Sunday, August 16, 2009

Uang Kembalian

Hari Jumat Pukul 2 siang menjelang pintu tol Tebet, Jakarta Selatan.

Siang itu Kang Bejo menuju kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Dia sudah janji menerima tamu pukul 3 siang. Dengan asumsi bahwa hari ini dan waktu itu lalu lintasnya tidak padat, maka perhitungan Kang Bejo adalah sejam sampai di kantornya.

Seratus meter menjelang pintu tol, Kang Bejo sudah mulai mengambil jalur kanan, jalur kendaraan untuk masuk tol. Kang Bejo mengambil uang yg ada disamping kiri jok, hanya 4000 ribu rupiah, kurang seribu lima ratus.

Dia ingat di dompet ada selembar sepuluh ribu. Tetapi, ternyata tidak ada, padahal beberapa meter lagi sudah pintu tol. Kang Bejo mulai panik. Karena kalau tidak masuk tol, waktu tempuh bisa bertambah setengah jam, artinya akan terlambat setengah jam juga.

Apa boleh buat. Akhirnya, Kang Bejo urung masuk jalan tol dan terpaksa lewat jalan arteri. Sambil mengemudi dia mengingat-ingat kemana lembaran sepuluh ribu tadi. Dia ingat betul, ketika Jumatan di dompetnya ada selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu rupiah. Lembar lima ribu dimasukkan ke kotak amal Jumatan.

Kang Bejo bermaksud mampir ke ATM agar bisa memasuki jalan tol melalui pintu tol berikutnya yaitu setelah perempatan kuningan.

Menjelang lampu lalu lintas Pancoran, Kang Bejo barulah teringat kalau dia tadi telah membeli minuman dingin seharga dua ribu. Dan teringat pula uang kembaliannya dimasukkan ke dalam kantong celananya. Benar juga, ketika Kang Bejo merogoh kantong celananya menemukan uang delapan ribu. Dengan uang diketemukannya uang itu, Kang Bejo membatalkan mampir ke ATM, toh kalau hanya untuk bayar tol cukup.

Dia sangat menyesali kelupaanya itu. Lupa yg berakibat fatal. Lupa yang bisa mempengaruhi jalan hidupnya. Tamu yang akan diterimanya termasuk penting dan berpotensi menjadi mitra bisnis yg besar. Sang tamu bisa membatalkan rencana pertemuannya, dan berarti batal juga atau paling tidak dapat menunda rencana kemitraannnya.

Dari mobilnya, Kang Bejo melihat ke arah jalan tol, lalu lintas sangat lancar. Kendaraan dapat melaju dengan kecepatan 60 km per jam.

Sementara di jalur arteri, antrean menjelang lampu merah Pancoran sudah mencapai panjang lebih kurang 200 meter. Kang Bejo mulai menyalahkan dirinya sendiri.

Setengah jam kemudian, Kang Bejo melewati perempatan Pancoran. Berbekal uang delapan ribu, Kang Bejo masuk jalan tol.

Sial, seratus meter selepas pintu tol, lalu lintas di jalan tol seolah tidak bergerak, macet. Sementara, lalu lintas di jalan arteri justru sebaliknya, lebih lancar.

Kang Bejo makin gelisah. Dengan kondisi lalu lintas seperti ini, sampai kantor bisa pukul 4, artinya terlambat satu jam dari jadwal.

Di dalam mobil yang beringsut meter demi meter, Kang Bejo hanya bisa termenung. Betapa manusia sekali lagi tidak punya daya upaya apapun untuk memastikan apa yang bakal terjadi sedetik di depannya. Betapa manusia sangat rentan dikalahkan oleh kelupaan yang sangat sepele. Betapa manusia akan limbung ketika daya ingatnya diambil beberapa saat. Manusia yang merasa serba tahu ternyata tidak berdaya ketika sebagian kecil ingatannya dibungkam.
Hanya Allah-lah yang tidak pernah lupa sama sekali

Monday, August 10, 2009

Invite In Blackberry

Suatu malam di beranda samping.

Kang Bejo sedang sendirian. Dia sedang mengecek email-email yang masuk melalui perangkat Personal Data Assistance (PDA) jenis Blackberry.

Perangkat ini dilengkapi dengan fitur untuk melakukan chatting antar sesama pengguna Blackberry melalui jalur Internet. Agar dapat saling chatting, seseorang harus mengundang orang lain dan orang lain itu harus menyetujui undangan tersebut.

Ketika sedang berkutat dengan Blackberrynya, tiba-tiba indikator chattingnya menyala. Ini pertanda ada panggilan masuk. Kang Bejo mengecek panggilan tersebut.
Ternyata panggilan itu adalah permintaan atau undangan dari seseorang yang ditujukan kepada Kang Bejo agar menjadi teman chattingannya. Tetapi, Kang Bejo tidak serta memenuhi permintaannya. Persoalannya adalah yang mengundang menggunakan nama wanita yang tidak dikenalnya.

Pertimbangan Kang Bejo untuk tidak langsung memenuhi permintaan tersebut adalah tidak ingin memulai sesuatu yang berpotensi meracuni hatinya.

Racun yang ditakutinya adalah kalau benar yang mengundang itu seorang wanita dan tidak dikenalnya, maka itu membuka kotak pandora perselingkuhan.

Skenario imajiner bisa seperti berikut ini. Awalnya hanya sekedar bertegur sapa. Berlanjut ke kisah masing-masing kehidupan. Kisah-kisah inipun bisa sampai ke yang sifatnya pribadi. Dilanjutkan dengan saling curhat. Selanjutnya, pertemuan secara fisik pun tinggal selangkah.

Kang Bejo sangat takut akan skenario imajiner yang menari-nari dalam benak Kang Bejo.

Namun, ada sisi lain di hati Kang Bejo menyanggah kekhawatiran bahwa memenuhi undangan itu akan berujung pada perselingkuhan. Bisa jadi ini bisa menjadi titik awal dari suatu bisnis. Apa salahnya sih mengobrol dengan wanita. Apa salahnya berkomunikasi dengan wanita, selama komitmen dengan pasangan tidak luntur.

Satu jam berlalu sejak undangan itu muncul di Blackberry Kang Bejo. Satu jam itu pula Kang Bejo menghentikan kegiatan mengecek emailnya. Kang Bejo memikirkan undangan tersebut dan belum memutuskan apakah menerima atau menolaknya.

Ada satu argumen yang berpihak pada penolakan undangan itu, yaitu bahwa apabila sekali memulai akan sulit menghentikannya.

Argumen lain yang muncul adalah bahwa permintaan itu berasal dari seseorang yang tidak dikenal. Sebuah jebakan psikilogis yang memerangkap dialektika perselingkuhan dan komitmen.

Ada satu hal yang nyata-nyata terasa sudah merasuki pikiran Kang Bejo. Undangan seseorang itu telah menyita waktu, pikiran dan hati Kang Bejo selama satu jam penuh. Ini baru memikirkan apakah akan memenuhi atau menolaknya.

Baru berupa undangan saja sudah menguras sumberdaya ruhani Kang Bejo. Apalagi kalau nantinya jadi berinteraksi. Apakah tidak akan menggerus sumberdaya batiniahnya.

Tuesday, August 04, 2009

Sales

Minggu pagi di rumah.

Pukul 9 pagi Kang Bejo masih berkebun di halaman samping di halaman samping rumah. Kegiatan ini dimulai pukul 6. Lumayan terasa melelahkan setelah 3 jam berkutat dengan aneka pemeliharaan tanaman hias.

Ketika mau bersiap-siap mengakhiri kegiatannya, Kang Bejo mendengar suara permisi dari pintu pagar.

Di depan pintu pagar berdiri dua orang pemuda usia sekitar 23 tahun. Yang satu mengenakan kemeja putih agak lusuh. Sepatunya terlihat tidak pernah disemir. Yang kedua mengenakan pakaian yang tidak lebih baik dari temannya.

Dengan apriori, Kang Bejo menanyakan maksud kedatangannya. Ternyata kedua pemuda itu adalah tenaga penjualan (sales) dari perusahaan peralatan mesin semprot bertekanan tinggi. Peralatan ini bisa digunakan untuk mencuci mobil, karpet, sofa, lantai garasi dan lain-lain.

Ini sudah kesekian kalinya sales datang ke rumah dan menawarkan peralatan sejenis. Dengan kelelahan yang dirasakan, melayani kedua sales ini akan menambah kelelahan, padahal Kang Bejo akan mandi dan segera rebahan di tempat tidur.

Kang Bejo sudah membayangkan betapa nikmatnya setelah mandi, minum teh manis, rebahan di tempat tidur sambil baca koran.

Kang Bejo menolak kedatangan sales tersebut. Kedua sales tidak menyerah begitu saja. Jurus ampuh yang digunakan adalah bahwa mereka hanya perlu kesediaan tuan rumah untuk demo pemakaian peralatan tersebut. Bahwa demo itu bagi mereka adalah plus poin dalam penilaian kinerja mereka di perusahaan.

Permohonan demo ini disampaikan dengan kata akhir bahwa ini kesempatan ini agar dia masih bisa terus bekerja di perusahaan itu.

Kang Bejo sudah hapal dengan jurus ini, karena sales-sales sebelumnya juga mengatakan demikian. Kang Bejo tetap menolak permintaan mereka. Dan berharap mereka segera berlalu.

Sejurus kemudian terlihat raut wajah mereka meredup menandakan kekecewaan yang mendalam. Sejurus itu pula raut wajah itu tertangkap oleh pandangan Kang Bejo.

Kang Bejo tersadar. Betapa beku hatinya apabila tidak meluluskan permintaan mereka yang hanya meminta kesediaannya menyaksikan demo peralatan. Betapa tidak bersyukurnya apabila dengan nikmat yang dianugerahkan menjadi tidak peka terhadap sesama. Betapa pelitnya apabila yang diminta hanyalah waktu yang hanya sekitar 30 menit. Apa susahnya menunda kenikmatan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Toh kenikmatan itupun sebenarnya karena kasih sayang Allah.

Mereka itu susah payah berkeliling komplek untuk menjajagan barang dagangan yang tidak mudah dijual. Langkah pertama mereka adalah memang meminta kesediaan sasaran untuk di-demo-i peralatannya.

Akhirnya, Kang Bejo mempersilahkan mereka melakukan demo peralatan dengan mencuci mobil.

Sunday, August 02, 2009

Teh Botol

Hari Minggu pukul 1 siang di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.

Hari itu Kang Bejo mengantar Yu Bejo ke Pasar Jatinegara membeli peralatan dapur.

Pasar Jatinegara adalah pasar tergolong besar yang menyediakan hampir semua kebutuhan hidup manusia. Hampir semua ada.

