Kang Bejo berhenti di lampu merah Taman Suropati, Menteng Jakarta. Sayup-sayup terdengar adzab Maghrib dari Masjid Sunda Kelapa, yang berjarak sekitar 25 meter. Ah, musafir sajalah, nanti di jama' dengan shalat Isyak di rumah. Toh ada fasilitas keringanan dari Allah untuk seorang musafir. Tapi, sekilas terbersit pikirannya kenapa tidak mampir saja di Masjid Sunda Kelapa, toh sebentar lagi akan dilewati. Masak begitu saja keberatan, keterlaluan pikirnya.
Mampirlah Kang Bejo untuk shalat Maghrib di masjid tersebut. Bisikan hatinya mengalahkan keraguan Kang Bejo.
Usai berdoa sehabis berjamaah, Kang Bejo pulang. Di koridor masjid, Kang Bejo mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dan diberikan kepada pengemis ada disitu.
Suasana jalan raya begitu macet dan semrawutnya di depan Pasar Rumput. Begitu Kang Bejo membelok patah masuk ke Jalan Sultan Agung, terdengar bunyi 'brak' di samping belakang mobilnya. Ternyata, Kang Bejo menyerempet mobil sedang di balakangnya. Kang Bejo berhenti, turun dari mobil dan menghampiri mobil yang diserempet tadi. Karena jalanan macet, Kang Bejo bilang diselesaikan di tempat yang bisa parkir. Mobil Kang Bejo jalan beriringan dengan mobil korban.
Sesampainya di Jalan Minangkabau, kedua mobil berhenti. Kang Bejo menyelesaikan kecelakan tadi dengan mempersilahkan sang korban mereparasi mobilnya di bengkel pilihan sang korban dan Kang Bejo akan menyelesaikan pembayarannya. Sederhana.
Berdua malah terlibat dalam obrolan yang bersahabat. Tidak ada pertengkaran, tidak ada yang marah-marah. Urusan mobil penyokl kan urusan yang sederhana, kenapa harus diributkan pikir mereka berdua.
Selesai urusan, Kang Bejo melanjutkan perjalanan. Luar biasa, bisikan setan itu. Sepersekiat detik menelusup dalam pikiran Kang Bejo. Coba tadi kalau tidak berhenti untuk shalat Maghrib di Masjid Sunda Kelapa. Pasti tidak akan mengalami kecelakaan dan tidak menanggung kerigian finansial karena harus mengganti kerusakan mobil. Lho, kenapa sudah shalat dan bersedekah tapi koq malah diberi petaka. Tapi, syukur Alhamduillah lagi-lagi Allah memberikan perlindunganNya. Kang Bejo seketika melafalkan astaghfirullah, mohon ampun atas ketidakpantasannya menyalahkan shalat sebagai penyebab kecelakaaan.
Sepanjang jalan Kang Bejo merenungkan rangkaian kejadian tersebut. Rangkaian keragu-raguan untuk mampir di Masjid Sunda Kelapa, memberikan sedekah kepada peminta-minta di koridor masjid dengan nilai yang tidak kecil, menyerempet mobil orang, bisikan menyalahkan shalat, menggugat ketidakbergunaan sedekah menjadi momen spiritual yang sangat indah.
Kang Bejo akhirnya menerima kejadian tersebut sebagai perlindungan Allah terhadap mara bahaya yang mungkin akan dialaminya seandainya Kang Bejo tidak mampir shalat maghrib.
