Monday, February 23, 2009

Sajadah Terterpa Angin

Jumat pukul 11.45. Kang Bejo meninggalkan kantor menuju masjid di belakang gedung. Sesampai di masjid ruangan masjid sudah penuh dengan jamaah. Tempat yang ada adalah di bawah pohon. Di situ pun sudah mulai dipenuhi jamaah. Masih ada dua baris tikar plastik yang satu barisnya dapat memuat 3 orang. Tikar yang di depan terlihat terkena noda bekas tanah merah. Kang Bejo duduk di tikar di baris kedua, tikarnya bersih tidak terkena noda tanah merah.

Beberapa saat datang dua laki-laki muda yang akan duduk di tikar yang terkena noda. Kang Bejo memperingatkan mereka akan adanya noda tersebut. Tapi mereka tetap duduk dengan harapan nanti ketika sholat mereka akan mendapatkan tempat yang bersih. Memang begitu, ketika shalat dimulai dan jamaah pada posisi berdiri, biasanya akan menyisakan beberapa tempat kosong yang dapat diisi oleh jamaah lain. Atau, dalam posisi berdiri akan lebih mampat dibandingkan ketika jamaah masih duduk mendengarkan khotbah.

Kang Bejo merasa bahwa dia sudah 'selamat' mendapatkan tikar yang bersih. Apalagi dia membawa sajadah yang tentunya makin membuatnya 'aman'.

Ketika shalat sudah akan dimulai, kedua laki-laki yang ada di depan Kang Bejo bergeser ke tempat lain. Tikar yang semula ditempati kedua laki-laki sampai shalat akan dimulai tetap kosong. Karena tikar tersebut berada paling kiri dari barisan, maka Kang Bejo merasa tidak berkewajiban untuk bergeser ke depan untuk menempatinya. Dan lagi lebar tikar sebenarnya tidak cukup untuk bersujud.

Karena kalau bersujud, wajah akan berada di tikar di depannnya, yang notabene kotor, maka Kang Bejo menggelar sajadahnya melintang dan menutupi sebagian tikar yang di depannya. Dengan demikian, ketika sujud maka wajah Kang Bejo di atas sajadah, bukan di tikar yang kotor.

Apa yang terjadi? Sesaat rakaat pertama dimulai, angin bertiup sangat kencang. Cukup kencang untuk menyingkap sajadah Kang Bejo. Sajadah tersibak hingga bergeser ke kaki Kang Bejo. Maksud hati menutupi tikar yang kotor, apadaya angin membuyarkannya. Angin meniup sajadah menyisakan tikar yang terkena noda bekas tanah merah.

Kang Bejo terkesima dengan sajadah yang ditiup angin ini. Betapa dia sudah menghindar dari tempat itu, ternyata justru dia mendapatkan apa yang ingin dihindarinya. Betapa dia telah menutupi tikar yang kotor dengan sajadahnya, namun tetap saja dia tidak berdaya menghindar dari mendapatkan tikar yang kotor.

Namun, ketika bersujud dengan wajah di tikar yang kotor justru Kang Bejo mendapatkan kualitas sujud yang luar biasa. Maha Suci Engkau yang Maha Suka-suka. Terserah Engkau manusia mau Engkau apakan. Suka-suka Engkau manusia Engkau tempatkan, di tempat yang bersih atau kotor. Dan Kang Bejo sadar bahwa tidak ada daya upaya selain dengan ijinNya.