Kang Bejo tidak mau mengikuti Yu Bejo keliling pasar, gerah dan hiruk pikuk lalu lalang orang. Kang Bejo menunggu di dekat penjual aneka piring dan mangkok.

Setengah jam Kang Bejo menunggu, tenggorokan terasa kering, haus menyerangnya. Sialnya, Kang Bejo tidak mengantongi uang. Sudah menjadi kebiasaan mereka, apabila pergi berduan dompet Kang Bejo dititipkan di tasnya Yu Bejo. Biar aman alasannya.

Kang Bejo memesan teh botol dingin sembari meminta penundaan bayaran sampai Yu Bejo. Karena Kang Bejo memang tidak beranjak dari tempat semula, pedagang minuman dingin tidak khawatir Kang Bejo akan 'melarikan diri'

Tiba-tiba telepon genggam Kang Bejo berdering. Yu Bejo minta Kang Bejo datang ke tempatnya untuk ditunjukki sesuatu. Yu Bejo memang punya kebiasaan apabila pergi berdua dengan Kang Bejo dan ingin membeli sesuatu sering minta pendapat Kang Bejo.

Tanpa sadar Kang Bejo beranjak dari tempatnya dan pergi ke tempat yang dimaksud oleh Yu Bejo.

Selesai urusan belanja, mereka berdua menuju tempat parkir mobil. Beberapa meter menjelang sampai, Kang Bejo baru teringat kalau minumannya belum dibayar.

Kalau kembali ke tempat pedagang minuman, lumayan jauh, panas dan berdesak-desakan.

Namun Kang Bejo tidak berlama-lama berpikir. Dia langsung balik badan kembali ke pedagang minuman untuk membayar.

Selesai membayar, ada rasa lega yang mengalir dalam hati, ada rasa gembira yang merasuk dan ada syukur yang terucap dalam hati.

Ganti Pesawat

Restoran Nur Pacific Surabaya, pukul 2 siang.

Hari itu Kang Bejo pergi ke Surabaya untuk urusan bisnis. Berdasarkan perkiraan lamanya urusan, Kang Bejo tidak menginap di Surabaya. Bisa pulang hari itu juga.

Pertemuan bisnis dimulai pukul 10 pagi sampai sekitar pukul 6 sore. Berdasarkan jadwal itu, jadwal penerbangan adalah berangkat pukul 8 pulang pukul 8 malam.

Ternyata urusan selesai lebih cepat yaitu pukul 3 sore. Jangka waktu sampai ke jadwal penerbangan terlalu lama yaitu 5 jam. Sementara, Kang Bejo malas kalau harus jalan-jalan di Surabaya.

Kang Bejo memutuskan untuk ke bandara Juanda dan akan mencari penerbangan yang lebih awal. Kang Bejo berharap tiketnya bisa ditukar.
Sesampainya di bandara Kang Bejo menemui seorang calo tiket untuk menukar penerbangan. Berhasil. Kang Bejo mendapatkan pesawat dari perusahaan penerbangan lain yang akan terbang pada pukul 6 sore. Lumayan mendapatkan keuntungan dua jam lebih cepat dari jadwal semula. Untuk penukaran penerbangan ini Kang Bejo harus merogoh kantong dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Ternyata, penerbangan pengganti ini mengalami penundaan selama satu jam. Pukul 7 penumpang boarding. Setelah proses boarding tuntas, ada pengumuman bahwa penerbangan ditunda lagi selama 45 menit. Sehingga, pesawat akan terbang pukul 7.45.

Penundaan masih berlanjut karena selepas pukul 7.30 ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan 3 orang anaknya membatalkan keberangkatannya dan meminta turun dari pesawat. Akibatnya, barang bawaan keluarga tersebut yang sudah terlanjur dimuat di bagasi pesawat harus diturunkan. Ini bukan bukan pekerjaan sebentar karena harus membongkar kargo pesawat.

Alhasil, pesawat mulai menuju landas pacu pada pukul 7.55, hanya selisih lima menit dengan jadwal penerbangan Kang Bejo semula.

Di dalam pesawat, Kang Bejo hanya bisa tersenyum kecut dalam hati. Ah, betapa lemahnya manusia ketika harus berkalkulasi soal kepastian. Tidak usah bicara dalam ukuran tahun, bulan atau hari, bicara dalam ukuran jam pun manusia sama sekali tidak berkutik.

Bahkan dalam ukuran detik pun, manusia tidak punya kuasa sama sekali untuk memastikan apa yang bakal terjadi sedetik kemudian. Sama sekali tidak.

Sambil merapal doa saat pesawat sedang melaju di landas pacu untuk take off, Kang Bejo hanya berucap hanya Engkau Maha Pasti, Engkau tidak akan pernah meleset sepersekian trilyun detik pun. La haula wala kuata illahil'adzim.

Dhuha

Hotel Melia Purosani, Yogyakarta pukul 8 pagi.

Urusan Kang Bejo di Yogyakarta sudah selesai. Pagi itu dia akan kembali ke Jakarta dengan pesawat yang dijadwalkan berangkat pukul 9.35.

Rencananya, pukul 8 Kang Bejo akan berangkat ke Bandara Adi Sucipto. Pukul 7 semua barang-barang bawaan sudah rapi dimasukkan ke dalam tas. Kang Bejo sudah berpakaian lengkap termasuk sudah mengenakan sepatu, siap setiap saat untuk berangkat.

Masih ada cukup waktu bagi Kang Bejo untuk sarapan di restoran hotel. Sayang kalau dilewatkan. Apalagi sarapan sudah termasuk tarif hotel.

Karena keasyikan ngobrol dengan rekan bisnisnya ketika sarapan, waktu sudah pukul 8.25. Kang Bejo buru-buru pamit dan kembali ke kamar untuk mengambil tas.

Sesampainya di kamar, reflek Kang Bejo memicu alarm yang membangunkan prosesor rohaninya. Prosesor ini mengingatkan Kang Bejo untuk melakukan sholat Dhuha. Kang Bejo memang berusaha menjaga sekuat tenaga untuk tidak meninggalkan sholat dhuha.

Tapi otak Bejo memicu alarm jenis lain yang berhubungan prosesor berdimensi rasionalitas, keeksakan dan bersifat matematis. Sebut saja ini prosesor jasmaniah.

Kedua prosesor itu tidak bisa berkompromi dan saling mematahkan. Ketika prosesor ruhani mendorong agar Kang Bejo melaksanakan sholat Dhuha, prosesor jasmaniah mengingatkan bahwa sudah tidak waktu untuk sholat Dhuha karena bisa ketinggalan pesawat.

Ketika prosesor rohani beragumentasi "Toh paling lama cuma 5 menit", prosesor jasmaniah menukasnya dengan "Lima menit bisa berakibat fatal, ketinggalan pesawat, ya kalau mudah mencari jadwal lain, kalau tidak, bisa-bisa harus diundur esok harinya. Kalau sampai mundur esok harinya, agenda bisa berantakan".

Prosesor ruhani mempertajam argumantasinya dengan "Masa urusan dunia lebih penting dari urusan dengan Allah".

Prosesor jasmaniah hampir menyerah, tapi tidak. Argumentasinya adalah "Allah sendiri yang menganugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir rasional dan eksak. Hitungan matematisnya jelas, Berangkat dari hotel 8. 45, normalnya lama perjalanan sekitar 45 menit, sampai bandara 9.30. Nah, kalau lalu lintas macet bagaimana?"

Jurus prosesor jasmaniah ini ruhani hampir meruntuhkan pertahanan prosesor ruhaniah . Satu-satunya cara untuk membungkam prosesor jasmaniah adalah dengan mematikannya.

Kang Bejo melepas sepatu, melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Dhuha.

Untuk Siapa?

Hari Jumat pukul 10 pagi di Jalan MT. Haryono, Jakarta Selatan.

Mobil Kang Bejo beriringan dengan mobil-mobil lain menuju Pancoran. Di depan Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) kemacetan sudah terjadi. Kendaraan bergerak bak siput, lambat. Kendaraan hanya bisa bergerak semeter demi semeter.

Di seberang Gedung BNN ada jalur hijau yang ditumbuhi pepohonan peneduh. Di bawah salah satu pohon, duduk seorang pengemis yang kedua matanya cacat (agak buta).

Pengemis itu mengharapkan belas kasihan para pengemudi kendaraan yang melintas di depannya. Makin macet makin senang pengemis itu, karena peluang pengendara memberikan sumbangan makin besar.

Kang Bejo berada sekitar lima meter menjelang lokasi pengemis tersebut. Di depan Kang Bejo, ada sebuah sedan dan berada di depan pengemis itu. Pengendara sedan itu membuka dan menjulurkan tangannya yang memegang selembar lima ribuan. Sang pengendara melempar lembaran itu ke arah pengemis. Sialnya, lembaran itu tidak jatuh di dekat pengemis, malah diterpa angin dan menjauhinya. Sialnya lagi pengemis tidak melihat pengendara itu melempar uang untuk dia. Terbanglah uang lima ribu darinya.

Di dekat pengemis, ada seorang pedagang melihat lembaran lima ribuan terbang. Dia berusaha meraihnya.

Kendaraan Kang Bejo beranjak dari kemacetan dan melewati pengemis yang tidak tahu apa-apa. Kang Bejo melalui kaca spion masih melihat pedagang asongan itu berhasil menangkap lembaran lima ribuan itu.

Tertutupi oleh kendaraan yang berada di belakangnya, Kang Bejo tidak melihat kejadian selanjutnya.

Yang pasti pengemis itu tidak tahu sama sekali kalau ada yang orang bermaksud memberikan uang kepadanya.

Mungkin juga pedagang asongan itu tadi tidak melihat pengendara sedan itu melempar uang itu untuk pengemis, sehingga dia berasumsi uang yang ditemukan itu 'tidak bertuan' dan dengan demikian berhak dia memilikinya.

Atau, pedangan asongan itu sebenarnya melihat kejadian 'uang terbang' tetapi tetap mengantonginya untuk dirinya sendiri.

Mudah-mudahan kemungkinan ini yang terjadi, yaitu pedagang asongan menyerahkan uang lima ribu itu kepada pengemis.

Ternyata, rejeki seseorang juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Seandainya, pedagang asongan itu tidak melihat proses terjadinya 'uang terbang' maka uang itu memang menjadi 'tidak bertuan' dan pedagang asongan berhak memilikinya.

Namun, apabila melihatnya maka ada dua kemungkinan. Kalau pedagan asongan jujur, uang itu akan diterima oleh pengemis. Apabila tidak jujur, sirnalah potensi uang lima ribu dari pengemis.

Yang jelas, kejadian itu terjadi atas pengetahuan dan ijinNya. Jadi?

Saturday, August 01, 2009

Haramkah?

