Friday, February 27, 2009

Missed Call Vs Adzan

Dering telepon seluler membuyarkan kekhusukan sholat Kang Bejo. Saat itu, dia sedang menunggu telepon dari sekretaris direktur sebuah BUMN yang akan mengabari kapan dan dimana pertemuan dengan direktur akan dilaksanakan. Kang Bejo sudah hampir seminggu menunggu kesempatan itu untuk mendiskusikan proposal bisnis yang diajukan ke BUMN tersebut. Secara prinsip, proposal tersebut mempunyai peluang untuk ditindaklanjuti.

Nah, dering telepon itulah yang 'dicurigai' sebagai dering telepon dari sekretaris. Kalau dibiarkan menjadi 'missed call', dikhawatirkan akan berdampak batalnya rencana pertemuan. Maklum, sekretaris direktur BUMN pastilah sangat sibuk. Sehingga, ketika dia tidak mendapat jawaban dari Kang Bejo, dia tidak akan menelpon lagi. Betapa sulitnya telepon berhasil masuk ke kantor BUMN tersebut, sementara dia belum punya nomor telepon seluler si sekretaris.

Karena panggilan pertama 'missed call', disusul bunyi dering telepon berikutnya. Pikiran Kang Bejo makin kacau. Sholat mau diteruskan atau dibatalkan. Kalau diteruskan, ya itu tadi bisa berdampak serius karena rencana pertemuan bisa batal. Kalau dibatalkan, apa iya itu bukan artinya menyepelekan Allah. Kan itu berarti lebih mementingkan manusia daripada Sang Khalik. Alangkah tidak sopannya ketika sedang 'ngobrol' dengan Allah, tiba-tiba 'ngacir' meninggalkanNya. Alangkah tidak beradabnya kalau menomorduakan Allah. Dering telepon itupun belum tentu dari si sekretaris, jangan hanya panggilan biasa. Atau bahkan salah sambung.

Astaghfirullah terlafazkan oleh Kang Bejo dalam hati mengintervensi aneka analisa terhadap dering telepon tersebut, dan kembali berusaha meluruskan konsentrasi menggapai kekhusukan sholat.

Sebabis salam akhir, Kang Bejo mengucapkan istighfar puluhan kali untuk memohon ampunanNya. Kang Bejo merasa bersalah.  Buyarnya konsentrasi ini tidak dia rasakan manakala dia sedang meeting terdengar suara adzan. Perasaannya biasa-biasa saja. Tidak gelisah, tidak merasa terburu-buru, tenang-tenang saja. Saat mendengar Adzan, Kang Bejo tidak kemudian gelisah untuk segera meninggalkan urusan dunia dan berniat melaksakanan shalat. Ada saja alasan untuk tidak segera shalat, dari sekedar malas atau "toh masih ada waktu",  sampai yang dianggap serius seperti "jika pekerjaan tidak selesai sekarang bisa berakibat fatal".

Namun, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah ketika ternyata 'missed call' tadi bukan dari sekretaris BUMN. Kalau toh dari sekretaris, biar sajalah. Toh, dia bisa telepon balik walaupun pasti susah. Kalau memang Allah menghendaki proposal bisnisnya untuk Kang Bejo, pastilah Allah memberikan jalan yang terbaiknya. Atau apabila 'missed call itu dari sekretaris, dan Kang Bejo gagal menghubungi balik dan berakibat gagalnya pertemuan dengan direktur BUMN, itu harus disikapi bahwa itulah yang terbaik buat Kang Bejo. Pengetahuan manusia hanya sebatas pada 'detik ini'. Sepersekian milyar detik kemudian, manusia tidak akan pernah bisa memastikan apa yang bakal terjadi secara pasti.

Monday, February 23, 2009

Diskon Sholat

Pukul 14.30 Kang Bejo masih di kantor Sekretariat organisasi yang di dalamnya dia menjadi salah satu pengurusnya. Dia akan sholat dzuhur. Dia kantor tersebut ada tempat sholat yang hanya cukup untuk satu orang. Ketika dia akan masuk ke tempat sholat, ternyata ada staf perempuan yang sedang sholat. Kang Bejo menunggu di ruang meeting yang berada di sebelah ruang sholat sambil meneruskan pekerjaannya di laptop,

Begitu asyiknya bekerja di laptop, Kang Bejo tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul 15.45. Artinya, waktu sholat dzuhur sudah lewat. Ketika dia menyadari bahwa dia hanya mengenakan sandal jepit, bukan sepatu, barulah dia kaget bahwa ternyata dia belum sholat dzuhur. Kang Bejo sama sekali tidak ingat bahwa selama ini sebenarnya menunggu ruang sholatkosong. Sama sekali.

