Thursday, July 07, 2005

Kucing (1)

Sehabis sholat Isya’, dia mendengar sayup-sayup suara anak-anak kucing. Dia membuka pintu samping untuk mengetahui sebenarnya suara apa. Ternyata, memang suara tiga ekor anak kucing, kira-kira baru berumur satu bulan. Sepertinya, kucing-kucing kecil itu di buang oleh pemiliknya, dan dimasukkan ke halaman rumahnya. Suaranya terdengar seperti menangis. Tanpa induk yang melindungi dan menyusuinya, mereka tidak punya daya sama sekali menghadapi dunia ini. Mereka belum saatnya untuk disapih (mandiri).

Terlintas dalam benaknya untuk membuang kembali anak-anak kucing itu. Pertimbangannya, dia sudah punya dua ekor kucing yang harus diberi makan setiap hari. Kedua, akan sangat merepotkan sekali memelihara anak kucing yang masih menyusu, belum bisa makan sendiri. Dan lagi, sudah ada kesepakatan dengan sang istri untuk tidak menambah lagi kucing di rumahnya.

Tapi Allah Maha Rahman dan Maha Rahim. Laki-laki itu tidak dibiarkanNya untuk melaksanakan niatnya untuk membuang kucing-kucing kecil itu. Dengan membulatkan niat, dia mencari kardus bekas dan memasukkan beberapa kain bekas sebagai alas di dalamnya. Diangkatnya kucing-kucing kecil itu dan ditaruh ke dalam kardus. Dia lalu ke dapur membuatkan susu, dan mencoba “menyusuinya” dengan cara mencelupkan cotton bud ke dalam susu dan mengangsongkannya ke mulut kucing.