Selasa malam di Yogyakarta. Empat hari ke depan Kang Bejo akan menghadiri acara Musyawarah Nasional organisasi yang diikutinya. Acara akan dilangsungkan di Hotel Melia Purosani dan dimulai esok harinya.

Kang Bejo bermalam di hotel itu juga. Malam itu, dia tidak punya acara dan tidak bermaksud kemana-mana. Kang Bejo ingin istirahat saja di hotel.

Pukul 11-an telepon genggam Kang Bejo berdering. Teman seorgansasinya, yang menjadi peserta Munas dan bermalam di hotel itu juga, menelpon. Agak sedikit malas, Kang Bejo menjawab panggilan telepon tersebut. Ternyata sang teman mengajak nyari makanan di sekitar hotel.

Sambil jalan kaki berdua, mereka memutuskan untuk mencari bakmi godhog atau bakmi rebus. Beberapa saat berjalan di Jalan Sugiyono sekitar 100 meter dari hotel ditemukanlah warung bakmi Pak Teja. Mereka sepakat untuk makan disitu.

Pelayan warung menanyakan apakah ayam atau daging. Kang Bejo memilih ayam. Temannya memilih daging. Namun, samar-samar Kang Bejo mendengar temannya sepertinya mengucapkan kata 'pake babi'. Kang Bejo tidak menelisik lebih jauh ucapan itu. Kang Bejo tidak menganggapnya serius.

Warung itu berupa warung tenda yang menempel di toko yang sudah tutup. Lokasi warung di pinggir jalan besar yang bising dan hiruk pikuk oleh kendaraan. Sehingga tidak jarang, percakapan terganggu oleh suara yang memekakkan telinga. Yaitu manakala ada kendaraan, terutama motor, yang knalpotnya "dibobok".

Sambil menunggu masakan diproses, Kang Bejo sempat bertanya-tanya dalam hati ucapan temannya tadi kepada pelayan warung. Pakai babi? Ah masak sih. Sambil makan pun Kang Bejo masih belum menemukan jawaban akan arti ucapan temannya yang samar-samar terdengar seperi ucapan 'pake babi'.

Selesai makan, Kang Bejo memutar wajahkan ke belakang ke arah tembok toko. Disitulah rupanya jawaban keraguan akan arti ucapan temannya tadi tertulis dengan gamblang. Dalam spanduk sepanjang 3 meter berlatar belakang warna hitam tertulis dengan huruf besar jawaban tersebut.

Disitu terpampang di baris pertama dengan tulisan putih 'Bakmi Pak Teja, Goreng dan Rebus'. Tulisan di baris kedua inilah yang membuat Kang Bejo kaget setengah mati. Disitu tertulis 'Ayam, Babi'

Kang Bejo tidak tahu harus bagaimana. Sebagai seorang muslim, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memakan makanan yang diharamkan.

Malam itu, Kang Bejo benar-benar masgul dengan kejadian tersebut. Dia hanya bisa merenung dan menyesali mengapa tidak menangkap isyarat yang terselip dalam ucapan temannya tadi. Mengapa dia acuh terhadap isyarat yang apabila ditelisik lebih jauh akan dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah.

'Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosa dan kelalaian ini. Amin.' Doa Kang Bejo dalam hati.

Lebih Saleh?

Hari Minggu pukul empat dini hari di rumah. Sudah hampir sebulan ini Kang Bejo punya kegiatan rutin, yaitu berjamaah sholat subuh di masjid yang berjarak sekitar 100 meter. Karena dekat, Kang Bejo berjalan kaki.

Jalur Kang Bejo melewati sebuah rumah kontrakan berukuran sekitar 20 m2 yang dihuni oleh 5 orang tukang becak yang berasal dari kampung di Jawa.

Rumah kontrakan menjorok ke dalam selebar empat meteran. Ruang depan kontrakan itulah yang dipakai untuk tidur ramai-ramai dengan hanya beralaskan tikar. Ini terlihat karena bagian depan berkaca dan tidak ada kordennya. Di dinding, banyak pakaian dicantelan. Di depan rumah kontrakan ada halaman tempat becak-becak diparkir.

Setiap subuh ketika Kang Bejo lewat di depannya, para tukang becak itu sudah bangun dan melakukan aktivitas. Kang Bejo tidak tahu persis aktivitas apa itu. Kang Bejo hanya menduga aktivitas itu tentunya adalah persiapan untuk menarik becak. Kang Bejo merasa tidak enak untuk memeloti aktivitas mereka. Toh buat Kang Bejo tidak penting dan tidak ada gunanya untuk mengetahui lebih jauh. Setiap kali lewat, Kang Bejo tidak pernah memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah merek. Kang Bejo biasanya berlalu dengan agak cepat, karena dia ingin sampai di masjid 15 menit sebelum adzan berkumandang. Kebiasaan itu membuat Kang Bejo tidak tahu sama sekali para tukang becak itu beraktivitas apa di pagi yang masih gelap.

Setiap kali Kang Bejo lewat setiap kali itu pula menyayangkan tukang becak kenapa mereka tidak ke masjid saja, seperti halnya dia. Toh sudah bangun dan terlihat sudah beraktivitas dengan intens.

Kang Bejo merasa bersyukur diberi nikmat dalam bentuk niat, kesempatan, kemampuan dan realisasi melaksanakan sholat subuh berjamaan di masjid. Rasa syukur ini bertambah karena Kang Bejo secara ekonomi lebih baik dari tetangga di lingkungannya.

Namun, disinilah bencana mulai mengintip. Rasa syukur tersebut berpotensi menimbulkan kesombongan akan kesalehan beribadah. Bisikan bahwa dia merasa lebih saleh dibandingkan dengan para tukang becak adalah ancaman terhadap kemurnian ibadahnya. Bisikan bahwa dia mampu menjalankan syariat agama lebih baik dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menodai keikhlasan beribadah Kang Bejo. Rasa bahwa dia lebih mampu bersyukur dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menggerogoti ketaqwaannya pada Allah.

"Coba kalau mereka sholat subuh" begitu lontaran pikiran Kang Bejo setiap kali melewati rumah kontrakan pada waktu berjalan menuju masjid untuk berjamaah sholat subuh.

Namun pagi itu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Entah mengapa Kang Bejo melambatkan langkah kakinya dan memalingkan wajahnya untuk mengamati lebih seksama apa yang sedang mereka lalukan.

Kang Bejo tertegun sejenak melihat apa yang dilakukan oleh 3 orang tukang becak di ruangan yang diterangi oleh lampu bohlam 25 watt. Ketiga orang itu ternyata sedang berjamaah sholat subuh. Mereka sudah pada penghujung sholat yaitu sudah pada posisi duduk takhiyat akhir.

Pemandangan itu hanya sekilas, hanya beberapa detik saja. Namun, momen sekejap itu mampu menyentak dan menggoncangkan ruang batin Kang Bejo. Pemandangan tersebut mampu memporakporandakan kesadaran Kang Bejo akan arti kesalehan. Pemandangan itu serta merta menjungkirbalikkan perasaan bahwa lebih saleh dari tukang becak tetanggatnya itu.

"Ah jangan-jangan aku kalah jauh ketaqwaannya dibandingkan dengan mereka yang tidakl pernah berjamaan sholat subuh" Kang Bejo mulai menggugat diri sendiri.

Kang Bejo mulai merasa malu pada diri sendiri mengingat dia pernah punya perasaan menyayangkan aktivitas tukang becak tetangganya yang tidak ke masjid.

Kang Bejo beristigfar dalam hati.

Bukan Rejekinya

Pukul empat sore di perempatan Pejompongan Jakarta Pusat. Lampu lalu lintas dalam kondisi merah. Mobil Kang Bejo berada di antara antrian kendaraan di perempatan jalan tersebut.

Yu Bejo yang duduk di samping Bejo menyiapkan selembar uang ribuah untuk diberikan kepada seorang pengemis. Pengemis itu berjalan dari depan mobil Kang Bejo dan mengarah kesitu.

Yu Bejo menunggu pengemis itu berhenti di samping mobil. Yu Bejo memang belum membuka kaca jendela. Dia akan membuka kaca jendela manakala pengemis sudah berhenti di samping mobil.

Jari Yu Bejo sudah menyentuh tombol power window dan bersiap-siap membuka kaca jendela. Pengemis itu tinggal selangkah lagi sampai di samping jendela kiri depan mobil Kang Bejo.

Ketika pengemis tepat di samping kiri pintu kiri depan, Yu Bejo menekan tombol power window untuk membuka kaca jendala. Saat jendela terbuka sekitar lima senti, pengemis tidak berhenti. Pengemis jalan terus melewati mobil Kang Bejo menuju mobil yang antre di belakang mobil Kang Bejo.

Sambil menaikkan kaca jendela yang sempat terbuka sedikit, Yu Bejo bergumam pendek "Bukan rejekinya". Kang Bejo mengiyakan gumaman sang istri, sambil menatap melalui kaca spion pengemis itu berjalan ke belakang.

Kang Bejo hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Penumpang mobil di belakang Kang Bejo ternyata memberi pengemis itu selembar lima ribuan.

Kang Bejo mereka-reka mengapa pengemis tadi melewatinya dan menuju ke mobil di belakangnya. Apakah penumpang di mobil itu membuka kaca jendela dan melambai-lambaikan selembar lima ribuan kepada pengemis. Rasanya tidak mungkin. Apakah pengemis menduga bahwa penumpang di mobil Kang Bejo tidak akan memberinya uang, sehingga mendingan dia melewatinya? Rasanya kemungkinan ini juga mustahil, karena mobil Kang Bejo tergolong mobil mewah. Atau, dia punya semacam standard operation procedur dalam memilih mobil mana yang akan dimintai sumbangan? Entahlah.

Yang pasti, sesaat setelah pengemis menerima sumbangan dari penumpang mobil di belakang mobil Kang Bejo, lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Itu berarti pengemis harus menyingkir ke pinggir atau ke pembatas jalan.

Lagi-lagi sebuah peristiwa yang sangat sederhana tetapi mengandung dimensi tarekat yang menukik. Sebuah peristiwa yang sama sekali sepele. Bukan peristiwa yang spektakuler dan dramatis. Sebuah peristiwa yang secara visual hanya merupakan satu di antara milyaran kejadian yang terjadi setiap detik di dunia.

Kang Bejo tertohok dengan kejadian tersebut karena terkait dengan sepatah gumaman Yu Bejo sebelumnya, yaitu "bukan rejekinya".

Manusia yang pengetahuannya sebatas detik ini sering merasa tahu tentang kehidupan. Manusia sering sok tahu dan sering memastikan sesuatu padahal sama sekali tidak mempunyai pengetahuan apapun.

