Friday, July 08, 2005

Jumat Gerimis

Pagi itu cuaca sudah mulai mendung, meskipun tipis. Pukul 11.30, dia bersiap-siap untuk pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Jarak masjid hanya sekitar 300 meter. Pukul 11.45, dia sudah melangkah ke halaman rumah. Rintik-rintik hujan menyambutnya. Dia ragu-ragu meneruskan langkahnya. Terjadi perang batin, antara berangkat dan tidak. Bisikan untuk tidak berangkat didasari pikiran bahwa ada halangan hujan. Manfaatkan saja dispensasi Allah bahwa kalau ada halangan diperbolehkan tidak ke masjid untuk shalat Jumat. Di sudut lain dalam hatinya, dia berharap hujan makin deras, sehingga ketidakberangkatannya mendapatkan pembenaran. Hingga pukul 11.50 dia masih duduk di kursi ruang tamu. Ragu-ragu.

Alhamdulilillah, Allah senantiasa menebarkan hidayah kepada hamba-hambaNya. Di kala keraguan itu mengusik dan menghimpit, Allah meniupkan semangat kepadanya agar berangkat ke masjid. Berangkatlah dia.

Sepulang dari masjid, syukur yang tidak terhingga dia panjatkan kepada Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Hanya dengan kuasa Allah-lah dia mampu mengalahkan godaan untuk tidak berangkat ke masjid.

Sore itu, dia ada janji akan ketemu orang untuk urusan bisnis. Untuk menemui orang itu, dia harus naik kendaraan umum dan berganti sebanyak empat kali (becak-mikrolet-koasi-bis). Waktu tempuhnya 2 jam lebih. Dia waktu itu sedang dalam masa-masa sulit. Kendaraan pribadinya terpaksa dijual untuk membiayai usahanya. Sehingga, naik kendaraan umum itu bukan hal yang biasa. Namun, kondisi memaksa dia untuk mengalami ketidaknyamanan. Sesuatu yang selama ini dia nikmati. Betapapun susahnya, dia akan menepati janjinya untuk menemui orang itu. Hujan dan harus naik kendaraaan umum akan dia jalani. Karena, ini menyangkut kelangsungan dan keberhasilan usaha yang sedang dirintisnya. Apabila hari itu dia batal menemui orang itu, akan sulit sekali mengatur pertemuan pengganti. Orang itu teramat sibuk. Janji hari ini sudah diatur dua minggu yang lalu.

Betapa menyesalnya dia apabila dia tidak berangkat ke masjid. Mengapa? Untuk menemui manusia dia rela berjuang keras, naik kendaraan umum dalam kondisi hujan. Sementara, untuk menemui Allah dia malas. Padahal, hanya berjalan kaki selama lima menit. Seandaianya hal itu terjadi, dia telah menomorduakan Allah. Syirik.