Kursi
Siang itu, seorang laki-laki menjemput anaknya di sekolah dasar. Dia duduk di salah satu kursi kayu yang berderet di depan aula, menunggu anaknya keluar dari kelasnya. Lalu-lalang anak-anak melintas di depannya. Satu meter di depannya, terdapat bekas muntahan, entah oleh siapa. Beberapa kali, muntahan itu terinjak oleh anak-anak yang lalu-lalang itu.
Setiap kali seorang anak akan menginjak muntahan itu, laki-laki itu mengingatkannya: “Awas Dik!” , dan si anak bisa menghindarinya. Tapi dia tidak bisa terus menerus mengawasi. Beberapa anak memang sempat melihat dan menghindarinya. Namun, dasar anak-anak, sering berjalan berombongan sambil asyik ngobrol sehingga tidak awas dengan jalan di depannya. Ah, kasihan kata laki-laki itu dalam hati, setiap ada anak menginjak muntahan tersebut.
Sejurus kemudian, dia mengangkat salah satu kursi kayu yang ada di sebelahnya dan meletakkannya di atas muntahan itu, sehingga terlindungi di antara keempat kakinya. Laki-laki itu merasa bahagia dengan perbuatannya. Perbuatan itu sangat sepele, tanpa beranjak dari duduknya, dia bisa melakukan sesuatu yang bisa menghidarkan orang lain dari sesuatu yang tidak diinginkannya. Alhamdullilah, Allah Maha Pemberi Hidayah.