Ketika Yu Bejo bergumam "bukan rejekinya", Kang Bejo berkeyakinan bahwa pengemis itu "kehilangan" seribu rupiah karena tidak mendapatkan sumbangan yang sudah disiapkan oleh Yu Bejo sebesar seribu rupiah. Kang Bejo meyakini bahwa rejeki yang sudah di depan mata, tinggal diambil bisa sirna.

Keyakinan Kang Bejo di atas berantakan sesaat setelah menyaksikan pengemis itu mendapatkan selembar lima ribuan. Ternyata pengemis tidak "kehilangan" tetapi mendapatkan lebih dari itu.

Seandainya pengemis tadi berhenti di sebelah mobil mobil Kang Bejo dia memang akan mendapatkan seribu rupiah tetapi kehilangan kesempatan mendapatkan lima ribu rupiah. Karena lampu lalu lintas keburu berubah hijau, dan berarti pengemis harus menyingkir.

Kang Bejo hanya mampu bertafakur. Ya Allah, Engkau memang Maha Pengatur dengan tingkat pengaturan yang berpresisi tinggi. Engkau memang berhak sepenuhnya terhadap rejeki yang Engkau tebarkan kepada manusia. Betapa manusia tidak akan pernah mampu memahami mekanismeMu dalam mendistribusikan rejekiMu.

Distribusi rejeki pastilah berdasarkan asas keadilan versi Allah. Versi yang dijamin seratus persen keakuratan dan kesahihannya.

Siapa atau apa yang menggerakkan hati pengemis agar melewati mobil Kang Bejo dan menuju mobil di belakangnya? Entahlah!

Wednesday, July 29, 2009

Si Bagus

Sore hari di ruang keluarga. Kang bejo duduk di sofa sendirian sambil mendengarkan murotal (lantungan ayat-ayat Al-Quran) dengan headset yang tersambung ke PDA (Personal Digital Assistant).

Si Bagus, kucing Kang Bejo yang masih kecil, naik ke sandaran sofa, mendekati telinga kiri Kang Bejo dan duduk.

Si Bagus jenis kucing yang bawel dan suka "ngglibet" di sekitar Kang Bejo. Dia pasti mengeong-ngeong ketika berada di dekat Kang Bejo. Kang Bejo memang senang dengan kucing, sehingga kebawelan Si Bagus tidak mengganggunya. Malah, meongan Si Bagus merupakan hiburan tersendiri bagi Kang Bejo.

Agar tidak mengganggu ketenangannya mendengarkan murotal, Kang Bejo mengusir Si Bagus agar menjauh darinya. Si Bagus tidak bergeming dari tempat duduknya. Beberapa kali Si Bagus diusir, tapi setiap kali diusir setiap kali pula kembali ke sandaran sofa dan duduk di sebelah telinga kiri Kang Bejo.

Kang Bejo tetap bersikukuh untuk "menyingkirkan" Si Bagus agar jauh-jauh darinya. Kang Bejo membawa Si Bagus ke halaman samping dan menutup pintu samping.

Kang Bejo kembali ke sofa dan me-resume pemutaran murotal di PDA-nya yang sebelumnya di-pause karena mau mengusir Si Bagus.

Tapi baru bebetara detik Kang Bejo duduk di sofa, Si Bagus mendekati Kang Bejo dari arah ruang tamu. Rupanya jendela ruang tamu terbuka. Si Bagus meloncat ke sandaran sofa dan mendekati telinga Kang Bejo.

Kang Bejo menyerah dan membiarkan Si Bagus duduk di situ. Sore itu, Si Bagus menunjukkan sikap yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Dia dengan takzim duduk mendekatkan diri di sebelah telinga kanan Kang Bejo.

Kang Bejo tersadar jangan-jangan Si Bagus bermaksud ingin mendengarkan murotal. Kang Bejo seperti mendapat sindiran. Kucing pun ingin bermunajat kepadaNya dengan mengengarkan aluran ayat-ayat suci Al-Quran.

Alam semesta, kecuali manusia, memang selalu rajin mengingat kebesaran Yang Maha Agung. Manusia? Sering melupakanNya. Manusia sering tidak sadar akan kelemahannya sehingga merasa tidak membutuhkanNya.

Voreyder Di Jalur Puncak

Minggu sore Kang Bejo dan anak istri dalam perjalanan pulang dari Kebun Teh di Puncak. Lalu lintas sangat padat, bahkan bisa dibilang macet.

Mobil Kang Bejo salah satu dari ratusan mobil yang mengular mulai dari pertigaan Taman Safari. Kendaraan hanya bisa beringsut-ingsur, semeter demi semeter.

Sudah hampir sejam lamanya Kang Bejo menjadi korban kemacetan. Lumayan menguras tenaga dan emosi. Tapi apa boleh buat.

Orang kota itu memang aneh, bersedia bercapai-capai ria untuk refreshing ke daerah Puncak,hasilnya hanya kesal karena macet.

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara sirene. Lewat kaca spion, Kang Bejo bisa melihat ada mobil patroli polisi yang mengabil jalan sebelah kanan. Di belakangnya ada beberapa mobil yang mengikutinya yang semuanya menyalakan lampu hazard.

"Koq gitu amat sih orang" gumam Kang Bejo dalam hati. Mbok ya ikut macet-macet. Sama-sama warga negara. Tapi gejala mobil patroli polisi yang mengawal rombongan warga biasa sudah jamak.

Dari dulu Kang Bejo benci sama orang yang karena punya duit terus menzalimi orang lain, yaitu dengan minta pengawal mobil patroli polisi. Padahal, jalan sedang macet. Artinya, mereka dengan kekayaan menindas orang lain.

'Biarlah' pikir Kang Bejo.

Tapi, sekejap terjadi perubahan perilaku yang cukup drastis. Begitu, saat ekor dari iringan-iringan melintas di sebelah Kang Bejo ada kesempatan bagi Kang Bejo masuk ke dalam rombongan.

Lupa akan kebencian terhadap perilaku iringan-iringan tersebut, Kang Bejo mengarahkan mobilnya ke kanan dan masuk ke dalam iring-iringan.

Kang Bejo ternyata menikmati menjadi orang yang selama ini dibencinya. Dengan jumawanya Kang Bejo melarikan mobilnya di jalur kanan mengikuti rombongan. 'Enak juga ya' batin Kang Bejo.

Saturday, July 18, 2009

Salah Hitung

Sudah enam belas hari Pak Salim bekerja di rumah Kang Bejo. Pak Salim adalah tukang kayu yang diperkerjakan oleh Kang Bejo untuk melakukan perbaikan rumah. Hari itu hari terakhir. Sore pukul 5 Pak Salim sudah merapikan dan membersihlan tempat bekas bekerjanya. Peralatanpun sudah dimasukkan kedalam tasnya. Pak Salim duduk di kursi di bawah pohon kelengkeng menunggu Kang Bejo.

Kang Bejo melakukan kesalahan ketika menerima Pak Salim bekerja padanya. Kang Bejo tidak menanyakan berapa upah Pak Salim per harinya. Sore itu Kang Bejo bingung mau memberikan upah berapa untuk pekerjaan selama enam belas hari. Kang Bejo mencoba berasumsi dengan upah yang pernah diberikan kepada seorang tukang beberapa bulan lalu. Waktu itu upahnya adalah lima puluh ribu per hari.

Dengan durasi pekerjaan 16 hari, Pak Salim akan mendapatkan upah delapan ratus ribu rupiah. Kang Bejo masuk rumah untuk mengambil uang. Saat beranjak, terlintas dalam pikiran Kang Bejo untuk memberikan tambahan upah sebesar seratus ribu rupiah. Sehingga total uang yang harus disiapkan adalah sembilan ratus ribu rupiah.

Kang Bejo sudah menenteng lembaran seratus ribuan. Meskipun Kang Bejo sudah menyiapkan uang sesuai perhitungannya, Kang Bejo menanyakan kepada Pak Salim berapa upah yang harus dibayarkannya. Pak Salim menjawab dengan 'Terserah, berapa saja'. Kang Bejo bilang bahwa dia biasanya mengupah tukang sebesar lima puluh ribu rupiah per hari. Pak Salim mengiyakan perhitungan Kang Bejo, tanpa ada tanda-tanda keberatan.

Kang Bejo menyerahkan uang sambil menghitung jumlahnya lembar demi lembar, sambil berkata ada bonus sebesar seratus ribu. Selesai. Pak Salim mengucapkan terima kasih dan pulang.

Sejurus kemudian, Kang Bejo memyadari ada kesalahan menyerahkan jumlah uang kepada Pak Salim. Jumlah yang seharusnya diserahkan adalah sebesar sembilan ratus ribu rupiah, yaitu delapan ratus ribu untuk upah kerja selama enam belas hari ditambah bonus seratus ribu rupiah. Tadi Kang Bejo menghitung jumlah lembaran seratusan ribu rupiah sebanyak sepuluh kali atau sejumlah sejuta rupiah. Kang Bejo kelebihan seratus ribu rupiah menyerahkannya.

Ah, Allah memang suka "ngerjain" umatNya. Kang Bejo merasa sudah menyiapkan uang dengan jumlah yang benar. Tapi ternyata, masih kalah dengan 'tipu daya' Allah yang menghendaki hari itu Pak Salim akan mendapatkan uang sebesar satu juta. Kebetulan Kang Bejo menjadi 'korban' dari rencana itu.

Kang Bejo tidak berbuat apa-apa dengan 'kesalahan' tersebut. Dia hanya bergumam "suka-suka EngkauMu lah Ya Allah untuk menebarkan rizkimu di muka bumi, kepunyaanMu lah semua yang ada, jadi ya terserah sajalah".

Tuesday, May 19, 2009

Ulat (2)

Dua bulan setelah 'insiden'ulat yaitu ketika Kang Bejo mengurungkan niatnya membuang ulat dari pohon kamboja, Kang Bejo berniat berkebun lagi.

Ajaib!. Pohon kamboja yang dua bulan lalu gundul, habis daunnya karena dimakan ulat, kini mulai bertunas. Walaupun masih masih sangat kecil tunasnya, namun tanda-tanda kehidupan mulai menyeruak.

Kang Bejo memandangi pohon itu dengan seksama. Dua bulan lalu, ulat telah menghabiskan daun pohon kamboja hingga tinggal batangnya. Ternyata, selama dua bulan ini pohon tersebut memproses elemen kehidupannya sehingga mampu meregerasi dan melanjutkan proses kehidupannya. Selama dua bulan ini, pohon tersebut mampu merespon tabiat alam semesta secara arif, yaitu rela memberikan yang terbaik untuk keberlangsungan hidup makhluk lain.

