Kang Bejo pagi itu menyapu halaman samping rumahnya. Banyak dedauan pohon sawo dan kelengkeng berserakan. Angin sedang bertiup lumayan kencang. Dengan angin seperti itu, tidak mudah untuk menyapu dedaunan tersebut. Ketika daun sedang disapu, diterbangkan kembali oleh angin ke segala arah. Dicoba diulang lagi, angin tiba-tiba bertiup lagi. Daun-daun berhamburan lagi.
Lama-lama Kang Bejo tidak tahan untuk menggerutui angin dan mulai timbul perasaan kesal. Sambil bersungut-sungut, Kang Bejo tetap bertahan untuk meneruskan pekerjaan menyapunya.
Kang Bejo menangadahkan wajahnya ke arah pohon kelengkeng yang daunnya lebih banyak berguguran dibandingkan dengan pohon sawo. Daun kelengkeng yang gugur mencapai hitungan ratusan, sedangkan pohon sawo hanya puluhan daun. Di pohon kelengkeng terlihat dedauan kering banyak sekali yang siap untuk berguguran.
Seketika Kang Bejo sadar bahwa dibalik peristiwa meranggasnya daun-daun sawo dan kelengkeng tersembunyi peristiwa yang komplek dan hasil kerja tangan Ilahi. Banyak pertanyaan yang melintas. Mengapa daun kelengkeng lebih banyak berguguran dibanding daun pohon sawo. Mekanisme apa yang menentukan atau menetapkan sebuah daun memenuhi kriteria untuk gugur. Kekuatan angin yang bagaimana kuatnya sehingga bisa "menyeleksi" daun yang 'pantas' untuk gugur. Perlu presisi tinggi agar kekuatan tiupan angin hanya merontokkan daun yang memang siap gugur.
Kang Bejo akhirnya sadar bahwa hanya dengan 'kesengajaan' dari Yang Maha Mengatur peristiwa bergugurannya daun-daun tersebut bisa berlangsung. Hanya dengan dirigen yang harmonis dari Yang Maha Tepat lah peristiwa tersebut berlangsung mulus.
Subhanallah!
Thursday, January 22, 2009
Wednesday, January 21, 2009
Mau Ketemu Pak Menteri
Pukul 7.30 malam Kang Bejo sudah berada di rumah. Telepon selulernya berdering dari rekannya. Sang rekan menceritakan bahwa besuk dia dan rombongan akan menghadap menteri untuk menyampaikan sebuah proposal. Kang Bejo diminta mendampingi mereka karena materi proposal merupakan kompetensinya Kang Bejo.
Kang Bejo menyanggupinya dengan antusias. Dengan semangat, dia memberikan semacam 'pengarahan' kepada rekannya apa-apa yang mesti disampaikan kepada Menteri agar 'nyambung' dengan isi kepala Pak Menteri sehingga proposalnya diperhatikan.
Dengan tergopoh-gopoh Kang Bejo pergi ke tukang cukur karena merasa rambutnya kurang pantas saat nanti menghadap Pak Menteri. Hujan gerimis tidak menghalanginya untuk berangkat naik motor. Kalau pakai mobil repot parkirnya. Dan lagi dengan mobil waktunya bisa lebih lama sementara tukang cukur sebentar lagi tutup.
Sembari kepala dicukur, Kang Bejo memantas-mantas nanti mau mengenakan baju apa. Pakai baju putih berdasi dibalut dengan jas kasual atau mau pakai baju batik. Kang Bejo memutuskan pakai batik saja. Keputusan ini menimbulkan 'masalah' baru yaitu mau batik yang mana. Kang Bejo punya 5 baju batik.
