Saturday, January 05, 2013

Sopir Angkot

Turun dari Kereta Commuter Line di Stasiun Kranji Bekasi pukul 7 malam, Kang Bejo langsung menaiki angkutan kota Mikrolet M19 jurusan Kranji-Cilitan yang sudah ngetem di pintu masuk stasiun.
Kang Bejo duduk di sebelah supir.  Dari perangkat audio Mikroket, mengalun lagu-lagu dengan volume suara yang lumayan keras.

Selepas lampu lalu lintas Kranji, Mikrolet berhenti menaikkan penumpang. Bersamaan dengan itu, naiklah seorang remaja laki-laki membawa alat musik okelele, duduk di pintu Mikrolet.  Begitu Mikrolet berjalan, bernyalilah dia, dengan suara yang bisa dibilang sumbang dan kemampuan bermain okulele yang pas-pasan. Dia mengamen.

Sebenarnya tindakan sopir ketika pengamen mulai bernyanyi mungkin sebuah tindakan yang amat biasa saja.  Bukan tindakan heroik, bukan tindakan yang menimbulkan decak kagum orang, bukan pula tindakan yang news worthy alias bernilai berita.

Begitu dari mulut si pengamen terdengar nyanyian, tangan sopir langsung meraih tombol volume di perangkat pemutar MP3, mengecilkan volume suara.  Maksudnya adalah agar suara pengamen tidak "terganggu" oleh suara musik.

Apa sih hebatnya tindakan sopir itu? Toleransi. Itulah hakekat dan makna tolerensi yang dipraktekkan secara nyata oleh sopir.  Di tengah-tengah masyarakat yang makin tidak menghargai eksistensi orang lain, masyarakat yang lebih senang mementingkan dirinya sendiri, di tengah gejala punahnya rasa kasih kepada sesama, ditengah makin brutalnya masyarakat, tindakan sopir itu ibarat oase di tengah padang pasir. Menyejukkan.  dari hal-hal kecil inilah sebenarnya nilai-nilai penghargaan kepada sesama bisa termanifestasikan.