Kang Bejo makin takjub ketika memandang ke pohon di sebelahnya dimana dulu dia meletakkan ulat yang semula akan dibuangnya ke tempat sampah. Tidak ada satupun daun yang dimakan oleh ulat. Dan ulatpun sudah tidak ada, pastilah sudah menjadi kupu-kupu dan terbang entah kemana.

Apa yang membuat Kang Bejo takjub adalah bahwa alam semesta punya takaran dengan presisi tinggi agar keseimbangannya berjalan dalam harmoni. Ketika ulat sudah cukup makan, maka di akan segera bermetamorfosa menjadi kupu, tidak pernah kemudian berlama-lama menjadi ulat yang akan memakan dedauan. Dengan takaran tersebut, maka pohon kamboja terjaga dari kepunahan, ulat dapat melanjutkan etape kehidupannya, dan kupu-kupu 'tercipta' untuk menyerbuk bunga-bunga.

Begitulah harmoni orkestra alam semesta di bawah dirijen Sang Maha Pengatur.

Monday, May 18, 2009

Ulat (1)

Sehabis jalan-jalan pagi di hari Minggu, Kang Bejo berniat berkebun di halaman samping rumahnya. Banyak tanaman hias yang ditanam di pot. Kang Bejo bermaksud menyiangi pot-pot tersebut.

Ada belasan tanaman bunga kamboja yang ditanam Kang Bejo di pot-pot. Hampir semuanya ada bunganya, ada yang merah, ada yang putih ada yang pink.

Ada satu tanaman yang tidak ada daunnya, apalagi bunganya. Tinggal batang yang tegak di atas pot. Kang Bejo menghampiri pot tersebut. Ternyata, di batang pohon kamboja, ada dua ekor ulat bulu yang bertengger.

Kang Bejo mencari barang untuk mengambil ulat-ulat tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Ditemukannya sepotong ranting pohon sawo di tanah. Kang Bejo berusaha melepaskan pegangan ulat pada pohon kamboja dengan ranting tersebut.Berhasil.


Ketika Kang Bejo membuka tutup tempat sampah untuk membuang ulat tersebut, terlihat aneka macam sampah didalamnya. Ada sampah dapur berupa makanan basi, ada sampah kantong-kontong plastik, ada bekas kelupasan cat tembok dan beraneka macam sampah lainnya.

Kang Bejo ragu-ragu membuang ulat tersebut ke dalam tempat sampah karena Kang Bejo yakin bahwa ulat tersebut akan mati pelan-pelan di lingkungnya yang baginya sangat ganas. Ulat adalah binatang yang hanya hidup dengan memakan dedaunan. Itupun tidak semua daun pohon cocok untuk makanannnya. Hanya daun tertentu yang cocok.

"Ah, kenapa aku memikirkan kelangsungan kehidupan ulat. Toh dia sudah menghabiskan daun pohon kambojaku", pikir Kang Bejo."Itu kan hanyalah seekor ulat yang menjijikannya", sambung Kang Bejo. Yang lebih provokatif lagi adalah lintasan pikiran dalam benak Kang Bejo sebagai berikut:"Sok tahu kamu memastikan bahwa ulat tersebut akan mati di tempat sampah". Dan, "Kamu kan tidak membunuhnya, hanya membuangnya, jadi tidak apa-apa".

Beberapa saat Kang Bejo ragu. Namun,akhirnya Kang Bejo membawa ulat tersebut ke salah satu pot tanaman Kamboja. Di letakknya ulat itu di atas daun.

Biarlah ulat melanjutkan kehidupannya dengan nyaman. Toh dia pasti sudah kenyang karena telah menghabiskan daun satu pohon. Sebentar lagi ulat akan bermetamorfosa menjadi kempompong yang selanjutnya akan menjadi seekor kupu-kupu.

Thursday, May 14, 2009

Menawar Shalat

Pukul 5 sore Kang Bejo mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dia tidak langsung ke rumah, tapi harus ke kantor dulu. Ada proposal perijinan yang harus dia bahas malam itu. Besuk proposal itu sudah harus diserahkan ke Instansi Pemerintah.

Pukul 10 malam, proposal selesai dikerjakan. Hari itu, badan terasa letih sekali. Kang Bejo hari itu berangkat ke Yogya dengan pesawat pukul 7 pagi. Dari rumahnya ke bandara memerlukan waktu 2 hingga 2.5 jam, sehingga Kang Bejo sudah harus bangun pukul 4 dini hari .

Saat di Yogyakarta, Kang Bejo sudah ditunggu oleh rapat yang cukup melelahkan fisik dan mental. Karena padatnya acara, makan siang sampai terlewatkan. Pukul 3 sore Kang Bejo sudah meluncur ke Bandara Adi Sucipto untuk pulang ke Jakarta. Alhasil, dia tidak sempat istirahat barang sejenak pun.

Dari kantornya, usai menyelesaikan proposal Kang Bejo pulang ke rumah. Tiba di rumah pukul 12.00 karena lalu lintas ternyata padat.

Badan Kang Bejo benar-benar letih, dengan usia yang mendekati kepala lima, stamina Kang Bejo mudah merosot. Mata juga terasa mengantuk sekali. Kang Bejo melepas lelah sejenak di sofa ruang tengah. Dia belum mengerjakan shalat Isya'. Rasanya berat sekai untuk mengerjakannya.

Hatinya berbisik, 'Ya Allah boleh tidak aku tidak mengerjakan shalat Isya'. 'Bukan karena aku membangkang perintahMu Ya Allah, ini semata-mata karena badanku benar-benar tidak berdaya' bisiknya dalam hati. 'Toh, Engkau juga sudah pasti tahu persis bagaimana kondisi badanku' Kang Bejo melanjutkan rajukan kepadaNya.'Masak sih nggak boleh, Ya Allah'. Kang Bejo mencoba terus beragumentasi.

Kang Bejo membiarkan pikirannya menjalar kemana-mana dulu. Kang Bejo banyak menemukan 'pembenaran' terhadap kemalasan mengerjakan shalat. Mulai dari "sesekali kan boleh", "masak sih Allah tidak mengerti kondisi badanya yang amat sangat letih", sampai "Allah kan Maha Penyayang, pasti membolehkan".

Akhirnya, Kang Bejo merasa 'menemukan' jawaban dari Allah. Kang Bejo disadarkan oleh kesadaran bahwa dia sekarang dalam keadaan sehat wal'afiat, hanya saja saat ini badannya benar-benar letih. Letih bukanlah sakit. Masak hanya karena letih terus memalingkannya dari ibadah kepadaNya. Bagaimana nanti kalau tubuhnya sakit. Bagaimana nanti kalau kesehatannya mulai diambil olehNya. Akan makin malas menghadap Dia dengan alasan sakit. Baru segini saja sudah mengajukan keringanan dalam beribadah, yang seberarnya tidak berat-berat amat.

Kang Bejo akhirnya bangkit dari sofa menuju kamar mandi dan mandi air hangat. Betapa siraman air dari shower mampu menyegarkan badan dan kalbu pun mulai tercerahkan.

Tepat lonceng jam berbunyi sekali yang menandakan hari sudah pukul 1 dini hari, Kang Bejo mengucapkan takbirotul ikhram rakaat pertama shalat Isya'.

Saturday, May 02, 2009

Tukang Minuman Di Kuburan

Siang itu Kang Bejo melayat ke kuburan di Jalan Casablanka Jakarta Selatan. Ada kerabatnya yang meninggal akibat sakit gula.

Siang yang terik membuat para pelayat tersengat haus. Di jalan antara dua blok pemakaman ada seorang laki tua yang mendorong gerobak minuman dalam kemasan. Ada air dalam kemasan, teh botol, minuman berelektrolit, minuman bersoda dan minuman energi.

Kang Bejo membeli sebotol minuman dan dengan cepat menengguknya hingga habis.

Setelah membayar, Kang Bejo merasakan ada pikiran yang mengusiknya yaitu ihwal rejeki.
Ini kan di kuburan, salah satu tempat yang paling dihindari manusia. Tempat dimana manusia merasakan kengerian akan ketidakpastian 'masa depan', tempat dimana manusia mengganggap disinilah segala-galanya berakhir. Tempat dimana manusia menganggap sebagai serba kelam. Pokoknya,kuburan adalah tempat dimana segala kehidupan di dunia berakhir.

Kang Bejo semula menganggap hal itu hanyalah sebuah mekanisme supply and demand sederhana. Ada permintaan (dari pengunjung kuburan), maka ada penawaran (dari penjual minuman).

Namun, di balik penggalan kehidupan lelaki tua penjual minuman itu, Kang Bejo memahaminya sebagai sebuah kesadaran ruhani yang dalam akan esensi dan ihwal rejeki.

Jangankan di tempat yang masih 'hidup', di tempat kematianpun Allah tidak segan-segan menebarkan rejekinya. Kasih sayang Allah meliputi setiap jengkal alam di jagat semesta ini.

Sambil beranjak menuju pintu keluar tempat pemakaman, Kang Bejo melihat beberapa orang sedang membersihkan rumput liar dan semak yang mengelilingi sebuah pusara. Dari penampilannya, Kang Bejo bisa memastikan bahwa mereka bukanlah kerabat orang yang dikubur di pusara itu. Mereka pastilah sekumpulan 'profesional' yang mendapatkan upah dari kerja mereka membersihkan pusara tersebut. Lagi-lagi, pemandangan ini makin membuat Kang Bejo makin yakin bahwa Allah mennebarkan rejeki bagi umatNya di setiap sudut dunia. Tinggal bagaimana manusia menggapainya.

Tidak sampai disitu saja, Kang Bejo teringat pada orang-orang yang tadi berdoa di samping makam kerabatnya beberapa saat setelah jenazah selesai dimakamkan. Orang-orang itu juga merupakan sekumpulan 'profesional' yang mendapatkan penghasilan dari 'seremoni doa'.

Kang Bejo membayangkan Allah tersenyum melihat para pendoa 'menjual' hak CiptaNya berupa doa tanpa membayar royalty sedikitpun kepada pemilik doa yaitu Allah. Kang Bejo membayangkan Allah bertitah kepada malaikat agar apabila di dalam hati para pendoa itu ada sebersit nawaitu (niat) beramal, maka berilah bonus pahala.

Monday, March 02, 2009

Allah atau Kucing?

Adzan Isyak sudah berkumandang. Kang Bejo sudah ada di rumah dan bersiap-siap akan mengambil air wudlu. Namun, ketiga kucingnya, Obi, Uyip dan Ucrit 'meong-meong' dengan ributnya minta makan. Hari itu, Kang Bejo memang agak malas memberi makanan kesukaan mereka, yaitu nasi diaduk dengan ikan. Kang Bejo hanya memberi makan mereka dengan makanan instan dalam kaleng yang dibeli di supermarket.