Setelah urusan baju selesai, masalahnya bergeser ke bagaimana sampai ke kantornya Pak Menteri. Rombongan akan diterima Pak Menteri pukul 10 pagi. Berarti untuk mencapai lokasi harus melewati ruas jalan yang three in one. Cara pertama adalah menghindarinya dengan menempuh jalur alternatif, artinya memerlukan waktu tempuh lebih lama. Jika cara ini dipakai maka Kang Bejo harus berangkat pukul 7 agar aman. Sebelum menghadap Pak Menteri, rombongan akan bertemu untuk menyamakan bahasa.
Cara kedua dengan menggunakan joki. Cara ini akan lebih menyingkat waktu tempuh. Cara ketiga adalah nekad menerobos three in one dengan pertimbangan ruas yang harus diterobos ditengarai aman dari pantauan polisi.
Begitu sibuknya pikirannya Kang Bejo sehingga sudah selesai cukurnya. Di saat kepalanya dipijat oleh tukang cukur, saat itulah pikiran Kang Bejo tersentak oleh bisikan yang cukup menyengat.
Alangkah nikmatnya apabila semangat dan antusiasisme dipanggil suara Adzan untuk melakukan ibadah sholat lebih besar, atau minimal sama dengan panggilan menghadap Pak Menteri ketika dipanggil . Baru ditelepon diajak menghadap Pak Menteri girang bukan main. Sementara, apabila suara adzan berkumandang dia lebih sering menawar untuk mengerjakan nanti.
Alangkah nikmatnya apabila persiapan sholat sama 'hebohnya', atau minimal sama dengan persiapan menghadap Pak Menteri. Selama ini, kalau di rumah, Kang Bejo hanya mengenakan pakaian ala kadarnya ketika sholat. Sering hanya mengenakan kaos oblong. Sementara ketika hanya mau menghadap seorang manusia saja mengenakan baju terbaiknya.
Pertanyaan yang cukup mengerikan terlintas dalam benak Kang Bejo. Apakah dia sudah menomorduakan Allah alias syirik. Kang Bejo hanya mampu melafazkan istighfar dalam hati.
Kang Bejo menyanggupinya dengan antusias. Dengan semangat, dia memberikan semacam 'pengarahan' kepada rekannya apa-apa yang mesti disampaikan kepada Menteri agar 'nyambung' dengan isi kepala Pak Menteri sehingga proposalnya diperhatikan.
Dengan tergopoh-gopoh Kang Bejo pergi ke tukang cukur karena merasa rambutnya kurang pantas saat nanti menghadap Pak Menteri. Hujan gerimis tidak menghalanginya untuk berangkat naik motor. Kalau pakai mobil repot parkirnya. Dan lagi dengan mobil waktunya bisa lebih lama sementara tukang cukur sebentar lagi tutup.
Sembari kepala dicukur, Kang Bejo memantas-mantas nanti mau mengenakan baju apa. Pakai baju putih berdasi dibalut dengan jas kasual atau mau pakai baju batik. Kang Bejo memutuskan pakai batik saja. Keputusan ini menimbulkan 'masalah' baru yaitu mau batik yang mana. Kang Bejo punya 5 baju batik.
Setelah urusan baju selesai, masalahnya bergeser ke bagaimana sampai ke kantornya Pak Menteri. Rombongan akan diterima Pak Menteri pukul 10 pagi. Berarti untuk mencapai lokasi harus melewati ruas jalan yang three in one. Cara pertama adalah menghindarinya dengan menempuh jalur alternatif, artinya memerlukan waktu tempuh lebih lama. Jika cara ini dipakai maka Kang Bejo harus berangkat pukul 7 agar aman. Sebelum menghadap Pak Menteri, rombongan akan bertemu untuk menyamakan bahasa.
Cara kedua dengan menggunakan joki. Cara ini akan lebih menyingkat waktu tempuh. Cara ketiga adalah nekad menerobos three in one dengan pertimbangan ruas yang harus diterobos ditengarai aman dari pantauan polisi.
Begitu sibuknya pikirannya Kang Bejo sehingga sudah selesai cukurnya. Di saat kepalanya dipijat oleh tukang cukur, saat itulah pikiran Kang Bejo tersentak oleh bisikan yang cukup menyengat.
