Siang itu Kang Bejo melayat ke kuburan di Jalan Casablanka Jakarta Selatan. Ada kerabatnya yang meninggal akibat sakit gula.
Siang yang terik membuat para pelayat tersengat haus. Di jalan antara dua blok pemakaman ada seorang laki tua yang mendorong gerobak minuman dalam kemasan. Ada air dalam kemasan, teh botol, minuman berelektrolit, minuman bersoda dan minuman energi.
Kang Bejo membeli sebotol minuman dan dengan cepat menengguknya hingga habis.
Setelah membayar, Kang Bejo merasakan ada pikiran yang mengusiknya yaitu ihwal rejeki.
Ini kan di kuburan, salah satu tempat yang paling dihindari manusia. Tempat dimana manusia merasakan kengerian akan ketidakpastian 'masa depan', tempat dimana manusia mengganggap disinilah segala-galanya berakhir. Tempat dimana manusia menganggap sebagai serba kelam. Pokoknya,kuburan adalah tempat dimana segala kehidupan di dunia berakhir.
Kang Bejo semula menganggap hal itu hanyalah sebuah mekanisme supply and demand sederhana. Ada permintaan (dari pengunjung kuburan), maka ada penawaran (dari penjual minuman).
Namun, di balik penggalan kehidupan lelaki tua penjual minuman itu, Kang Bejo memahaminya sebagai sebuah kesadaran ruhani yang dalam akan esensi dan ihwal rejeki.
Jangankan di tempat yang masih 'hidup', di tempat kematianpun Allah tidak segan-segan menebarkan rejekinya. Kasih sayang Allah meliputi setiap jengkal alam di jagat semesta ini.
Sambil beranjak menuju pintu keluar tempat pemakaman, Kang Bejo melihat beberapa orang sedang membersihkan rumput liar dan semak yang mengelilingi sebuah pusara. Dari penampilannya, Kang Bejo bisa memastikan bahwa mereka bukanlah kerabat orang yang dikubur di pusara itu. Mereka pastilah sekumpulan 'profesional' yang mendapatkan upah dari kerja mereka membersihkan pusara tersebut. Lagi-lagi, pemandangan ini makin membuat Kang Bejo makin yakin bahwa Allah mennebarkan rejeki bagi umatNya di setiap sudut dunia. Tinggal bagaimana manusia menggapainya.
Tidak sampai disitu saja, Kang Bejo teringat pada orang-orang yang tadi berdoa di samping makam kerabatnya beberapa saat setelah jenazah selesai dimakamkan. Orang-orang itu juga merupakan sekumpulan 'profesional' yang mendapatkan penghasilan dari 'seremoni doa'.
Kang Bejo membayangkan Allah tersenyum melihat para pendoa 'menjual' hak CiptaNya berupa doa tanpa membayar royalty sedikitpun kepada pemilik doa yaitu Allah. Kang Bejo membayangkan Allah bertitah kepada malaikat agar apabila di dalam hati para pendoa itu ada sebersit nawaitu (niat) beramal, maka berilah bonus pahala.