Ketiga kucingnya selama ini tetap minta makanan kesukaannya walaupun sudah diberi makan dengan makanan instan tersebut. Ketiga kuncingnya memang kurang bersemangat makan apabila diberi makanan kaleng. Mereka terlihat masih kelaparan.

Mana yang duluan dikerjakan, shalat terlebih dahulu atau memberi makan kucing? Niat Kang Bejo saat itu untuk shalat tepat waktu sedang menggebu-gebu. Kalau kemudian niat itu terlantar hanya karena memberi makan kucing alangkah ruginya, pikir Kang Bejo. Namun, mengerjakan shalat terlebih dulu baru memberi makan kucing, mencuatkan problem tersendiri. Pastilah ketiga kucingnya akan 'berisik' minta makan. Ini sangat berpotensi mengganggu kekhusukan shalatnya.

Apabila memberi makan kucing terlebih dahulu baru mengerjakan shalat, masak sih Allah kalah sama makhluknya, masak sih kucing lebih penting dari Allah. Allah pasti senang melihat Kang Bejo mendahulukan kepentinganNya daripada kepentingan tiga ekor kucing. Apalagi Kang Bejo bukannya belum memberi makan mereka. Kang Bejo sudah memberi makan. Hanya saja, mereka masih belum begitu kenyang.

Apabila memberi makan kucing terlebih dahulu baru mengerjakan shalat, ketepatan waktu shalat akan berkurang beberapa menit. Itu akan mengusik Kang Bejo. Kang Bejo sedang berusaha mati-matian untuk selalu tepat waktu dalam mengerjakan shalat. Apalagi sedang sudah berada di rumah. Memang ketika adzan berkumandang, Kang Bejo sedang menyelesaikan penyusunan proposal bisnisnya yang cukup penting. Kang Bejo menghentikan pekerjaan itu dan beranjak untuk mengambil air wudlu. Alangkah ruginya apabila dia menghentikan pekerjaan pentingya demi memenuhi ketepatan waktu shalat, tapi kemudian malah memberi makan kucing dan ketepatan waktu shalat menjadi batal.

Kang Bejo mencoba berempati dengan Allah. Seandainya dia ditempat Allah, mana yang lebih disenangi melihat Kang Bejo shalat tepat waktu dan menunda memberi makan kucing barang sesaat, atau memberi makan kucing dulu paling lama 10 menit baru shalat. Kang Bejo merasa lebih senang kepada pilihan pertama, shalat dulu baru memberi makan kucing. Sesaat Kang Bejo sadar, 'kesenangan' itu kan karena nafsu yang berbicara. Nafsu yang senang akan kehormatan, nafsu penghambaan dari pihak lain dan nafsu berkuasa.

Kang Bejo akhirnya memutuskan untuk memberi makan kucing dulu sebelum mengerjakan shalat. Ini berdasarkan pertimbangan pemahaman 'jalanan pikiran' Allah ketika Dia melihat dilema Kang Bejo. Allah pastilah senang melihat hambanya yang sedang belajar menerjemahkan sifat rahman dan rahim dalam konteks kemakhlukan.

Menurut Kang Bejo, rahman dan rahim Allah itu meliputi segenap alam semesta secara adil dan terintegrasi. Sifat rahman dan rahim Allah tidak dipenggal-penggal dalam potongan-potongan yang dikemudian dibagi-bagi kepada makhluk-makhluknya. Jadi, apabila Kang Bejo memberi makan kucing dulu Allah tidak akan marah karena merasa 'dinomorduakan'. Sebenarnya istilah 'merasa' tidak tepat, karena Allah pastilah tidak punya hati karena Dia bukan makhluk.

Pastilah Allah senang melihat Kang Bejo menjadi wakilNya di bumi ketika menghadapi makhluk lainnya yang sedang mengharapkan bantuan. Pastilah Allah tersenyum melihat Kang Bejo menghadapi dilema yang pilihan-pilihan adalah semuanya baik, mengerjakan shalat atau memberi makan kucing. Bukan dilema antara pilihan baik dan pilihan maksiat.

Sunday, March 01, 2009

Al-Quran Yang Tercabik

Di bagian samping rumah Kang Bejo ada satu pendopo yang sekaligus digunakan sebagai musholla keluarga. Di sudut depan kiri ada sebuah perangkat kayu yang berfungsi sebagai penyangga Al-Quran. Dengan perangkat tersebut, apabila orang akan membaca Al-Quran tidak perlu memegangnya, cukup ditaruh di atasnya. Ada Al-Quran ditaruh diatasnya dengan halaman terbuka.

Suatu Subuh, Kang Bejo sholat di ruangan itu. Ketika rakaat pertama, Uyip - kucing kecil milik keluarga Kang Bejo - berkeliaran di sekitarnya. Umur Uyip sekitar 6 bulan, umur yang kalau dalam dunia manusia termasuk 'sedang lucu-lucunya'. Sesekali berlari kencang dari belakang ke depan. Sesekali Uyip berguling-guling di lantai. Karena sudah terbiasa, Kang Bejo merasa tidak terganggu shalatnya dengan kehadiran Uyip di sekitarnya.

Namun, konsentrasi Kang Bejo mulai terusik ketika Uyip mendekati Al-Quran di sudut ruangan itu. Uyip mulai menunjukkan indikasi kalau dia mau membuat ulah terhadap Al-Quran itu. Kaki Uyip mulai menyentuh Al-Quran. Kekhusukan shalat Kang Bejo makin tergerus. Kang Bejo berusaha keras tetap khusuk. Bagaimanapun, selama dalam alam sadar manusia mustahil mampu menghentikan lontaran-lontaran pikiran dalam otaknya. Meskipun berusaha mati-matian untuk mengabaikan Uyip yang bertingkah di depannya, namun tetap saja ada pikiran yang bocor keluar dari konteks shalat.

Akhirnya, yang dikhawatirkan Kang Bejo terjadi. Uyip mulai memainkan Al-Quran tersebut. Beberapa detik tidak menimbulkan masalah. Uyip terus saja bermain-main dengan Al-Quran. Kali ini berakibat fatal. Kuku kaki Uyip mulai menyabik-nyabik Al-Quran. Ada satu halaman yang robek.

Kebimbangan merasuki pikiran Kang Bejo, mau meneruskan shalat atau membatalkannya untuk mengamankan Al-Quran dari 'penjarahan' Si Uyip. Kang Bejo tetap meneruskan shalatnya.

Selesai berdoa usai shalat, Kang Bejo penasaran, Surat apa yang tadi dicabik-cabik oleh Uyip. Jangan-jangan ada isyarat khusus dari Allah. Suratnya adalah Al-Hajj. Ayat demi ayat ditelusurinya. Tidak mudah menemukan kaitannya.

Sampailah Kang Bejo pada ayat ke 16. "Dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki". Yang jadi masalah petunjuk apa yang harus dipahami Kang Bejo. Apakah Allah hanya sekedar ingin mengingatkan jangan sekali-kali menelantarkan Si Uyip. Kalau itu, sepertinya bukan. Karena Si Uyip bagi Kang Bejo dan keluarga sudah dianggap anak bungsunya. Malah kalau boleh, akan dicantumkan dalam Kartu Keluarga. Pasti bukan itu. Atau Kang Bejo sedang diuji kualitas kekhusukannya ketika shalat. Ini mugkin saja.

Bolak-bolak pikiran Kang Bejo mencoba memaknai peristiwa itu. Kang Bejo tersentak luar biasa ketika sadar bahwa selama ini Al-Quran itu hanya teronggok di sudut kiri depan musholla dengan halaman terbuka. Jangankan dibaca, disentuh pun jarang. Al-Quran hanya berfungsi sebagai hiasan semata, hanya sekedar menambah atribut 'kesalehan' keluarga secara semu. Seolah-olah dengan menaruh Al-Quran kesalehan menjadi bertambah.

Maha Suci Allah yang Maha Pemberi Petunjuk.

Friday, February 27, 2009

Missed Call Vs Adzan

Dering telepon seluler membuyarkan kekhusukan sholat Kang Bejo. Saat itu, dia sedang menunggu telepon dari sekretaris direktur sebuah BUMN yang akan mengabari kapan dan dimana pertemuan dengan direktur akan dilaksanakan. Kang Bejo sudah hampir seminggu menunggu kesempatan itu untuk mendiskusikan proposal bisnis yang diajukan ke BUMN tersebut. Secara prinsip, proposal tersebut mempunyai peluang untuk ditindaklanjuti.

Nah, dering telepon itulah yang 'dicurigai' sebagai dering telepon dari sekretaris. Kalau dibiarkan menjadi 'missed call', dikhawatirkan akan berdampak batalnya rencana pertemuan. Maklum, sekretaris direktur BUMN pastilah sangat sibuk. Sehingga, ketika dia tidak mendapat jawaban dari Kang Bejo, dia tidak akan menelpon lagi. Betapa sulitnya telepon berhasil masuk ke kantor BUMN tersebut, sementara dia belum punya nomor telepon seluler si sekretaris.

Karena panggilan pertama 'missed call', disusul bunyi dering telepon berikutnya. Pikiran Kang Bejo makin kacau. Sholat mau diteruskan atau dibatalkan. Kalau diteruskan, ya itu tadi bisa berdampak serius karena rencana pertemuan bisa batal. Kalau dibatalkan, apa iya itu bukan artinya menyepelekan Allah. Kan itu berarti lebih mementingkan manusia daripada Sang Khalik. Alangkah tidak sopannya ketika sedang 'ngobrol' dengan Allah, tiba-tiba 'ngacir' meninggalkanNya. Alangkah tidak beradabnya kalau menomorduakan Allah. Dering telepon itupun belum tentu dari si sekretaris, jangan hanya panggilan biasa. Atau bahkan salah sambung.

Astaghfirullah terlafazkan oleh Kang Bejo dalam hati mengintervensi aneka analisa terhadap dering telepon tersebut, dan kembali berusaha meluruskan konsentrasi menggapai kekhusukan sholat.

Sebabis salam akhir, Kang Bejo mengucapkan istighfar puluhan kali untuk memohon ampunanNya. Kang Bejo merasa bersalah.  Buyarnya konsentrasi ini tidak dia rasakan manakala dia sedang meeting terdengar suara adzan. Perasaannya biasa-biasa saja. Tidak gelisah, tidak merasa terburu-buru, tenang-tenang saja. Saat mendengar Adzan, Kang Bejo tidak kemudian gelisah untuk segera meninggalkan urusan dunia dan berniat melaksakanan shalat. Ada saja alasan untuk tidak segera shalat, dari sekedar malas atau "toh masih ada waktu",  sampai yang dianggap serius seperti "jika pekerjaan tidak selesai sekarang bisa berakibat fatal".

