Monday, January 19, 2009

Tamu Di Kala Maghrib

Hari Ahad menjelang waktu Magrib. Hari sudah mulai gelap karena mendung mulai menutupi langit. Kang Bejo sedang memasukkan beberapa peralatan dapur ke gudang. Gudang terletak di sudut halaman sampingnya. Terdengar suara salam dari arah pintu gerbang. Kang Bejo membalas salam tersebut seraya mengatakan 'tunggu sebentar'.

Kang Bejo membukakan pintu gerbangnya. Di hadapanya berdiri seorang lelaki usia sekitar 35-an mengenakan kaos biru celana panjang coklat. Raut Kang Bejo bingung karena tidak mengenal tamu yang baru datang tersebut. Dugaan Kang Bejo adalah bahwa lelaki tersebut dari tetangga di belakang rumah yang belum lama pindah mau memperkenalkan diri. Atau malah, dia akan mengajukan keluhan terhadap Kang Bejo karena dua hari terakhir ini rumah Kang Bejo ramai karena teman-teman anaknya main hingga dini hari dan lumayan berisik.

Kang Bejo mempersilahkan tamu itu masuk ke rumahnya. Dugaan Kang Bejo meleset jauh sekali. Setelah diamati lebih seksama, raut wajah lelaki itu terlihat kusut dan seperti menahan tangis.

Sambil masih berdiri, lelaki itu mulai membuka pembicaraan dengan menceritakan penderitaannya. Dia mempunyai seorang istri yang sedang mengandung dan hampir melahirkan, sementara untuk persiapan melahirkan sama sekali belum ada. Bahwa dia delapan bulan lalu di PHK sebagai sopir mobil ambulan di RS Ananda dan hingga sekarang belum dapat pekerjaan lagi. Bahwa di sudah berusaha mencari pekerjaan sebagai sopir angkutan kota tapi belum ada lowongan. Bahwa sekeluarga dari tadi pagi belum makan karena sama sekali tidak ada yang dimakan.

Sekilas Kang Bejo berprasangka tidak baik terhadap tamunya. Jaman sekarang banyak 'modus operandi' untuk berbuat kejahatan. Jangan-jangan lelaki ini sedang memasang perangkap agar Kang Bejo bisa diperdaya entah apa. Namun, Kang Bejo akhirnya mengesampingkan prasangka-prasangka buruk tersebut dan mempersilahkan tamunya duduk di kursi di teras rumahnya.

Lelaki tersebut menceritakan kembali kesulitannya dengan lebih lengkap. Lelaki itu minta pekerjaan apa saja kepada Kang Bejo. Derita yang paling puncak adalah bahwa anggota keluarganya sampai menjelang malam belum ada yang makan sama sekali.

Tinggal Kang Bejo yang harus memutuskan uluran tangan apa yang bisa dia berikan. Kalau pekerjaan, sekarang memang belum ada. Bulan depan ada kemungkinan bisa memberikan pekerjaan kepada lelaki tersebut sebagai sopir kantornya. Saat itu, Kang Bejo hanya punya uang beberapa ribu rupiah, belum ambil di ATM. Kalau dikasihkan kurang pantas.

Akhirnya Kang Bejo menawarkan bantuan berupa beras, karena persediaannya masih lumayan banyak, cukup untuk 2 minggu makan keluarga Kang Bejo. Kang Bejo bermaksud memberikan setengahnya. Namun, alangkah kagetnya ketika lelaki tersebut mengatakan kalau bisa yang dapat langsung dimakan, artinya makanan yang sudah matang, tidak usah dimasak dulu. Luar biasa! Betapa penderitaan keluarga lelaki tersebut.

Kang Bejo masuk ke dalam rumah dan membungkuskan nasi yang cukup untuk 5 orang. Di dalam kulkas kebetulan ada 3 potong ayam yang sudah matang, walaupun dalam kondisi dingin. Kang Bejo membungkus 3 potong ayam tersebut.

Dengan diiringi permintaan maaf hanya bisa memberikan bantuan makanan, Kang Bejo menyerahkan bungkusan plastik tas plastik kresek berisi nasi dan 3 potong ayam.

Begitu tamunya hilang dari pandangannya setelah pamit, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah karena Allah meniupkan ruh kerahiman dan kerahmanannya sehingga prasangka baiknya yang mendominasi hatinya. Alangkah berdosanya apabila dia menolak memberikan bantuan. Alangkah kejamnya apabila dia dengan prasangka buruknya menilai lelaki itu akan mengakalinya atau menipunya dengan berpura-pura sangat menderita.

Kang Bejo berdoa semoga lelaki itu 'dibisiki'oleh malaikat agar datang ke rumahnya. Kemudian, malaikat melaporkan kepada Allah bahwa Kang Bejo 'lulus ujian'. Amin.