Sunday, February 10, 2013

Prasangka

Dari Tanjungpriok Kang Bejo naik Mikrolet M15 jurusan Kota lewat Kampung Bandan. Kang Bejo akan ke Stasiun Kampung Bandan. Sesampainya di Jl. Lodan, supir menghentikan mikrolet dan meminggirkannya. Sang sopir memberitahu Kang Bejo agar turun disini saja. Dia menunjuk pintu besi (lebih tepat lubang) setinggi kira2 1.5 meter, yang berada di sebuah pagar, sambil mengatakan bahwa itu jalan pintas menuju stasiun. Katanya lagi di depan ada jalan kecil, lewat situ arah ke stasiun.

Kang Bejo pun turun, beberapa meter jalan terus belok kanan. Sekarang di hadapan Kan Bejo terbentang lajur rel kereta api menuju sebuah bangunan. Itulah stasiunnya, kata Kang Bejo dalam hati. Jaraknya kurang lebih 300 meter. Berjalan diantara lajur2 rel kereta api diatas hamparan batu koral yang tajam membuat Kang Bejo kecut. Ditambah lagi ditengah terik matahari. Belum lagi kekhawatiran akan lewatnya rangkaian kereta api dari arah belakang.

Setelah berjalan 200 meter Kang Bejo merasa dikerjain sama sopir mikrolet. Diujung lintasan KRL terlihat perlintasan jalan raya. Dari jauh terlihat banyak mikrolet melintas. Kang Bejo merasa dia bisa turun di depan stasiun. Bukan seperti sekarang ini, diturunkan jauh dari stasiun.

Kang Bejo berusaha berbaik sangka terhadap si sopir. Mikroletnya mungkin memang tidak melewati perlintasan, tapi jalan lain yang lebih jauh. Namun, dengan terik matahari seperti itu, prasangka baik tersebut ditimpali oleh kesan bahwa dia memang sengaja dikerjain oleh sopir.

Lima puluh meter menjelang bangunan tersebut, Kang Bejo bertanya kepada seorang petugas yang sedang memeriksa rel. Kang Bejo menanyakan pintu masuk Stasiun Kampung Bandan sebelah mana. Alangkah terkejutnya Kang Bejo, ternyata bangunan yang tadi dikiranya stasiun ternyata bukan. Petugas menunjuk bangunan nun jauh di belakang Kang Bejo.

Kesalahan kecil yang berakibat lumayan menjengkelkan. Kehilangan waktu dan tenaga. Yang disesali adalah prasangka buruk yang terlanjur men-cap sopir telah ngerjain dia.

Padahal, si sopir telah menunjukkan arah yg benar. Hanya saja, Kang Bejo tidak seratus persen memahami atau salah mengartikan petunjuk tersebut. Kang Bejo seharusnya tidak belok kanan, tapi lurus terus belok kiri. Sebenarnya, seandainya Kang Bejo tadi sebelum belok kanan, melihat ke arah agak ke kiri, maka akan terlihat sebuah bangunan, Itulah Stasiun Kampung Bandang. Seandainya, Kang Bejo tidak salah mengartikan petunjuk sopir Mikrolet tadi, Kang Bejo hanya perlu berjalan sekitar 30 meter dari pintu masuk tadi. Hanya perlu sekitar 5 menit berjalan ke arah sana.  (Kampung Bandan, 4 Jan 2013)