Thursday, January 22, 2009

Daun Pohon Kelengkeng

Kang Bejo pagi itu menyapu halaman samping rumahnya. Banyak dedauan pohon sawo dan kelengkeng berserakan. Angin sedang bertiup lumayan kencang. Dengan angin seperti itu, tidak mudah untuk menyapu dedaunan tersebut. Ketika daun sedang disapu, diterbangkan kembali oleh angin ke segala arah. Dicoba diulang lagi, angin tiba-tiba bertiup lagi. Daun-daun berhamburan lagi.

Lama-lama Kang Bejo tidak tahan untuk menggerutui angin dan mulai timbul perasaan kesal. Sambil bersungut-sungut, Kang Bejo tetap bertahan untuk meneruskan pekerjaan menyapunya.
Kang Bejo menangadahkan wajahnya ke arah pohon kelengkeng yang daunnya lebih banyak berguguran dibandingkan dengan pohon sawo. Daun kelengkeng yang gugur mencapai hitungan ratusan, sedangkan pohon sawo hanya puluhan daun. Di pohon kelengkeng terlihat dedauan kering banyak sekali yang siap untuk berguguran.

Seketika Kang Bejo sadar bahwa dibalik peristiwa meranggasnya daun-daun sawo dan kelengkeng tersembunyi peristiwa yang komplek dan hasil kerja tangan Ilahi. Banyak pertanyaan yang melintas. Mengapa daun kelengkeng lebih banyak berguguran dibanding daun pohon sawo. Mekanisme apa yang menentukan atau menetapkan sebuah daun memenuhi kriteria untuk gugur. Kekuatan angin yang bagaimana kuatnya sehingga bisa "menyeleksi" daun yang 'pantas' untuk gugur. Perlu presisi tinggi agar kekuatan tiupan angin hanya merontokkan daun yang memang siap gugur.

Kang Bejo akhirnya sadar bahwa hanya dengan 'kesengajaan' dari Yang Maha Mengatur peristiwa bergugurannya daun-daun tersebut bisa berlangsung. Hanya dengan dirigen yang harmonis dari Yang Maha Tepat lah peristiwa tersebut berlangsung mulus.

Subhanallah!