Monday, January 12, 2009

Parkir Di Tanah Abang

Hari Jumat pukul 10.45 pagi Kang Bejo pergi ke Pasar Tanah Abang dengan mobil. Ketika melewati Jatibeting, baru pukul 11.00. Waktu sholat Jumat masih lama. Dia melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan Tol Jatibening - Cawang. Sesampai di Jl MT Haryono, waktu menunjukkan pukul 11.15. Kang Bejo sudah mau berhenti untuk sholat Jumat di Masjd di jalan tersebut. Namun dia mengurungkan niatkan dengan pertimbangan masih cukup waktu untuk sholat Jumat di sekitar atau menjelang Pasar Abang. Ketika 11.30 memasuki Jalan Mas Mansyur, yaitu jalan dimana Pasar Tanah Abang berada, lalu lintas dalam keadaan padat, bahkan bisa dibilang macet.

Seratus meter sebelum Pasar Tanah Abang, ada sebuah masjid yang lumayan besar. Kang Bejo bermaksud sholat Jumat disitu. Ketika mendekati masjid, lalu lintas makin padat dan hanya bisa bergerak beringsut-ingsut. Beberapa meter menjelang Masjid, banyak kendaraan roda empat parkir sehingga tidak menyisakan ruang untuk Kang Bejo bisa parkir. Pukul 11.55, mobil Kang Bejo tepat di depan Masjid, tetapi tidak bisa parkir karena memang sudah penuh semua.

Sebenarya, ada ruang kosong di depan masjid, yaitu di sebelah gerobak tukang soto, cukup untuk parkir satu mobil. Namun, untuk bisa memasukinya, terhalang oleh mobil patroli yang sedang parkir. Dan lagi, Kang Bejo berada di lajur kanan. Lajur kiri ada mobil yang sama-sama berhenti karena macet. Dengan kondisi seperti itu, mustahil bisa memarkir mobil di ruang kosong tersebut. Kang Bejo sudah tidak berharap bisa jumatan di masjid tersebut. Dia hanya bisa berharap masih sempat jumatan di Pasar Tanah Abang. Di lantai atas, ada masjidnya. Namun harapan itu nampaknya sia-sia, karena lalu lintas hampir tidak bergerak sama sekali.

Ketika adzan berkumandang, mobil Kang Bejo belum juga beringsut dari depan Masjid tersebut, karena macet. Ah, hari ini aku tidak meninggalkan sholat Jumat, kata Kang Bejo dalam hari. Kang Bejo hanya bisa istighfar dengan kelalaiannya ini.

Sesaat lalu lintas akan beringsut, entah dari mana datangnya ada seorang tukang parkir tiba-tiba mengacung-acungkan tangannya kepada Kang Bejo sebagai isyarat apakah Kang Bejo akan parkir di tempat yang kosong tersebut. Kang Bejo menyambut menyambut tawaran tukang parkir tersebut. Luar biasa!. Kang Bejo sebelumnya sama sekali tidak melihat tukang parkir tersebut, dan juga sedang tidak mencarinya, karena kalau ada pun percuma karena posisinya hampir mustahil untuk bisa parkir di tempat itu. Kalau masuk kepala duluan, pasti tidak bisa karena terhalang mobil patroli. Mendorong mobil patroli juga tetap tidak bisa memberikan ruang gerak untuk memarkir dengan kepala duluan. Satu-satunya jalan adalah dengan masuk mundur. Untuk bisa seperti ini, lalu lintas perlu dihentikan secara 'paksa'. Tukang parkir dengan segala 'wewenangnya' menyetop kendaraan di dua lajur agar tidak tidak begerak dulu. Mobil Kang Bejo maju beberapa meter dan masuk ke dengan mundur.

Kang Bejo benar-benar takjub dengan kejadian yang mungkin sangat sepele itu. Namun, dibalik kesepeleannya tersebut, Allah nampaknya mengintervensi proses linear menjadi proses yang berbau langit artinya proses Kang Bejo mendapatkan tempat parkir agar bisa jumatan merupakan proses yang sangat luar biasa, dan mesti disikapi sebagai sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin tukang parkir akan memberikan isyarat kepada Kang Bejo kalau hati atau pikirannya dia tidak digerakkan oleh sebuh bisikan. Tukang parkir tidak sedang dalam posisi menawar-nawarkankan ruang kosong tersebut kepada pengendara mobil yang terjebak macet di depannya. Dia tiba-tiba saja mengacungkan telunjuknya sambil menatap Kang Bejo yang sedang diam di balik kemudi. Kang Bejo pun juga tidak berharap sama sekali bisa jumatan di Masjid tersebut. Mustahil bisa parkir dengan kondisi seperti itu.

Itulah makna kun fa ya kun. Sebuah titah Allah yang mementahkan segala kemustahilan. Sebuah kehendak Allah yang mustahil tidak terlaksana. Apapun kehendakNya, alam semesta (termasuk si tukang parkir) akan tunduk mematuhinya. Tidak ada satupun yang bisa menolaknya.