Restoran Nur Pacific Surabaya, pukul 2 siang.
Hari itu Kang Bejo pergi ke Surabaya untuk urusan bisnis. Berdasarkan perkiraan lamanya urusan, Kang Bejo tidak menginap di Surabaya. Bisa pulang hari itu juga.
Pertemuan bisnis dimulai pukul 10 pagi sampai sekitar pukul 6 sore. Berdasarkan jadwal itu, jadwal penerbangan adalah berangkat pukul 8 pulang pukul 8 malam.
Ternyata urusan selesai lebih cepat yaitu pukul 3 sore. Jangka waktu sampai ke jadwal penerbangan terlalu lama yaitu 5 jam. Sementara, Kang Bejo malas kalau harus jalan-jalan di Surabaya.
Kang Bejo memutuskan untuk ke bandara Juanda dan akan mencari penerbangan yang lebih awal. Kang Bejo berharap tiketnya bisa ditukar.
Sesampainya di bandara Kang Bejo menemui seorang calo tiket untuk menukar penerbangan. Berhasil. Kang Bejo mendapatkan pesawat dari perusahaan penerbangan lain yang akan terbang pada pukul 6 sore. Lumayan mendapatkan keuntungan dua jam lebih cepat dari jadwal semula. Untuk penukaran penerbangan ini Kang Bejo harus merogoh kantong dua ratus lima puluh ribu rupiah.
Ternyata, penerbangan pengganti ini mengalami penundaan selama satu jam. Pukul 7 penumpang boarding. Setelah proses boarding tuntas, ada pengumuman bahwa penerbangan ditunda lagi selama 45 menit. Sehingga, pesawat akan terbang pukul 7.45.
Penundaan masih berlanjut karena selepas pukul 7.30 ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan 3 orang anaknya membatalkan keberangkatannya dan meminta turun dari pesawat. Akibatnya, barang bawaan keluarga tersebut yang sudah terlanjur dimuat di bagasi pesawat harus diturunkan. Ini bukan bukan pekerjaan sebentar karena harus membongkar kargo pesawat.
Alhasil, pesawat mulai menuju landas pacu pada pukul 7.55, hanya selisih lima menit dengan jadwal penerbangan Kang Bejo semula.
Di dalam pesawat, Kang Bejo hanya bisa tersenyum kecut dalam hati. Ah, betapa lemahnya manusia ketika harus berkalkulasi soal kepastian. Tidak usah bicara dalam ukuran tahun, bulan atau hari, bicara dalam ukuran jam pun manusia sama sekali tidak berkutik.
Bahkan dalam ukuran detik pun, manusia tidak punya kuasa sama sekali untuk memastikan apa yang bakal terjadi sedetik kemudian. Sama sekali tidak.
Sambil merapal doa saat pesawat sedang melaju di landas pacu untuk take off, Kang Bejo hanya berucap hanya Engkau Maha Pasti, Engkau tidak akan pernah meleset sepersekian trilyun detik pun. La haula wala kuata illahil'adzim.
