Thursday, January 15, 2015
Seandainya
Kejadian ini sebelum diterapkan karcis terusan ke semua jurusan Kereta Api Commuter Line di Jabodetabek.
Kang Bejo di gerbong paling depan kereta tersebut dari Serpong, yang tiba di stasiun Tanahabang pk 20.05. Turun dari kereta menuju tangga naik berjarak sekitar 30 meter. Di jalur 3 sudah tersedia KRL jurusan Depok yang akan dinaiki oleh Kang Bejo. Sampai di depan loket sudah pk 20.10. Antrean 3 orang. Kang Bejo mendapatkan karcis tepat pk 20.11. Begitu turun tangga menuju jalur tiga, kereta berangkat. Hanya selisih beberapa detik.
Sebuah keterlambatan yang mungkin bisa dihindari. Seandainya menjelang kereta memasuki St. Tanahabang, Kang Bejo pindah ke gerbong nomor 4, sehingga ketika turun dari kereta jarak ke tangga peron sekitar 10 meter. Jarak yang lebih dekat ini mempersingkat waktu sekitar 15 detik. Cukup untuk mengejar kereta jurusan Depok.
Itu kan ”seandainya”. Padahal, kita berada di luar dimensi ”seandainya”. Dimensi ”seandainya” adalah sebuah dimensi yang hanya Allah yang mampu memasukinya, karena hanya Dia yang kuasa membalikkan putaran waktu.
”Seandainya” adalah sesuatu yang manusia gagal menggapainya. Sesuatu itu terjadi di masa lalu, dan waktu bagi manusia tidak pernah berjalan mundur. Tidak demikian bagi Allah. Jika Dia berkehendak memutar balik jarum jam, maka kun fayakun terjadi. Kang Bejo pun bisa tidak tertinggal kereta.
Beda antara ”seandainya” dengan kejadian bisa hanya nol koma nol sekian detik, atau bahkan kurang. Kang Bejo akhirnya terpaksa menunggu kereta berikutnya yang datang sejam kemudian.