Namun, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah ketika ternyata 'missed call' tadi bukan dari sekretaris BUMN. Kalau toh dari sekretaris, biar sajalah. Toh, dia bisa telepon balik walaupun pasti susah. Kalau memang Allah menghendaki proposal bisnisnya untuk Kang Bejo, pastilah Allah memberikan jalan yang terbaiknya. Atau apabila 'missed call itu dari sekretaris, dan Kang Bejo gagal menghubungi balik dan berakibat gagalnya pertemuan dengan direktur BUMN, itu harus disikapi bahwa itulah yang terbaik buat Kang Bejo. Pengetahuan manusia hanya sebatas pada 'detik ini'. Sepersekian milyar detik kemudian, manusia tidak akan pernah bisa memastikan apa yang bakal terjadi secara pasti.

Monday, February 23, 2009

Diskon Sholat

Pukul 14.30 Kang Bejo masih di kantor Sekretariat organisasi yang di dalamnya dia menjadi salah satu pengurusnya. Dia akan sholat dzuhur. Dia kantor tersebut ada tempat sholat yang hanya cukup untuk satu orang. Ketika dia akan masuk ke tempat sholat, ternyata ada staf perempuan yang sedang sholat. Kang Bejo menunggu di ruang meeting yang berada di sebelah ruang sholat sambil meneruskan pekerjaannya di laptop,

Begitu asyiknya bekerja di laptop, Kang Bejo tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul 15.45. Artinya, waktu sholat dzuhur sudah lewat. Ketika dia menyadari bahwa dia hanya mengenakan sandal jepit, bukan sepatu, barulah dia kaget bahwa ternyata dia belum sholat dzuhur. Kang Bejo sama sekali tidak ingat bahwa selama ini sebenarnya menunggu ruang sholatkosong. Sama sekali.

Inikah cara Allah memberikan 'diskon' kepada hambaNya? Inikah kemurahan Allah yang diwujudkan dengan menutup memori Kang Bejo agar tidak ingat akan sholat? Ataukah ini cara setan dengan memblokir ingatan Kang Bejo untuk 'lupa ingatan'. Entahlah, yang pasti Kang Bejo meyakini bahwa ini adalah salah satu metoda Allah untuk memberikan pelajaran kepada manusia bahwa betapa lemahnya pertahanan spiritual manusia. Hanya dengan sebuah kesibukan dunia yang sekejap, maka manusia mudah tergelincir kedalam kealpaan dan kelalaian. Peristiwa itu mengajari Kang Bejo untuk senantiasa berdoa diberikan kekuatan agar mampu berzikir mengingat Dia tanpa lengah sekejappun. Hanya karena kerahmanaNyalah kita mampu bermunajad kepadaNya. Sama sekali bukan semata-mata karena daya upayanya sendiri manusia mampu mendirikan sholat. Tanpa dukungan hidayahNya, manusia mustahil berkehendak beribadah kepadaNya.

Sajadah Terterpa Angin

Jumat pukul 11.45. Kang Bejo meninggalkan kantor menuju masjid di belakang gedung. Sesampai di masjid ruangan masjid sudah penuh dengan jamaah. Tempat yang ada adalah di bawah pohon. Di situ pun sudah mulai dipenuhi jamaah. Masih ada dua baris tikar plastik yang satu barisnya dapat memuat 3 orang. Tikar yang di depan terlihat terkena noda bekas tanah merah. Kang Bejo duduk di tikar di baris kedua, tikarnya bersih tidak terkena noda tanah merah.

Beberapa saat datang dua laki-laki muda yang akan duduk di tikar yang terkena noda. Kang Bejo memperingatkan mereka akan adanya noda tersebut. Tapi mereka tetap duduk dengan harapan nanti ketika sholat mereka akan mendapatkan tempat yang bersih. Memang begitu, ketika shalat dimulai dan jamaah pada posisi berdiri, biasanya akan menyisakan beberapa tempat kosong yang dapat diisi oleh jamaah lain. Atau, dalam posisi berdiri akan lebih mampat dibandingkan ketika jamaah masih duduk mendengarkan khotbah.

Kang Bejo merasa bahwa dia sudah 'selamat' mendapatkan tikar yang bersih. Apalagi dia membawa sajadah yang tentunya makin membuatnya 'aman'.

Ketika shalat sudah akan dimulai, kedua laki-laki yang ada di depan Kang Bejo bergeser ke tempat lain. Tikar yang semula ditempati kedua laki-laki sampai shalat akan dimulai tetap kosong. Karena tikar tersebut berada paling kiri dari barisan, maka Kang Bejo merasa tidak berkewajiban untuk bergeser ke depan untuk menempatinya. Dan lagi lebar tikar sebenarnya tidak cukup untuk bersujud.

Karena kalau bersujud, wajah akan berada di tikar di depannnya, yang notabene kotor, maka Kang Bejo menggelar sajadahnya melintang dan menutupi sebagian tikar yang di depannya. Dengan demikian, ketika sujud maka wajah Kang Bejo di atas sajadah, bukan di tikar yang kotor.

Apa yang terjadi? Sesaat rakaat pertama dimulai, angin bertiup sangat kencang. Cukup kencang untuk menyingkap sajadah Kang Bejo. Sajadah tersibak hingga bergeser ke kaki Kang Bejo. Maksud hati menutupi tikar yang kotor, apadaya angin membuyarkannya. Angin meniup sajadah menyisakan tikar yang terkena noda bekas tanah merah.

Kang Bejo terkesima dengan sajadah yang ditiup angin ini. Betapa dia sudah menghindar dari tempat itu, ternyata justru dia mendapatkan apa yang ingin dihindarinya. Betapa dia telah menutupi tikar yang kotor dengan sajadahnya, namun tetap saja dia tidak berdaya menghindar dari mendapatkan tikar yang kotor.

Namun, ketika bersujud dengan wajah di tikar yang kotor justru Kang Bejo mendapatkan kualitas sujud yang luar biasa. Maha Suci Engkau yang Maha Suka-suka. Terserah Engkau manusia mau Engkau apakan. Suka-suka Engkau manusia Engkau tempatkan, di tempat yang bersih atau kotor. Dan Kang Bejo sadar bahwa tidak ada daya upaya selain dengan ijinNya.

Thursday, January 22, 2009

Daun Pohon Kelengkeng

Kang Bejo pagi itu menyapu halaman samping rumahnya. Banyak dedauan pohon sawo dan kelengkeng berserakan. Angin sedang bertiup lumayan kencang. Dengan angin seperti itu, tidak mudah untuk menyapu dedaunan tersebut. Ketika daun sedang disapu, diterbangkan kembali oleh angin ke segala arah. Dicoba diulang lagi, angin tiba-tiba bertiup lagi. Daun-daun berhamburan lagi.

Lama-lama Kang Bejo tidak tahan untuk menggerutui angin dan mulai timbul perasaan kesal. Sambil bersungut-sungut, Kang Bejo tetap bertahan untuk meneruskan pekerjaan menyapunya.
Kang Bejo menangadahkan wajahnya ke arah pohon kelengkeng yang daunnya lebih banyak berguguran dibandingkan dengan pohon sawo. Daun kelengkeng yang gugur mencapai hitungan ratusan, sedangkan pohon sawo hanya puluhan daun. Di pohon kelengkeng terlihat dedauan kering banyak sekali yang siap untuk berguguran.

Seketika Kang Bejo sadar bahwa dibalik peristiwa meranggasnya daun-daun sawo dan kelengkeng tersembunyi peristiwa yang komplek dan hasil kerja tangan Ilahi. Banyak pertanyaan yang melintas. Mengapa daun kelengkeng lebih banyak berguguran dibanding daun pohon sawo. Mekanisme apa yang menentukan atau menetapkan sebuah daun memenuhi kriteria untuk gugur. Kekuatan angin yang bagaimana kuatnya sehingga bisa "menyeleksi" daun yang 'pantas' untuk gugur. Perlu presisi tinggi agar kekuatan tiupan angin hanya merontokkan daun yang memang siap gugur.

Kang Bejo akhirnya sadar bahwa hanya dengan 'kesengajaan' dari Yang Maha Mengatur peristiwa bergugurannya daun-daun tersebut bisa berlangsung. Hanya dengan dirigen yang harmonis dari Yang Maha Tepat lah peristiwa tersebut berlangsung mulus.

Subhanallah!

Wednesday, January 21, 2009

Mau Ketemu Pak Menteri

Pukul 7.30 malam Kang Bejo sudah berada di rumah. Telepon selulernya berdering dari rekannya. Sang rekan menceritakan bahwa besuk dia dan rombongan akan menghadap menteri untuk menyampaikan sebuah proposal. Kang Bejo diminta mendampingi mereka karena materi proposal merupakan kompetensinya Kang Bejo.

Kang Bejo menyanggupinya dengan antusias. Dengan semangat, dia memberikan semacam 'pengarahan' kepada rekannya apa-apa yang mesti disampaikan kepada Menteri agar 'nyambung' dengan isi kepala Pak Menteri sehingga proposalnya diperhatikan.

Dengan tergopoh-gopoh Kang Bejo pergi ke tukang cukur karena merasa rambutnya kurang pantas saat nanti menghadap Pak Menteri. Hujan gerimis tidak menghalanginya untuk berangkat naik motor. Kalau pakai mobil repot parkirnya. Dan lagi dengan mobil waktunya bisa lebih lama sementara tukang cukur sebentar lagi tutup.

Sembari kepala dicukur, Kang Bejo memantas-mantas nanti mau mengenakan baju apa. Pakai baju putih berdasi dibalut dengan jas kasual atau mau pakai baju batik. Kang Bejo memutuskan pakai batik saja. Keputusan ini menimbulkan 'masalah' baru yaitu mau batik yang mana. Kang Bejo punya 5 baju batik.

Setelah urusan baju selesai, masalahnya bergeser ke bagaimana sampai ke kantornya Pak Menteri. Rombongan akan diterima Pak Menteri pukul 10 pagi. Berarti untuk mencapai lokasi harus melewati ruas jalan yang three in one. Cara pertama adalah menghindarinya dengan menempuh jalur alternatif, artinya memerlukan waktu tempuh lebih lama. Jika cara ini dipakai maka Kang Bejo harus berangkat pukul 7 agar aman. Sebelum menghadap Pak Menteri, rombongan akan bertemu untuk menyamakan bahasa.

Cara kedua dengan menggunakan joki. Cara ini akan lebih menyingkat waktu tempuh. Cara ketiga adalah nekad menerobos three in one dengan pertimbangan ruas yang harus diterobos ditengarai aman dari pantauan polisi.

Begitu sibuknya pikirannya Kang Bejo sehingga sudah selesai cukurnya. Di saat kepalanya dipijat oleh tukang cukur, saat itulah pikiran Kang Bejo tersentak oleh bisikan yang cukup menyengat.