Alangkah nikmatnya apabila semangat dan antusiasisme dipanggil suara Adzan untuk melakukan ibadah sholat lebih besar, atau minimal sama dengan panggilan menghadap Pak Menteri ketika dipanggil . Baru ditelepon diajak menghadap Pak Menteri girang bukan main. Sementara, apabila suara adzan berkumandang dia lebih sering menawar untuk mengerjakan nanti.
Alangkah nikmatnya apabila persiapan sholat sama 'hebohnya', atau minimal sama dengan persiapan menghadap Pak Menteri. Selama ini, kalau di rumah, Kang Bejo hanya mengenakan pakaian ala kadarnya ketika sholat. Sering hanya mengenakan kaos oblong. Sementara ketika hanya mau menghadap seorang manusia saja mengenakan baju terbaiknya.
Pertanyaan yang cukup mengerikan terlintas dalam benak Kang Bejo. Apakah dia sudah menomorduakan Allah alias syirik. Kang Bejo hanya mampu melafazkan istighfar dalam hati.
Monday, January 19, 2009
Tamu Di Kala Maghrib
Hari Ahad menjelang waktu Magrib. Hari sudah mulai gelap karena mendung mulai menutupi langit. Kang Bejo sedang memasukkan beberapa peralatan dapur ke gudang. Gudang terletak di sudut halaman sampingnya. Terdengar suara salam dari arah pintu gerbang. Kang Bejo membalas salam tersebut seraya mengatakan 'tunggu sebentar'.
Kang Bejo membukakan pintu gerbangnya. Di hadapanya berdiri seorang lelaki usia sekitar 35-an mengenakan kaos biru celana panjang coklat. Raut Kang Bejo bingung karena tidak mengenal tamu yang baru datang tersebut. Dugaan Kang Bejo adalah bahwa lelaki tersebut dari tetangga di belakang rumah yang belum lama pindah mau memperkenalkan diri. Atau malah, dia akan mengajukan keluhan terhadap Kang Bejo karena dua hari terakhir ini rumah Kang Bejo ramai karena teman-teman anaknya main hingga dini hari dan lumayan berisik.
Kang Bejo mempersilahkan tamu itu masuk ke rumahnya. Dugaan Kang Bejo meleset jauh sekali. Setelah diamati lebih seksama, raut wajah lelaki itu terlihat kusut dan seperti menahan tangis.
Sambil masih berdiri, lelaki itu mulai membuka pembicaraan dengan menceritakan penderitaannya. Dia mempunyai seorang istri yang sedang mengandung dan hampir melahirkan, sementara untuk persiapan melahirkan sama sekali belum ada. Bahwa dia delapan bulan lalu di PHK sebagai sopir mobil ambulan di RS Ananda dan hingga sekarang belum dapat pekerjaan lagi. Bahwa di sudah berusaha mencari pekerjaan sebagai sopir angkutan kota tapi belum ada lowongan. Bahwa sekeluarga dari tadi pagi belum makan karena sama sekali tidak ada yang dimakan.
Sekilas Kang Bejo berprasangka tidak baik terhadap tamunya. Jaman sekarang banyak 'modus operandi' untuk berbuat kejahatan. Jangan-jangan lelaki ini sedang memasang perangkap agar Kang Bejo bisa diperdaya entah apa. Namun, Kang Bejo akhirnya mengesampingkan prasangka-prasangka buruk tersebut dan mempersilahkan tamunya duduk di kursi di teras rumahnya.
Lelaki tersebut menceritakan kembali kesulitannya dengan lebih lengkap. Lelaki itu minta pekerjaan apa saja kepada Kang Bejo. Derita yang paling puncak adalah bahwa anggota keluarganya sampai menjelang malam belum ada yang makan sama sekali.
