Pukul 7.30 malam Kang Bejo sudah berada di rumah. Telepon selulernya berdering dari rekannya. Sang rekan menceritakan bahwa besuk dia dan rombongan akan menghadap menteri untuk menyampaikan sebuah proposal. Kang Bejo diminta mendampingi mereka karena materi proposal merupakan kompetensinya Kang Bejo.
Kang Bejo menyanggupinya dengan antusias. Dengan semangat, dia memberikan semacam 'pengarahan' kepada rekannya apa-apa yang mesti disampaikan kepada Menteri agar 'nyambung' dengan isi kepala Pak Menteri sehingga proposalnya diperhatikan.
Dengan tergopoh-gopoh Kang Bejo pergi ke tukang cukur karena merasa rambutnya kurang pantas saat nanti menghadap Pak Menteri. Hujan gerimis tidak menghalanginya untuk berangkat naik motor. Kalau pakai mobil repot parkirnya. Dan lagi dengan mobil waktunya bisa lebih lama sementara tukang cukur sebentar lagi tutup.
Sembari kepala dicukur, Kang Bejo memantas-mantas nanti mau mengenakan baju apa. Pakai baju putih berdasi dibalut dengan jas kasual atau mau pakai baju batik. Kang Bejo memutuskan pakai batik saja. Keputusan ini menimbulkan 'masalah' baru yaitu mau batik yang mana. Kang Bejo punya 5 baju batik.
Setelah urusan baju selesai, masalahnya bergeser ke bagaimana sampai ke kantornya Pak Menteri. Rombongan akan diterima Pak Menteri pukul 10 pagi. Berarti untuk mencapai lokasi harus melewati ruas jalan yang three in one. Cara pertama adalah menghindarinya dengan menempuh jalur alternatif, artinya memerlukan waktu tempuh lebih lama. Jika cara ini dipakai maka Kang Bejo harus berangkat pukul 7 agar aman. Sebelum menghadap Pak Menteri, rombongan akan bertemu untuk menyamakan bahasa.
Cara kedua dengan menggunakan joki. Cara ini akan lebih menyingkat waktu tempuh. Cara ketiga adalah nekad menerobos three in one dengan pertimbangan ruas yang harus diterobos ditengarai aman dari pantauan polisi.
Begitu sibuknya pikirannya Kang Bejo sehingga sudah selesai cukurnya. Di saat kepalanya dipijat oleh tukang cukur, saat itulah pikiran Kang Bejo tersentak oleh bisikan yang cukup menyengat.
Alangkah nikmatnya apabila semangat dan antusiasisme dipanggil suara Adzan untuk melakukan ibadah sholat lebih besar, atau minimal sama dengan panggilan menghadap Pak Menteri ketika dipanggil . Baru ditelepon diajak menghadap Pak Menteri girang bukan main. Sementara, apabila suara adzan berkumandang dia lebih sering menawar untuk mengerjakan nanti.
Alangkah nikmatnya apabila persiapan sholat sama 'hebohnya', atau minimal sama dengan persiapan menghadap Pak Menteri. Selama ini, kalau di rumah, Kang Bejo hanya mengenakan pakaian ala kadarnya ketika sholat. Sering hanya mengenakan kaos oblong. Sementara ketika hanya mau menghadap seorang manusia saja mengenakan baju terbaiknya.
Pertanyaan yang cukup mengerikan terlintas dalam benak Kang Bejo. Apakah dia sudah menomorduakan Allah alias syirik. Kang Bejo hanya mampu melafazkan istighfar dalam hati.
