Pukul 12 siang Kang Bejo merayap di kepadatan lalu lintas Jalan Matraman Jakarta Timur, menuju Cempaka Putih. Tujuan utamanya adalah akan menjual masin vacum cleaner miliknya ke tukang loak di Poncol, Senin. Sudah beberapa hari ini, Kang Bejo benar-benar sedang kehabisan uang. Meminjam ke saudara dan teman sangat dihindarinya. Cara paling cepat adalah melikuidasi aset miliknya. Menjelang pertigaan Jalan Cikini, indikator bahan bakar mobilnya menyala yang berarti tanki bensin sudah nyaris kosong.
Di dompet Kang Bejo ada selembar uang seratus ribu rupiah. Namun, uang yang aman dialokasikan untuk bensin hanya tiga puluh ribu rupiah. Ada beberapa kebutuhan yang perlu dipenuhi. Perhitungan ini sudah memasukkan perkiraan uang yang bakal diterima dari hasil penjualan vacum cleaner nanti.
"Tiga puluh ribu" kata Kang Bejo kepada petugas pompa bensin di Jalan Diponegoro. Petugas memencet digit di mesin pompa bensin dan memasukkan moncong selangnya ke lubang bensin di mobil. Selang bensin dibiarkan, tanpa dipegani. Sambil menunggu proses pengisian, petugas memberikan kembalian selembar lima puluh ribu dan dua lembar sepuluh ribuan. Petugas berdiri agak kesamping. Penunjuk angka rupiah dan liter di mesin berputar cepat. Tiba-tiba petugas seperti tersengat listrik dan terlonjak kaget. Dengan buru-buru dia menghentikan aliran bensin dengan menekan tuas di moncong selang. Ternyata, dia keliru memencet digit rupiah menjadi tiga ratus ribu rupiah. Angka di mesin pompa sudah menunjukkan 89 ribu lebih atau 19 liter lebih. Kang Bejo tak kalah kegetnya. Bagaimana dia akan membayarnya. Lha wong tadi dia beli 30 ribu rupiah karena tidak punya duit. Kalau diberikan uang seratus ribu yang dia punya, maka tinggal 11 ribu. Rencana penjualan vacum cleaner menyimpan potensi kegagalan yang tidak kecil. Sebelum ke Poncol, dia sudah mencoba ke Pasar Jatinegara, dan gagal.
Petugas pompa bensin mengakui itu kesalahannya. Tapi dia juga bingung bagaimana dia akan mengganti kerugian. "Pak ini yang dua puluh ribu buat bapak, karena saya sedang tidak punya uang, nanti saat saya ada pasti saya akan kembali kesini", kata Kang Bejo. Dengan lemas, petugas menerima dua lembar sepuluh ribuah tersebut, sambil bergumam "Yah, nombok empat puluh ribu deh".
Kang Bejo merenungkan kejadian tersebut sebagai kejadian yang luar biasa. Ketika menunggu proses pengisian, dia menatap pergerakan angka-angka penunjuk rupiah dan liter. Yang dia amati adalah penunjuk rupiah, yang bergerak cepat sekali. Dalam hati Kang Bejo berkata mengapa untuk mencapai tiga puluh ribu rupiah lama. Dia pikir, pergerakan itu adalah dalam skala ribuan. Ternyata pergantian angka itu adalah berskala puluhan ribu. Sehingga ketika angkanya mencapai 8, berarti sudah mencapai 80 ribu rupiah.
Allah telah "meminjamkan" bensin kepada Kang Bejo. Kalau waktu itu dia hanya mengisi tiga puluh ribu rupiah (6 liter lebih), maka perjalanan Kang Bejo akan terhenti entah dimana karena kehabisan bensin. Penjualan vacum cleaner di Poncol tidak berhasil. Sehingga Kang Bejo harus ke Pasar Rumput. Dan untuk kesana, 6 liter bensin tidak cukup.