Tinggal Kang Bejo yang harus memutuskan uluran tangan apa yang bisa dia berikan. Kalau pekerjaan, sekarang memang belum ada. Bulan depan ada kemungkinan bisa memberikan pekerjaan kepada lelaki tersebut sebagai sopir kantornya. Saat itu, Kang Bejo hanya punya uang beberapa ribu rupiah, belum ambil di ATM. Kalau dikasihkan kurang pantas.
Akhirnya Kang Bejo menawarkan bantuan berupa beras, karena persediaannya masih lumayan banyak, cukup untuk 2 minggu makan keluarga Kang Bejo. Kang Bejo bermaksud memberikan setengahnya. Namun, alangkah kagetnya ketika lelaki tersebut mengatakan kalau bisa yang dapat langsung dimakan, artinya makanan yang sudah matang, tidak usah dimasak dulu. Luar biasa! Betapa penderitaan keluarga lelaki tersebut.
Kang Bejo masuk ke dalam rumah dan membungkuskan nasi yang cukup untuk 5 orang. Di dalam kulkas kebetulan ada 3 potong ayam yang sudah matang, walaupun dalam kondisi dingin. Kang Bejo membungkus 3 potong ayam tersebut.
Dengan diiringi permintaan maaf hanya bisa memberikan bantuan makanan, Kang Bejo menyerahkan bungkusan plastik tas plastik kresek berisi nasi dan 3 potong ayam.
Begitu tamunya hilang dari pandangannya setelah pamit, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah karena Allah meniupkan ruh kerahiman dan kerahmanannya sehingga prasangka baiknya yang mendominasi hatinya. Alangkah berdosanya apabila dia menolak memberikan bantuan. Alangkah kejamnya apabila dia dengan prasangka buruknya menilai lelaki itu akan mengakalinya atau menipunya dengan berpura-pura sangat menderita.
Kang Bejo berdoa semoga lelaki itu 'dibisiki'oleh malaikat agar datang ke rumahnya. Kemudian, malaikat melaporkan kepada Allah bahwa Kang Bejo 'lulus ujian'. Amin.
Kang Bejo membukakan pintu gerbangnya. Di hadapanya berdiri seorang lelaki usia sekitar 35-an mengenakan kaos biru celana panjang coklat. Raut Kang Bejo bingung karena tidak mengenal tamu yang baru datang tersebut. Dugaan Kang Bejo adalah bahwa lelaki tersebut dari tetangga di belakang rumah yang belum lama pindah mau memperkenalkan diri. Atau malah, dia akan mengajukan keluhan terhadap Kang Bejo karena dua hari terakhir ini rumah Kang Bejo ramai karena teman-teman anaknya main hingga dini hari dan lumayan berisik.
Kang Bejo mempersilahkan tamu itu masuk ke rumahnya. Dugaan Kang Bejo meleset jauh sekali. Setelah diamati lebih seksama, raut wajah lelaki itu terlihat kusut dan seperti menahan tangis.
Sambil masih berdiri, lelaki itu mulai membuka pembicaraan dengan menceritakan penderitaannya. Dia mempunyai seorang istri yang sedang mengandung dan hampir melahirkan, sementara untuk persiapan melahirkan sama sekali belum ada. Bahwa dia delapan bulan lalu di PHK sebagai sopir mobil ambulan di RS Ananda dan hingga sekarang belum dapat pekerjaan lagi. Bahwa di sudah berusaha mencari pekerjaan sebagai sopir angkutan kota tapi belum ada lowongan. Bahwa sekeluarga dari tadi pagi belum makan karena sama sekali tidak ada yang dimakan.
Sekilas Kang Bejo berprasangka tidak baik terhadap tamunya. Jaman sekarang banyak 'modus operandi' untuk berbuat kejahatan. Jangan-jangan lelaki ini sedang memasang perangkap agar Kang Bejo bisa diperdaya entah apa. Namun, Kang Bejo akhirnya mengesampingkan prasangka-prasangka buruk tersebut dan mempersilahkan tamunya duduk di kursi di teras rumahnya.
