Thursday, July 14, 2005

Pertolongan Allah Tak Terduga (2)

Jumat siang itu, dia terduduk lesu di sofa di ruang keluarga. Dia sendirian di rumah. Anak-anaknya belum pulang dari sekolah. Istrinya ada keperluan ke rumah kakaknya. Hari itu, dia memerlukan sejumlah uang untuk membayar beberapa kewajibannya yang tidak bisa ditunda. Dia sedang tidak mempunyai dana tunai. Dia juga tidak mempunyai aset yang bisa dikonversi menjadi dana tunai hari itu.

Yang terpikirkan olehnya adalah menghubungi teman dekatnya untuk meminjam uang. Dia yakin temannya bisa membantunya, karena termasuk kaya. Namun, ternyata temannya sedang mengunjungi orang tuanya yang tinggal di desa di Yogyakarta. Desa itu belum terjangkau sarana telepon (kabel dan seluler). Dia pergi sampai hari Senin. Wah, gawat. Dua hari kedepan (Sabtu dan Minggu) adalah hari libur, sulit sekali bisa mendapatkan pinjaman. Padahal, hari itu atau paling lambat besuk dia mempunyai kewajiban finansial yang tidak bisa ditunda.

Sambil terduduk lemas di sofa, dia menenangkan diri sambil bertawakal kepada Allah. Dia melafazkan dzikir hasbunallahu wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi penolongku) berkali-kali. Tak terasa air matanya menetes.

Beberapa saat kemudian, dia mengambil telepon genggamnya dan mulai menuliskan SMS ke teman dekatnya tersebut. Dia sangat pesimis SMS-nya akan terbaca oleh temannya. Bismillahirahmanir rahim, dia memencet tombol send. Kebetulan, telepon selulernya tidak punya fasilitas untuk mengetahui apakah SMS-nya sudah sampai atau belum. Tiga puluh menit berlalu tanpa ada respon dari temannya. Makin lemaslah dia.

Allahu Akbar! lima menit kemudian, telepon genggamnya berbunyi menandakan ada SMS yang masuk. Ternyata balasan dari SMS yang dikirim tadi. Pesannya sangat singkat: “hubungi sekretarisku”. Alhamdulillah, Allah mengulurkan tangannya memberikan pertolongan