu yang tidak diinginkannya. Alhamdullilah, Allah Maha Pemberi Hidayah.