Lelaki tersebut menceritakan kembali kesulitannya dengan lebih lengkap. Lelaki itu minta pekerjaan apa saja kepada Kang Bejo. Derita yang paling puncak adalah bahwa anggota keluarganya sampai menjelang malam belum ada yang makan sama sekali.
Tinggal Kang Bejo yang harus memutuskan uluran tangan apa yang bisa dia berikan. Kalau pekerjaan, sekarang memang belum ada. Bulan depan ada kemungkinan bisa memberikan pekerjaan kepada lelaki tersebut sebagai sopir kantornya. Saat itu, Kang Bejo hanya punya uang beberapa ribu rupiah, belum ambil di ATM. Kalau dikasihkan kurang pantas.
Akhirnya Kang Bejo menawarkan bantuan berupa beras, karena persediaannya masih lumayan banyak, cukup untuk 2 minggu makan keluarga Kang Bejo. Kang Bejo bermaksud memberikan setengahnya. Namun, alangkah kagetnya ketika lelaki tersebut mengatakan kalau bisa yang dapat langsung dimakan, artinya makanan yang sudah matang, tidak usah dimasak dulu. Luar biasa! Betapa penderitaan keluarga lelaki tersebut.
Kang Bejo masuk ke dalam rumah dan membungkuskan nasi yang cukup untuk 5 orang. Di dalam kulkas kebetulan ada 3 potong ayam yang sudah matang, walaupun dalam kondisi dingin. Kang Bejo membungkus 3 potong ayam tersebut.
Dengan diiringi permintaan maaf hanya bisa memberikan bantuan makanan, Kang Bejo menyerahkan bungkusan plastik tas plastik kresek berisi nasi dan 3 potong ayam.
Begitu tamunya hilang dari pandangannya setelah pamit, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah karena Allah meniupkan ruh kerahiman dan kerahmanannya sehingga prasangka baiknya yang mendominasi hatinya. Alangkah berdosanya apabila dia menolak memberikan bantuan. Alangkah kejamnya apabila dia dengan prasangka buruknya menilai lelaki itu akan mengakalinya atau menipunya dengan berpura-pura sangat menderita.
Kang Bejo berdoa semoga lelaki itu 'dibisiki'oleh malaikat agar datang ke rumahnya. Kemudian, malaikat melaporkan kepada Allah bahwa Kang Bejo 'lulus ujian'. Amin.
Monday, January 12, 2009
Parkir Di Tanah Abang
Hari Jumat pukul 10.45 pagi Kang Bejo pergi ke Pasar Tanah Abang dengan mobil. Ketika melewati Jatibeting, baru pukul 11.00. Waktu sholat Jumat masih lama. Dia melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan Tol Jatibening - Cawang. Sesampai di Jl MT Haryono, waktu menunjukkan pukul 11.15. Kang Bejo sudah mau berhenti untuk sholat Jumat di Masjd di jalan tersebut. Namun dia mengurungkan niatkan dengan pertimbangan masih cukup waktu untuk sholat Jumat di sekitar atau menjelang Pasar Abang. Ketika 11.30 memasuki Jalan Mas Mansyur, yaitu jalan dimana Pasar Tanah Abang berada, lalu lintas dalam keadaan padat, bahkan bisa dibilang macet.
Seratus meter sebelum Pasar Tanah Abang, ada sebuah masjid yang lumayan besar. Kang Bejo bermaksud sholat Jumat disitu. Ketika mendekati masjid, lalu lintas makin padat dan hanya bisa bergerak beringsut-ingsut. Beberapa meter menjelang Masjid, banyak kendaraan roda empat parkir sehingga tidak menyisakan ruang untuk Kang Bejo bisa parkir. Pukul 11.55, mobil Kang Bejo tepat di depan Masjid, tetapi tidak bisa parkir karena memang sudah penuh semua.