Inikah cara Allah memberikan 'diskon' kepada hambaNya? Inikah kemurahan Allah yang diwujudkan dengan menutup memori Kang Bejo agar tidak ingat akan sholat? Ataukah ini cara setan dengan memblokir ingatan Kang Bejo untuk 'lupa ingatan'. Entahlah, yang pasti Kang Bejo meyakini bahwa ini adalah salah satu metoda Allah untuk memberikan pelajaran kepada manusia bahwa betapa lemahnya pertahanan spiritual manusia. Hanya dengan sebuah kesibukan dunia yang sekejap, maka manusia mudah tergelincir kedalam kealpaan dan kelalaian. Peristiwa itu mengajari Kang Bejo untuk senantiasa berdoa diberikan kekuatan agar mampu berzikir mengingat Dia tanpa lengah sekejappun. Hanya karena kerahmanaNyalah kita mampu bermunajad kepadaNya. Sama sekali bukan semata-mata karena daya upayanya sendiri manusia mampu mendirikan sholat. Tanpa dukungan hidayahNya, manusia mustahil berkehendak beribadah kepadaNya.

Sajadah Terterpa Angin

Jumat pukul 11.45. Kang Bejo meninggalkan kantor menuju masjid di belakang gedung. Sesampai di masjid ruangan masjid sudah penuh dengan jamaah. Tempat yang ada adalah di bawah pohon. Di situ pun sudah mulai dipenuhi jamaah. Masih ada dua baris tikar plastik yang satu barisnya dapat memuat 3 orang. Tikar yang di depan terlihat terkena noda bekas tanah merah. Kang Bejo duduk di tikar di baris kedua, tikarnya bersih tidak terkena noda tanah merah.

Beberapa saat datang dua laki-laki muda yang akan duduk di tikar yang terkena noda. Kang Bejo memperingatkan mereka akan adanya noda tersebut. Tapi mereka tetap duduk dengan harapan nanti ketika sholat mereka akan mendapatkan tempat yang bersih. Memang begitu, ketika shalat dimulai dan jamaah pada posisi berdiri, biasanya akan menyisakan beberapa tempat kosong yang dapat diisi oleh jamaah lain. Atau, dalam posisi berdiri akan lebih mampat dibandingkan ketika jamaah masih duduk mendengarkan khotbah.

Kang Bejo merasa bahwa dia sudah 'selamat' mendapatkan tikar yang bersih. Apalagi dia membawa sajadah yang tentunya makin membuatnya 'aman'.

Ketika shalat sudah akan dimulai, kedua laki-laki yang ada di depan Kang Bejo bergeser ke tempat lain. Tikar yang semula ditempati kedua laki-laki sampai shalat akan dimulai tetap kosong. Karena tikar tersebut berada paling kiri dari barisan, maka Kang Bejo merasa tidak berkewajiban untuk bergeser ke depan untuk menempatinya. Dan lagi lebar tikar sebenarnya tidak cukup untuk bersujud.

Karena kalau bersujud, wajah akan berada di tikar di depannnya, yang notabene kotor, maka Kang Bejo menggelar sajadahnya melintang dan menutupi sebagian tikar yang di depannya. Dengan demikian, ketika sujud maka wajah Kang Bejo di atas sajadah, bukan di tikar yang kotor.

Apa yang terjadi? Sesaat rakaat pertama dimulai, angin bertiup sangat kencang. Cukup kencang untuk menyingkap sajadah Kang Bejo. Sajadah tersibak hingga bergeser ke kaki Kang Bejo. Maksud hati menutupi tikar yang kotor, apadaya angin membuyarkannya. Angin meniup sajadah menyisakan tikar yang terkena noda bekas tanah merah.

Kang Bejo terkesima dengan sajadah yang ditiup angin ini. Betapa dia sudah menghindar dari tempat itu, ternyata justru dia mendapatkan apa yang ingin dihindarinya. Betapa dia telah menutupi tikar yang kotor dengan sajadahnya, namun tetap saja dia tidak berdaya menghindar dari mendapatkan tikar yang kotor.

Namun, ketika bersujud dengan wajah di tikar yang kotor justru Kang Bejo mendapatkan kualitas sujud yang luar biasa. Maha Suci Engkau yang Maha Suka-suka. Terserah Engkau manusia mau Engkau apakan. Suka-suka Engkau manusia Engkau tempatkan, di tempat yang bersih atau kotor. Dan Kang Bejo sadar bahwa tidak ada daya upaya selain dengan ijinNya.