Selasa malam di Yogyakarta. Empat hari ke depan Kang Bejo akan menghadiri acara Musyawarah Nasional organisasi yang diikutinya. Acara akan dilangsungkan di Hotel Melia Purosani dan dimulai esok harinya.
Kang Bejo bermalam di hotel itu juga. Malam itu, dia tidak punya acara dan tidak bermaksud kemana-mana. Kang Bejo ingin istirahat saja di hotel.
Pukul 11-an telepon genggam Kang Bejo berdering. Teman seorgansasinya, yang menjadi peserta Munas dan bermalam di hotel itu juga, menelpon. Agak sedikit malas, Kang Bejo menjawab panggilan telepon tersebut. Ternyata sang teman mengajak nyari makanan di sekitar hotel.
Sambil jalan kaki berdua, mereka memutuskan untuk mencari bakmi godhog atau bakmi rebus. Beberapa saat berjalan di Jalan Sugiyono sekitar 100 meter dari hotel ditemukanlah warung bakmi Pak Teja. Mereka sepakat untuk makan disitu.
Pelayan warung menanyakan apakah ayam atau daging. Kang Bejo memilih ayam. Temannya memilih daging. Namun, samar-samar Kang Bejo mendengar temannya sepertinya mengucapkan kata 'pake babi'. Kang Bejo tidak menelisik lebih jauh ucapan itu. Kang Bejo tidak menganggapnya serius.
Warung itu berupa warung tenda yang menempel di toko yang sudah tutup. Lokasi warung di pinggir jalan besar yang bising dan hiruk pikuk oleh kendaraan. Sehingga tidak jarang, percakapan terganggu oleh suara yang memekakkan telinga. Yaitu manakala ada kendaraan, terutama motor, yang knalpotnya "dibobok".
Sambil menunggu masakan diproses, Kang Bejo sempat bertanya-tanya dalam hati ucapan temannya tadi kepada pelayan warung. Pakai babi? Ah masak sih. Sambil makan pun Kang Bejo masih belum menemukan jawaban akan arti ucapan temannya yang samar-samar terdengar seperi ucapan 'pake babi'.
Selesai makan, Kang Bejo memutar wajahkan ke belakang ke arah tembok toko. Disitulah rupanya jawaban keraguan akan arti ucapan temannya tadi tertulis dengan gamblang. Dalam spanduk sepanjang 3 meter berlatar belakang warna hitam tertulis dengan huruf besar jawaban tersebut.
Disitu terpampang di baris pertama dengan tulisan putih 'Bakmi Pak Teja, Goreng dan Rebus'. Tulisan di baris kedua inilah yang membuat Kang Bejo kaget setengah mati. Disitu tertulis 'Ayam, Babi'
Kang Bejo tidak tahu harus bagaimana. Sebagai seorang muslim, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memakan makanan yang diharamkan.
Malam itu, Kang Bejo benar-benar masgul dengan kejadian tersebut. Dia hanya bisa merenung dan menyesali mengapa tidak menangkap isyarat yang terselip dalam ucapan temannya tadi. Mengapa dia acuh terhadap isyarat yang apabila ditelisik lebih jauh akan dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah.
'Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosa dan kelalaian ini. Amin.' Doa Kang Bejo dalam hati.