Sebenarya, ada ruang kosong di depan masjid, yaitu di sebelah gerobak tukang soto, cukup untuk parkir satu mobil. Namun, untuk bisa memasukinya, terhalang oleh mobil patroli yang sedang parkir. Dan lagi, Kang Bejo berada di lajur kanan. Lajur kiri ada mobil yang sama-sama berhenti karena macet. Dengan kondisi seperti itu, mustahil bisa memarkir mobil di ruang kosong tersebut. Kang Bejo sudah tidak berharap bisa jumatan di masjid tersebut. Dia hanya bisa berharap masih sempat jumatan di Pasar Tanah Abang. Di lantai atas, ada masjidnya. Namun harapan itu nampaknya sia-sia, karena lalu lintas hampir tidak bergerak sama sekali.
Ketika adzan berkumandang, mobil Kang Bejo belum juga beringsut dari depan Masjid tersebut, karena macet. Ah, hari ini aku tidak meninggalkan sholat Jumat, kata Kang Bejo dalam hari. Kang Bejo hanya bisa istighfar dengan kelalaiannya ini.
Sesaat lalu lintas akan beringsut, entah dari mana datangnya ada seorang tukang parkir tiba-tiba mengacung-acungkan tangannya kepada Kang Bejo sebagai isyarat apakah Kang Bejo akan parkir di tempat yang kosong tersebut. Kang Bejo menyambut menyambut tawaran tukang parkir tersebut. Luar biasa!. Kang Bejo sebelumnya sama sekali tidak melihat tukang parkir tersebut, dan juga sedang tidak mencarinya, karena kalau ada pun percuma karena posisinya hampir mustahil untuk bisa parkir di tempat itu. Kalau masuk kepala duluan, pasti tidak bisa karena terhalang mobil patroli. Mendorong mobil patroli juga tetap tidak bisa memberikan ruang gerak untuk memarkir dengan kepala duluan. Satu-satunya jalan adalah dengan masuk mundur. Untuk bisa seperti ini, lalu lintas perlu dihentikan secara 'paksa'. Tukang parkir dengan segala 'wewenangnya' menyetop kendaraan di dua lajur agar tidak tidak begerak dulu. Mobil Kang Bejo maju beberapa meter dan masuk ke dengan mundur.
Kang Bejo benar-benar takjub dengan kejadian yang mungkin sangat sepele itu. Namun, dibalik kesepeleannya tersebut, Allah nampaknya mengintervensi proses linear menjadi proses yang berbau langit artinya proses Kang Bejo mendapatkan tempat parkir agar bisa jumatan merupakan proses yang sangat luar biasa, dan mesti disikapi sebagai sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin tukang parkir akan memberikan isyarat kepada Kang Bejo kalau hati atau pikirannya dia tidak digerakkan oleh sebuh bisikan. Tukang parkir tidak sedang dalam posisi menawar-nawarkankan ruang kosong tersebut kepada pengendara mobil yang terjebak macet di depannya. Dia tiba-tiba saja mengacungkan telunjuknya sambil menatap Kang Bejo yang sedang diam di balik kemudi. Kang Bejo pun juga tidak berharap sama sekali bisa jumatan di Masjid tersebut. Mustahil bisa parkir dengan kondisi seperti itu.
Itulah makna kun fa ya kun. Sebuah titah Allah yang mementahkan segala kemustahilan. Sebuah kehendak Allah yang mustahil tidak terlaksana. Apapun kehendakNya, alam semesta (termasuk si tukang parkir) akan tunduk mematuhinya. Tidak ada satupun yang bisa menolaknya.
