Wednesday, July 06, 2005

Semut (1)

Setiap pagi, dia memberi makan 2 ekor kucingnya. Makanannya adalah nasi yang dicampur dengan ikan. Tempat pengadonannya adalah mangkok melamik. Makanan akan ditaruh di bawah pohon di halaman samping rumahnya. Mangkok itu akan tetap berada disitu hingga waktu makan keesokan harinya. Tidak setiap hari mangkok itu dicuci, karena biasanya tidak ada sisa makanan, paling-paling yang masih lengket di mangkok. Itupun, sudah dalam keadaan kering.

Pagi itu, dia mengambil mangkok untuk mengaduk makanan kucing. Tanpa disadarinya, di dalam mangkok ada banyak semut dari jenis yang kecil. Sepersekian detik sebelum dia menuangkan nasi ke dalam mangkok, dia baru melihat semut-semut tersebut. Tapi sudah terlambat. Nasi sudah terlanjur dituangkan ke dalam mangkok. Tertimbunlah semut-semut itu dengan nasi.

Alhandulillah, dia tidak melanjutkan pengadonan nasi itu. Terlintas dalam pikirannya, betapa sadisnya kalau semut-semut tadi ikut diaduk dengan nasi dan ikan. Kemungkinan hidupnya kecil. Sejurus kemudian, dia membuang nasi itu ke bak sampah dengan harapan semut-semut tadi tetap hidup. Setelah pasti mangkok itu bebas dari semut , dia mengambil lagi nasi untuk diaduk dengan ikan.