Suatu malam di beranda samping.
Kang Bejo sedang sendirian. Dia sedang mengecek email-email yang masuk melalui perangkat Personal Data Assistance (PDA) jenis Blackberry.
Perangkat ini dilengkapi dengan fitur untuk melakukan chatting antar sesama pengguna Blackberry melalui jalur Internet. Agar dapat saling chatting, seseorang harus mengundang orang lain dan orang lain itu harus menyetujui undangan tersebut.
Ketika sedang berkutat dengan Blackberrynya, tiba-tiba indikator chattingnya menyala. Ini pertanda ada panggilan masuk. Kang Bejo mengecek panggilan tersebut.
Ternyata panggilan itu adalah permintaan atau undangan dari seseorang yang ditujukan kepada Kang Bejo agar menjadi teman chattingannya. Tetapi, Kang Bejo tidak serta memenuhi permintaannya. Persoalannya adalah yang mengundang menggunakan nama wanita yang tidak dikenalnya.
Pertimbangan Kang Bejo untuk tidak langsung memenuhi permintaan tersebut adalah tidak ingin memulai sesuatu yang berpotensi meracuni hatinya.
Racun yang ditakutinya adalah kalau benar yang mengundang itu seorang wanita dan tidak dikenalnya, maka itu membuka kotak pandora perselingkuhan.
Skenario imajiner bisa seperti berikut ini. Awalnya hanya sekedar bertegur sapa. Berlanjut ke kisah masing-masing kehidupan. Kisah-kisah inipun bisa sampai ke yang sifatnya pribadi. Dilanjutkan dengan saling curhat. Selanjutnya, pertemuan secara fisik pun tinggal selangkah.
Kang Bejo sangat takut akan skenario imajiner yang menari-nari dalam benak Kang Bejo.
Namun, ada sisi lain di hati Kang Bejo menyanggah kekhawatiran bahwa memenuhi undangan itu akan berujung pada perselingkuhan. Bisa jadi ini bisa menjadi titik awal dari suatu bisnis. Apa salahnya sih mengobrol dengan wanita. Apa salahnya berkomunikasi dengan wanita, selama komitmen dengan pasangan tidak luntur.
Satu jam berlalu sejak undangan itu muncul di Blackberry Kang Bejo. Satu jam itu pula Kang Bejo menghentikan kegiatan mengecek emailnya. Kang Bejo memikirkan undangan tersebut dan belum memutuskan apakah menerima atau menolaknya.
Ada satu argumen yang berpihak pada penolakan undangan itu, yaitu bahwa apabila sekali memulai akan sulit menghentikannya.
Argumen lain yang muncul adalah bahwa permintaan itu berasal dari seseorang yang tidak dikenal. Sebuah jebakan psikilogis yang memerangkap dialektika perselingkuhan dan komitmen.
Ada satu hal yang nyata-nyata terasa sudah merasuki pikiran Kang Bejo. Undangan seseorang itu telah menyita waktu, pikiran dan hati Kang Bejo selama satu jam penuh. Ini baru memikirkan apakah akan memenuhi atau menolaknya.
Baru berupa undangan saja sudah menguras sumberdaya ruhani Kang Bejo. Apalagi kalau nantinya jadi berinteraksi. Apakah tidak akan menggerus sumberdaya batiniahnya.