Seratus meter sebelum Pasar Tanah Abang, ada sebuah masjid yang lumayan besar. Kang Bejo bermaksud sholat Jumat disitu. Ketika mendekati masjid, lalu lintas makin padat dan hanya bisa bergerak beringsut-ingsut. Beberapa meter menjelang Masjid, banyak kendaraan roda empat parkir sehingga tidak menyisakan ruang untuk Kang Bejo bisa parkir. Pukul 11.55, mobil Kang Bejo tepat di depan Masjid, tetapi tidak bisa parkir karena memang sudah penuh semua.
Sebenarya, ada ruang kosong di depan masjid, yaitu di sebelah gerobak tukang soto, cukup untuk parkir satu mobil. Namun, untuk bisa memasukinya, terhalang oleh mobil patroli yang sedang parkir. Dan lagi, Kang Bejo berada di lajur kanan. Lajur kiri ada mobil yang sama-sama berhenti karena macet. Dengan kondisi seperti itu, mustahil bisa memarkir mobil di ruang kosong tersebut. Kang Bejo sudah tidak berharap bisa jumatan di masjid tersebut. Dia hanya bisa berharap masih sempat jumatan di Pasar Tanah Abang. Di lantai atas, ada masjidnya. Namun harapan itu nampaknya sia-sia, karena lalu lintas hampir tidak bergerak sama sekali.
Ketika adzan berkumandang, mobil Kang Bejo belum juga beringsut dari depan Masjid tersebut, karena macet. Ah, hari ini aku tidak meninggalkan sholat Jumat, kata Kang Bejo dalam hari. Kang Bejo hanya bisa istighfar dengan kelalaiannya ini.
Sesaat lalu lintas akan beringsut, entah dari mana datangnya ada seorang tukang parkir tiba-tiba mengacung-acungkan tangannya kepada Kang Bejo sebagai isyarat apakah Kang Bejo akan parkir di tempat yang kosong tersebut. Kang Bejo menyambut menyambut tawaran tukang parkir tersebut. Luar biasa!. Kang Bejo sebelumnya sama sekali tidak melihat tukang parkir tersebut, dan juga sedang tidak mencarinya, karena kalau ada pun percuma karena posisinya hampir mustahil untuk bisa parkir di tempat itu. Kalau masuk kepala duluan, pasti tidak bisa karena terhalang mobil patroli. Mendorong mobil patroli juga tetap tidak bisa memberikan ruang gerak untuk memarkir dengan kepala duluan. Satu-satunya jalan adalah dengan masuk mundur. Untuk bisa seperti ini, lalu lintas perlu dihentikan secara 'paksa'. Tukang parkir dengan segala 'wewenangnya' menyetop kendaraan di dua lajur agar tidak tidak begerak dulu. Mobil Kang Bejo maju beberapa meter dan masuk ke dengan mundur.
Kang Bejo benar-benar takjub dengan kejadian yang mungkin sangat sepele itu. Namun, dibalik kesepeleannya tersebut, Allah nampaknya mengintervensi proses linear menjadi proses yang berbau langit artinya proses Kang Bejo mendapatkan tempat parkir agar bisa jumatan merupakan proses yang sangat luar biasa, dan mesti disikapi sebagai sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin tukang parkir akan memberikan isyarat kepada Kang Bejo kalau hati atau pikirannya dia tidak digerakkan oleh sebuh bisikan. Tukang parkir tidak sedang dalam posisi menawar-nawarkankan ruang kosong tersebut kepada pengendara mobil yang terjebak macet di depannya. Dia tiba-tiba saja mengacungkan telunjuknya sambil menatap Kang Bejo yang sedang diam di balik kemudi. Kang Bejo pun juga tidak berharap sama sekali bisa jumatan di Masjid tersebut. Mustahil bisa parkir dengan kondisi seperti itu.
Itulah makna kun fa ya kun. Sebuah titah Allah yang mementahkan segala kemustahilan. Sebuah kehendak Allah yang mustahil tidak terlaksana. Apapun kehendakNya, alam semesta (termasuk si tukang parkir) akan tunduk mematuhinya. Tidak ada satupun yang bisa menolaknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