Alangkah nikmatnya apabila semangat dan antusiasisme dipanggil suara Adzan untuk melakukan ibadah sholat lebih besar, atau minimal sama dengan panggilan menghadap Pak Menteri ketika dipanggil . Baru ditelepon diajak menghadap Pak Menteri girang bukan main. Sementara, apabila suara adzan berkumandang dia lebih sering menawar untuk mengerjakan nanti.

Alangkah nikmatnya apabila persiapan sholat sama 'hebohnya', atau minimal sama dengan persiapan menghadap Pak Menteri. Selama ini, kalau di rumah, Kang Bejo hanya mengenakan pakaian ala kadarnya ketika sholat. Sering hanya mengenakan kaos oblong. Sementara ketika hanya mau menghadap seorang manusia saja mengenakan baju terbaiknya.

Pertanyaan yang cukup mengerikan terlintas dalam benak Kang Bejo. Apakah dia sudah menomorduakan Allah alias syirik. Kang Bejo hanya mampu melafazkan istighfar dalam hati.

Monday, January 19, 2009

Tamu Di Kala Maghrib

Hari Ahad menjelang waktu Magrib. Hari sudah mulai gelap karena mendung mulai menutupi langit. Kang Bejo sedang memasukkan beberapa peralatan dapur ke gudang. Gudang terletak di sudut halaman sampingnya. Terdengar suara salam dari arah pintu gerbang. Kang Bejo membalas salam tersebut seraya mengatakan 'tunggu sebentar'.

Kang Bejo membukakan pintu gerbangnya. Di hadapanya berdiri seorang lelaki usia sekitar 35-an mengenakan kaos biru celana panjang coklat. Raut Kang Bejo bingung karena tidak mengenal tamu yang baru datang tersebut. Dugaan Kang Bejo adalah bahwa lelaki tersebut dari tetangga di belakang rumah yang belum lama pindah mau memperkenalkan diri. Atau malah, dia akan mengajukan keluhan terhadap Kang Bejo karena dua hari terakhir ini rumah Kang Bejo ramai karena teman-teman anaknya main hingga dini hari dan lumayan berisik.

Kang Bejo mempersilahkan tamu itu masuk ke rumahnya. Dugaan Kang Bejo meleset jauh sekali. Setelah diamati lebih seksama, raut wajah lelaki itu terlihat kusut dan seperti menahan tangis.

Sambil masih berdiri, lelaki itu mulai membuka pembicaraan dengan menceritakan penderitaannya. Dia mempunyai seorang istri yang sedang mengandung dan hampir melahirkan, sementara untuk persiapan melahirkan sama sekali belum ada. Bahwa dia delapan bulan lalu di PHK sebagai sopir mobil ambulan di RS Ananda dan hingga sekarang belum dapat pekerjaan lagi. Bahwa di sudah berusaha mencari pekerjaan sebagai sopir angkutan kota tapi belum ada lowongan. Bahwa sekeluarga dari tadi pagi belum makan karena sama sekali tidak ada yang dimakan.

Sekilas Kang Bejo berprasangka tidak baik terhadap tamunya. Jaman sekarang banyak 'modus operandi' untuk berbuat kejahatan. Jangan-jangan lelaki ini sedang memasang perangkap agar Kang Bejo bisa diperdaya entah apa. Namun, Kang Bejo akhirnya mengesampingkan prasangka-prasangka buruk tersebut dan mempersilahkan tamunya duduk di kursi di teras rumahnya.

Lelaki tersebut menceritakan kembali kesulitannya dengan lebih lengkap. Lelaki itu minta pekerjaan apa saja kepada Kang Bejo. Derita yang paling puncak adalah bahwa anggota keluarganya sampai menjelang malam belum ada yang makan sama sekali.

Tinggal Kang Bejo yang harus memutuskan uluran tangan apa yang bisa dia berikan. Kalau pekerjaan, sekarang memang belum ada. Bulan depan ada kemungkinan bisa memberikan pekerjaan kepada lelaki tersebut sebagai sopir kantornya. Saat itu, Kang Bejo hanya punya uang beberapa ribu rupiah, belum ambil di ATM. Kalau dikasihkan kurang pantas.

Akhirnya Kang Bejo menawarkan bantuan berupa beras, karena persediaannya masih lumayan banyak, cukup untuk 2 minggu makan keluarga Kang Bejo. Kang Bejo bermaksud memberikan setengahnya. Namun, alangkah kagetnya ketika lelaki tersebut mengatakan kalau bisa yang dapat langsung dimakan, artinya makanan yang sudah matang, tidak usah dimasak dulu. Luar biasa! Betapa penderitaan keluarga lelaki tersebut.

Kang Bejo masuk ke dalam rumah dan membungkuskan nasi yang cukup untuk 5 orang. Di dalam kulkas kebetulan ada 3 potong ayam yang sudah matang, walaupun dalam kondisi dingin. Kang Bejo membungkus 3 potong ayam tersebut.

Dengan diiringi permintaan maaf hanya bisa memberikan bantuan makanan, Kang Bejo menyerahkan bungkusan plastik tas plastik kresek berisi nasi dan 3 potong ayam.

Begitu tamunya hilang dari pandangannya setelah pamit, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah karena Allah meniupkan ruh kerahiman dan kerahmanannya sehingga prasangka baiknya yang mendominasi hatinya. Alangkah berdosanya apabila dia menolak memberikan bantuan. Alangkah kejamnya apabila dia dengan prasangka buruknya menilai lelaki itu akan mengakalinya atau menipunya dengan berpura-pura sangat menderita.

Kang Bejo berdoa semoga lelaki itu 'dibisiki'oleh malaikat agar datang ke rumahnya. Kemudian, malaikat melaporkan kepada Allah bahwa Kang Bejo 'lulus ujian'. Amin.

Monday, January 12, 2009

Parkir Di Tanah Abang

Hari Jumat pukul 10.45 pagi Kang Bejo pergi ke Pasar Tanah Abang dengan mobil. Ketika melewati Jatibeting, baru pukul 11.00. Waktu sholat Jumat masih lama. Dia melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan Tol Jatibening - Cawang. Sesampai di Jl MT Haryono, waktu menunjukkan pukul 11.15. Kang Bejo sudah mau berhenti untuk sholat Jumat di Masjd di jalan tersebut. Namun dia mengurungkan niatkan dengan pertimbangan masih cukup waktu untuk sholat Jumat di sekitar atau menjelang Pasar Abang. Ketika 11.30 memasuki Jalan Mas Mansyur, yaitu jalan dimana Pasar Tanah Abang berada, lalu lintas dalam keadaan padat, bahkan bisa dibilang macet.

Seratus meter sebelum Pasar Tanah Abang, ada sebuah masjid yang lumayan besar. Kang Bejo bermaksud sholat Jumat disitu. Ketika mendekati masjid, lalu lintas makin padat dan hanya bisa bergerak beringsut-ingsut. Beberapa meter menjelang Masjid, banyak kendaraan roda empat parkir sehingga tidak menyisakan ruang untuk Kang Bejo bisa parkir. Pukul 11.55, mobil Kang Bejo tepat di depan Masjid, tetapi tidak bisa parkir karena memang sudah penuh semua.

Sebenarya, ada ruang kosong di depan masjid, yaitu di sebelah gerobak tukang soto, cukup untuk parkir satu mobil. Namun, untuk bisa memasukinya, terhalang oleh mobil patroli yang sedang parkir. Dan lagi, Kang Bejo berada di lajur kanan. Lajur kiri ada mobil yang sama-sama berhenti karena macet. Dengan kondisi seperti itu, mustahil bisa memarkir mobil di ruang kosong tersebut. Kang Bejo sudah tidak berharap bisa jumatan di masjid tersebut. Dia hanya bisa berharap masih sempat jumatan di Pasar Tanah Abang. Di lantai atas, ada masjidnya. Namun harapan itu nampaknya sia-sia, karena lalu lintas hampir tidak bergerak sama sekali.

Ketika adzan berkumandang, mobil Kang Bejo belum juga beringsut dari depan Masjid tersebut, karena macet. Ah, hari ini aku tidak meninggalkan sholat Jumat, kata Kang Bejo dalam hari. Kang Bejo hanya bisa istighfar dengan kelalaiannya ini.

Sesaat lalu lintas akan beringsut, entah dari mana datangnya ada seorang tukang parkir tiba-tiba mengacung-acungkan tangannya kepada Kang Bejo sebagai isyarat apakah Kang Bejo akan parkir di tempat yang kosong tersebut. Kang Bejo menyambut menyambut tawaran tukang parkir tersebut. Luar biasa!. Kang Bejo sebelumnya sama sekali tidak melihat tukang parkir tersebut, dan juga sedang tidak mencarinya, karena kalau ada pun percuma karena posisinya hampir mustahil untuk bisa parkir di tempat itu. Kalau masuk kepala duluan, pasti tidak bisa karena terhalang mobil patroli. Mendorong mobil patroli juga tetap tidak bisa memberikan ruang gerak untuk memarkir dengan kepala duluan. Satu-satunya jalan adalah dengan masuk mundur. Untuk bisa seperti ini, lalu lintas perlu dihentikan secara 'paksa'. Tukang parkir dengan segala 'wewenangnya' menyetop kendaraan di dua lajur agar tidak tidak begerak dulu. Mobil Kang Bejo maju beberapa meter dan masuk ke dengan mundur.

Kang Bejo benar-benar takjub dengan kejadian yang mungkin sangat sepele itu. Namun, dibalik kesepeleannya tersebut, Allah nampaknya mengintervensi proses linear menjadi proses yang berbau langit artinya proses Kang Bejo mendapatkan tempat parkir agar bisa jumatan merupakan proses yang sangat luar biasa, dan mesti disikapi sebagai sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin tukang parkir akan memberikan isyarat kepada Kang Bejo kalau hati atau pikirannya dia tidak digerakkan oleh sebuh bisikan. Tukang parkir tidak sedang dalam posisi menawar-nawarkankan ruang kosong tersebut kepada pengendara mobil yang terjebak macet di depannya. Dia tiba-tiba saja mengacungkan telunjuknya sambil menatap Kang Bejo yang sedang diam di balik kemudi. Kang Bejo pun juga tidak berharap sama sekali bisa jumatan di Masjid tersebut. Mustahil bisa parkir dengan kondisi seperti itu.

Itulah makna kun fa ya kun. Sebuah titah Allah yang mementahkan segala kemustahilan. Sebuah kehendak Allah yang mustahil tidak terlaksana. Apapun kehendakNya, alam semesta (termasuk si tukang parkir) akan tunduk mematuhinya. Tidak ada satupun yang bisa menolaknya.