Thursday, May 14, 2009

Menawar Shalat

Pukul 5 sore Kang Bejo mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dia tidak langsung ke rumah, tapi harus ke kantor dulu. Ada proposal perijinan yang harus dia bahas malam itu. Besuk proposal itu sudah harus diserahkan ke Instansi Pemerintah.

Pukul 10 malam, proposal selesai dikerjakan. Hari itu, badan terasa letih sekali. Kang Bejo hari itu berangkat ke Yogya dengan pesawat pukul 7 pagi. Dari rumahnya ke bandara memerlukan waktu 2 hingga 2.5 jam, sehingga Kang Bejo sudah harus bangun pukul 4 dini hari .

Saat di Yogyakarta, Kang Bejo sudah ditunggu oleh rapat yang cukup melelahkan fisik dan mental. Karena padatnya acara, makan siang sampai terlewatkan. Pukul 3 sore Kang Bejo sudah meluncur ke Bandara Adi Sucipto untuk pulang ke Jakarta. Alhasil, dia tidak sempat istirahat barang sejenak pun.

Dari kantornya, usai menyelesaikan proposal Kang Bejo pulang ke rumah. Tiba di rumah pukul 12.00 karena lalu lintas ternyata padat.

Badan Kang Bejo benar-benar letih, dengan usia yang mendekati kepala lima, stamina Kang Bejo mudah merosot. Mata juga terasa mengantuk sekali. Kang Bejo melepas lelah sejenak di sofa ruang tengah. Dia belum mengerjakan shalat Isya'. Rasanya berat sekai untuk mengerjakannya.

Hatinya berbisik, 'Ya Allah boleh tidak aku tidak mengerjakan shalat Isya'. 'Bukan karena aku membangkang perintahMu Ya Allah, ini semata-mata karena badanku benar-benar tidak berdaya' bisiknya dalam hati. 'Toh, Engkau juga sudah pasti tahu persis bagaimana kondisi badanku' Kang Bejo melanjutkan rajukan kepadaNya.'Masak sih nggak boleh, Ya Allah'. Kang Bejo mencoba terus beragumentasi.

Kang Bejo membiarkan pikirannya menjalar kemana-mana dulu. Kang Bejo banyak menemukan 'pembenaran' terhadap kemalasan mengerjakan shalat. Mulai dari "sesekali kan boleh", "masak sih Allah tidak mengerti kondisi badanya yang amat sangat letih", sampai "Allah kan Maha Penyayang, pasti membolehkan".

Akhirnya, Kang Bejo merasa 'menemukan' jawaban dari Allah. Kang Bejo disadarkan oleh kesadaran bahwa dia sekarang dalam keadaan sehat wal'afiat, hanya saja saat ini badannya benar-benar letih. Letih bukanlah sakit. Masak hanya karena letih terus memalingkannya dari ibadah kepadaNya. Bagaimana nanti kalau tubuhnya sakit. Bagaimana nanti kalau kesehatannya mulai diambil olehNya. Akan makin malas menghadap Dia dengan alasan sakit. Baru segini saja sudah mengajukan keringanan dalam beribadah, yang seberarnya tidak berat-berat amat.

Kang Bejo akhirnya bangkit dari sofa menuju kamar mandi dan mandi air hangat. Betapa siraman air dari shower mampu menyegarkan badan dan kalbu pun mulai tercerahkan.

Tepat lonceng jam berbunyi sekali yang menandakan hari sudah pukul 1 dini hari, Kang Bejo mengucapkan takbirotul ikhram rakaat pertama shalat Isya'.